Breaking News:

Salam

Jangan Abaikan Anak Yatim Saat Pandemi

Menteri Sosial (Mensos) RI, Tri Rismaharini, memberi motivasi dan semangat kepada anak yatim piatu yang selama ini tinggal di sebuah Loka Rehabilitasi

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM / SUBUR DANI
Menteri Sosial Tri Rismaharini menyerahkan bantuan simpanan belajar kepad anak yatim piatu di Komplek Lrsampk Darussa'dah di kawasan Lampeneurut, Aceh Besar, Kamis (2/9/2021). 

Menteri Sosial (Mensos) RI, Tri Rismaharini, memberi motivasi dan semangat kepada anak yatim piatu yang selama ini tinggal di sebuah Loka Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (LRSAMPK) kawasan Aceh Besar. Mensos meminta anak-anak yatim piatu dan penyandang disabilitas tidak perlu dan jangan pernah minder atau malu.

"Mulai sekarang, kalian harus berani menatap masa depan kalian. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, semua mungkin. Tinggal kalian mau apa tidak. Pemerintah sudah berikan kepada kalian, kalian bisa sekolah. Jadi, tidak ada alasan tidak sekolah," katanya dua hari lalu.

Risma mengungkapkan, semua orang berpeluang menjadi apapun asalkan dengan sungguh-sungguh. "Mau jadi apa tetap bisa jika bersungguh-sungguh. Pasti Allah akan mengabulkan karena kalian disayang sama Allah. Kenapa saya berjuang untuk kalian, karena kalian kesayangan Allah. Maka ibu-ibu harus berjuang. Mulai sekarang tidak boleh ada rasa takut."

Ya, negara kita memang berkewajiban menghiraukan anak yatim dan fakir miskin. Sebab, menjadi yatim tentu bukan pilihan, tapi itu adalah takdir. Menjadi yatim juga bisa terjadi dalam berbagai situasi atau sebab. Di Aceh misalnya, ketika gempa dahsyat dan tsunami melanda daerah ini pada akhir 2004, ada beribu-ribu anak yang menjadi yatim. Begitu pun ketika Aceh berada dalam konflik selama puluhan tahun, juga ada beribu anak yang menjadi yatim.

Dan, ketika Corona menyerang dunia selama hampir dua tahun terakhir, di Indonesia sekurangnya ada 13.500 anak yang menjadi yatim. Anak-anak yang menjadi yatim piatu itu masih sangat membutuhkan peran perlindungan, finansial, dan kasih sayang orang tuanya. Dan, pemerintahlah yang kini harus meberikan “kasih sayang” kepada mereka.

Selain upaya pendataan dan respon kasus bagi anak-anak yang kehilangan orangtua karena Covid-19, Kementerian Sosial juga diharapkan secara langsung dan berkelanjutan memenuhi kebutuhan dasar anak seperti bantuan obat-obatan, vitamin, tes swab/PCR, vaksinasi dan kebutuhan dasar anak lainnya, termasuk memberikan konseling kepada anak-anak dan keluarganya.

Sesungguhnya, kita sangat mengapresiasi perhatian pemerintah kepada aanak yatim dan fakir miskin melalui berbagai terbosan selama ini. Misalnya, guna mencegah anak kehilangan hak pengasuhannya, Kementerian Sosial berusaha mereunifikasi anak dengan keluarga besarnya, memfasilitasi pengasuhan alternatif melalui pengasuhan oleh orang tua asuh/wali/pengangkatan anak dan pengasuhan anak melalui panti-panti.

Kita ingin mengingatkan bahwa kondisi setiap anak yatim, piatu, dan yatim piatu akibat pandemi ini tentu berbeda-beda. Karenanya, pemerintah harus mendata setiap anak. Apakah mereka masih memiliki keluarga inti sampai derajat ketiga, apakah keluarganya memiliki penghasilan tetap atau justru kehilangan sumber pemasukan karena pandemi Covid-19. Tentu pendataan ini harus melibatkan masyarakat terdekat. Berdasarkan data itulah, penanganan bisa segera dilakukan secara tepat dan efektif.

Intinya, tak boleh ada satu anak terdampak pandemi yang hidupnya telantar akibat kehilangan ayah, ibu, ataupun keduanya. Pengasuhan anak memang diutamakan kepada keluarga terdekatnya. Sedangkan, pengasuhan pada panti asuhan atau lembaga lainnya harus menjadi pilihan terakhir, apalagi di tengah pandemi Covid-19 seperti ini.

Perlindungan terhadap anak, terutama yang kehilangan ayah dan ibunya akibat pandemi, harus benar-benar bersifat jangka panjang. Pemerintah harus memperhatikan nasib pendidikan mereka. Jangan sampai penanganan terhadap anak-anak yatim akibat pandemi ini sekadar memenuhi kebutuhan pokok untuk sementara. Negara harus benar-benar menjalankan amanat konstitusi.

Memelihara dan melindungi anak yatim, piatu, dan yatim piatu yang sangat terdampak akibat Covid-19 tentu bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Lembaga nonpemerintah pun bisa menjalankan perannya untuk memelihara dan melindungi anak-anak yang tak beruntung itu dengan program yang jelas. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved