Breaking News:

Berita Aceh Tengah

Wakil Ketua DPRK: Aceh Tengah Jaga Keseimbangan Produksi Pertanian, Termasuk Peta Komoditi

Tidak semua petani menanam satu jenis tanaman dalam waktu bersamaan, sehingga sering membuat harga anjlok.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Taufik Hidayat
For Serambinews.com
Podcast Legislatif yang ditayangkan Serambinews dan jaringan sosial media Serambi Grup, Jumat (3/9/2021). 

Laporan Fikar W Eda | Aceh Tengah

SERAMBINEWS.COM, TAKENGON - Pemerintah harus menjaga keseimbangan produksi pertanian di Aceh Tengah. Dibikin peta,  daerah-daerah yang menjadi areal sayur mayur, buah buahan dan sebagainya.

Sehingga tidak semua petani menanam satu jenis tanaman dalam waktu bersamaan yang seringkali membuat harga anjlok.

Ini disarankan Wakil Ketua DPRK Aceh Tengah Edi Kurniawan dalam "podcast legislatif" yang ditayangkan Serambinews dan jaringan sosial media Serambi Grup, Jumat (3/9/2021).

"Saya kira perangkat pemerintah harus jeli mengamati soal anjloknya harga saat panen. Pemerintah punya perangkat dan harus difungsikan dengan baik. Ada bidang pertanian, ada perdagangan, ada industri ada pariwisata dan sebagainya. Mereka harus selalu berdiskusi soal kebutuhan-kebutuhan baik produksi maupun pasokan. Apabaila terjadi  kasus seperti itu, harus cepat tanggap dan dicarikan solusinya. Begitu juga dengan modal petani, juga harus dipikirkan, sehingga petani tidak terjerat pada praktek tengkulak atau “ringit berujung," ujarnya.

Dialog podcast membahas tentang "Geliat Pertanian, Kopi Gayo dan Pariwisata." Menurut Edi Kurniawan, seiring dengan bertambahnya populasi manusia, maka produksi pertanian harus ditingkatkan.

"Kebutuhan akan buah dan sayur terus meningkat baik di dalam maupun luar daerah. Secara sederhana saja, Aceh Tengah ini adalah daerah tujuan wisata. Setiap akhir pekan, di masa sebelum pandemi Covid-19, Aceh Tengah dipadati oleh para pelancong. Mereka tentu butuh makan, minum, buah-buahan dan sebagainya. Mereka menginap di hotel, di homestay dan sebagainya. Sudah pasti membutuhkan pasokan  sayur, buah, beras dan sebagainya. Ini berimbas kepada petani. Mereka harus menyediakan seluruh kebutuhan tersebut. Jadi kedatangan para pelancong ke tanah Gayo membuat taruk jepang laku, terong agur laku, pokat laku, cabe laku, asam kuyun, asam jantar dan semuanya pasti dibutuhkan," ujarnya.

Baca juga: Otak Penyandang Dana KKB di Yahukimo Papua Ditangkap, 3 Pucuk Senpi yang Dikubur Dalam Tanah Disita

Baca juga: Terungkap Alasan Coki Pardede Suntikan Narkoba Jenis Sabu Lewat Anus, Efek Rangsangan Lebih Cepat

Baca juga: Terungkap Alasan Coki Pardede Suntikan Narkoba Jenis Sabu Lewat Anus, Efek Rangsangan Lebih Cepat

Menurutnya, alam Gayo yang subur adalah tempat tumbuh bagi tanaman-tanaman itu semua. Tinggal bagaimana semua tanaman ini diolah dengan baik. Kualitas produksi. Pemasarannya dilihat dan sebagainya.

Ia juga optimis bahwa kehidupan petani akan jauh lebih menjanjikan, karena tidak semua harus masuk pegawai pemerintahan.

"Kalau jadi pegawai negeri,  berapa banyak yang diterima setiap tahun? Sangat terbatas. Tapi sebagai petani, tentu tidak ada batasnya. Kalau areal pertanian ini ditinggalkan, maka kebutuhan akan masuk dari luar daerah. Sekarang, lihat saja di pasar, jeruk, pepaya, pisang dan aneka buha-buahan lainnya datang dari luar daerah. Padahal di tempat kita juga tumbuh. Tapi kenapa harus dipasok dari luar? Ini kan sangat kita sayangkan. Ke depan kita tentu harus bangkit dan hasil pertanian dari tanah Gayolah yang akan memenuhi pasar-pasar di luar daerah," sebutnya.

Baca juga: Peserta P3K Aceh Jaya Wajib Baca, Berikut Lokasi dan Jadwal Seleksi

Baca juga: INFORMASI BARU! Ujian SKD CPNS Kemenkumham Dimulai 20 September, Ini Kabar Resminya

Saat ini saja lanjut Edi Kurniawan, buah alpukat, terong agur atau di luar disebut terong belanda itu dipasok dari Gayo.

"Tapi tentu tidak cukup begitu. Harus ada budidaya yang menghasilkan produksi berkualitas. Pemerintah melalui dinas pertanian harus berperan aktif soal ini. Begitu juga dengan dinas-dinas terkait lainnya. Harus saling sinergi. Sekali lagi pemerintah punya semua perangkat untuk itu. Tinggal kita dorong bersama-sama," ujarnya.

Secara khusus ia minta Pemerintah pusat mendorong pembangunan pertanian di daerah seperti Aceh Tengah. "Salah satu keluhan petani kita adalah soal pupuk. Ini harus dicarikan solusinya. Kalau bibit, tidak banyak keluhan. Tapi pupuk, ini persoalan petani kita di sini," lanjut Edi Kurniawan.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved