Breaking News:

Salam

AS Pergi, Sisakan Perang Saudara?

Taliban mengumumkan kemerdekaan penuh atas perebutan kekuasaan di Afghanistan, menyusul diakhirinya operasi militer Amerika Serikat

Editor: bakri
AFP/Jonathan Gifford/Kementerian Pertahanan
Pasukan Inggris menaiki penerbangan terakhir dari Kabul, Afghanistan pada Sabtu (28/8/2021 

Taliban mengumumkan kemerdekaan penuh atas perebutan kekuasaan di Afghanistan, menyusul diakhirinya operasi militer Amerika Serikat (AS). Pasukan terakhir Negeri Paman Sam meninggalkan negara tersebut pada Senin (30/8/2021) pukul 23.59 tengah malam waktu setempat, atau sehari menjelang deadline. Namun, kepergian tentara AS masih menyisakan perang saudara. Pada saat tentara AS meninggalkan Kabul, pasukan Taliban sedang bentrok dengan pejuang milisi di lembah Panjshir, di utara Kabul. “Tujuh Taliban tewas dalam pertempuran tersebut,”kata perwakilan kelompok oposisi utama anti-Taliban.

Namun, pihak Taliban membantah isu bentrokan yang menwaskan tujuh tentaranya. “Tidak ada pertempuran yang terjadi, tapi.. pejuang Taliban maju dari berbagai arah tanpa menghadapi perlawanan apapun. Pasukan Taliban telah memasuki Panjshir dari arah yang berbeda,” kata Anaamullah Samangani, anggota Komisi Kebudayaan Taliban.

Seolah tak menggubris isu bentrokan itu, Juru Bicara Taliban, Zibullah Mujahid, di Kabul justru mengumumkan kemerdekaan penuh. “Tentara Amerika meninggalkan bandara Kabul dan bangsa kita mendapatkan kemerdekaan penuh. Afghanistan adalah negara yang bebas dan berdaulat. Kami tidak memiliki keraguan bahwa Imarah Islam Afghanistan adalah negara yang bebas dan berdaulat," katanya.

Setelah keluarnya pasukan AS, Taliban ingin memiliki hubungan baik dengan negara-negara lain di seluruh dunia. Taliban juga berjanji kepada warga Afghanistan bahwa mereka akan melindungi kebebasan, kemerdekaan, dan nilai-nilai Islam.

AS sebelumnya mengonfirmasi bahwa pasukan terakhirnya keluar menjelang batas waktu pada Selasa (31/8/2021). Penarikan pasukan AS sekaligus mengakhiri perang terpanjang Amerika Serikat dan evakuasi selama dua minggu sebelumnya. Kepala Komando Pusat AS, Jenderal Marinir Frank McKenzie dalam konferensi pers Senin (30/8/2021) memberikan pengumuman, setelah pasukan terakhir yang dikirim untuk evakuasi sudah keluar dari Kabul.

Lantas yang menjadi pertanyaan bagaimana kelak kehidupan di Afghanistan? Apakah Taliban akan menerapkan pola konservatif seperti dulu? Ada sejumlah pengamat internasional yang mengatakan bahwa bisa saja peramg saudara masih berlanjut. “Pertempuran saudara akan menjadi sangat panjang jika tak ada proses negosiasi di antara kedua belah pihak.”

Dan, gelombang pengungsi masih akan mengalir ke negara-negara tetangga. Ekonomi masyarakat yang terpuruk belum akan segara bangkit, mengingat infrastruktur sudah banyak yang hancur akibat perang.

Memang masih banyak isu yang perlu dibicarakan dalam proses transisi ini. Namun hal utama yang mesti disepakati bersama adalah bagaimana mekanisme kebernegaraan. Selama ini isu soal landasan bernegara menjadi titik krusial yang terus diperdebatkan.

Taliban ingin menjalankan 'sistem pemerintahan Islam murni' versi mereka. Namun kalangan moderat khawatir sistem yang ingin dibangun Taliban hanya akan menyudutkan persamaan hak terutama terkait hak perempuan seperti di bidang pendidikan.

Saat ini, Taliban dikabarkan masih harus “menjinakkan” kelompok oposisi utama anti-Taliban, yang biasa disebut sebagai pasukan Masoud yang masih menguasai lembah Panjshir, di utara Kabul.  Ada pula pertempuran antara Taliban dengan milisi lokal di Provinsi Baghlan artinya fakta-fakta adanya perang belum bisa diabaikan. Dan, ini pula yang menjadi salah satu pemivu terus meningkatnya gelombang eksodus warga Afghanistan ke luar negeri.

Amerika Serikat sendiri belum sepenuhnya “melupakan: Afghanistan. Mereka bahkan telah memindahkan perwakilan diplomatiknya di Afghanistan ke Qatar untuk melakukan operasinya di sana. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan, AS akan terus berupaya membantu orang meninggalkan Afghanistan, bahkan setelah pasukan AS telah ditarik keluar. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved