Breaking News:

Jurnalisme Warga

Kowas-LSG dan Gerakan Antipolitik Uang

TOKOH masyarakat Aceh Singkil, baik yang berdomisili di Aceh Singkil maupun di perantauan, pada 15 Desember 2020 secara de jure

Editor: bakri
Kowas-LSG dan Gerakan Antipolitik Uang
IST
SADRI ONDANG JAYA, Sekretaris Komunitas Warga Aceh Singkil Lintas Sektor dan Generasi (Kowas-LSG), melaporkan dari Singkil

OLEH SADRI ONDANG JAYA, Sekretaris Komunitas Warga Aceh Singkil Lintas Sektor dan Generasi (Kowas-LSG), melaporkan dari Singkil

TOKOH masyarakat Aceh Singkil, baik yang berdomisili di Aceh Singkil maupun di perantauan, pada 15 Desember 2020 secara de jure mendirikan yayasan Komunitas Warga Aceh Singkil Lintas Sektor dan Generasi, disingkat Kowas- LSG. Tiga bulan berikutnya, tepatnya pada 27 Maret 2021, tokoh masyarakat tadi mendeklarasikan pendirian Kowas- LSG tersebut di Gedung Pemuda Pasar (PPS) Singkil. Sejak deklarasi, secara de facto resmilah Kowas-LSG berkiprah dalam masyarakat.

Tak tanggung-tanggung, pendiri, pembina, dan pengurus Kowas-LSG ini, adalah elite Aceh Singkil yang bonafid dan hebat. Sebut saja di antaranya, Fadjri Alihar, Damanhuri Basyir, Ismail Saleh, Amiruddin Usman, Azman Yunus, Elmi Baharuddin, Sukhyar Ahmad Fahmi, Yarmen Dinamika, Nur Tasnim, Abdul Wahab, dan Syahyuril. Tak ketinggalan pula, M Jahrir, Ustaz H Ansyufri Idrus Sambo, Roesman Hasjmy, Asmardin, Chairil, Syamsul Bahri, Mulyani Najmi, Farida Hanum, Aliamin, Syuhaimi, Ahyan Tito, Rustam Hast, serta sejumlah nama beken lainnya. Para “dedengkot” Kowas-LSG itu, ada yang berdomisili di Jakarta, Medan, Banda Aceh, dan kota besar lain di Indonesia. Termasuk di Kota Subulussalam dan Aceh Singkil, tempat Kowas- LSG sekarang berkedudukan.

Organisasi masyarakat nirlaba ini, sebagaimana termaktub dalam aktanya, merupakan wadah gerakan sosial dan moral warga Aceh Singkil. Kowas-LSG didirikan karena ingin bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah dan elemen masyarakat Aceh Singkil. Terutama dalam peningkatan sumber daya manusia.

Kemudian, ingin berpartisipasi mengawal proses dan memecahkan masalah pembangunan jika terjadi. Kowas-LSG sadar, membangun Aceh Singkil supaya lebih maju, adil, sejahtera, dan bermartabat, tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri oleh pemerintah. Perjuangan bersama pemerintah dan elemen masyarakat itu, dilakukan Kowas-LSG, melalui kemitraan, gerakan edukasi, dakwah, advokasi, pengawasan sosial kemasyarakatan, politik moral, aksi dialogis, dan persuasif. Kowas-LSG bukanlah gerakan politik praktis.

Apalagi oposisi pemerintah. Kowas- LSG hanya ingin mengedukasi politik moral dan bersyariat dalam masyarakat. Jika pun nanti Kowas-LSG mengkritik, ala politisi, itu pastilah kritik konstruktif dan memberikan solusi. Antipolitik uang Sesuai dengan situasi dan perkembangan kekinian, salah satu program kerja Kowas- LSG adalah menggagas dan menggerakkan pemilihan (pemilu) yang bersyariat.

Terutama, tidak melakukan politik uang atau praktik money politics. Baik itu di level bawah maupun atas, termasuk pemilihan keuchik. Mengapa antipolitik uang ini diusung dan digerakkan Kowas-LSG?

Sebab, belakangan ini, khususnya di Aceh Singkil, money politics sudah merajalela. Malah, sudah menjadi fenomena masyarakat di daerah berjuluk Nagari Syekh Abdurrauf ini. Setiap ada pemilihan pemimpin, praktik politik uang tak bisa dihindarkan dan dilakukan dengan terang benderang.

Para kandidat atau calon pemimpin berlombalomba membeli suara dengan menyuap pemilih. Anehnya, praktik ini dilakukan juga dalam pemilihan pemimpin organisasi berlatar agama dan adat budaya. Setiap ada pemilihan atau penggantian pengurus misalnya, kandidat bukan fokus pada bagaimana dan apa program kerjanya, melaonkan lebih fokus pada transaksi jual beli suara.

Akhirnya, muncul sinyalemen, “Lebih baik menang curang daripada kalah terhormat.” Ironis! Menyedihkan! Politik uang dilakukan dengan semangat, riang gembira, tanpa kaku, tanpa malu. Jika fenomena ini terus berlanjut dan dilegitimasi, maka akan menimbulkan dampak negatif. Baik bagi pemimpin terpilih, daerah, maupun masyarakat yang memilih. Memengaruhi massa dengan imbalan materi dalam memilih pemimpin, jelas merupakan praktik suap alias sogok.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved