Breaking News:

Opini

Quo Vadis Kompetisi Sains Madrasah?

Kompetisi ini memperlombakan enam cabang mata pelajaran yang diuji, yaitu Biologi, Kimia, Fisika, Matematika, Ekonomi, dan Geografi

Editor: bakri
Quo Vadis Kompetisi Sains Madrasah?
IST
Syamsul Bahri, MA, Guru MAN 2 Banda Aceh dan Peneliti di LSAMA Aceh

Oleh Syamsul Bahri, MA, Guru MAN 2 Banda Aceh dan Peneliti di LSAMA Aceh

Ada satu ajang kompetisi ilmiah siswa tingkat MA/SMA tahun 2021 ini, yaitu Kompetisi Sains Madrasah (KSM). Kompetisi ini memperlombakan enam cabang mata pelajaran yang diuji, yaitu Biologi, Kimia, Fisika, Matematika, Ekonomi, dan Geografi.

Berbeda dengan tahun lalu, pada tahun ini KSM mengikutsertakan siswa dari sekolah umum, SMA. Saat artikel ini ditulis, tahapan KSM selanjutnya yaitu tingkat propinsi, setelah tingkat propinsi kemudian akan diperlombakan tingkat nasional. Sedangkan KSM tingkat madrasah, dan kabupaten/kota, sudah dilakukan. Semuanya dilakukan secara online.

Apa yang memperbedakan kompetisi ini dengan kompetisi ilmiah lain yaitu adanya integrasi keilmuan Islam pada setiap cabang yang diperlombakan. Menurut kajian penulis, ada tiga kategori kemampuan integratif KSM yaitu; pertama, siswa dituntut menguasai materi pada bidang pelajaran; kedua, siswa harus menguasai agama Islam; dan ketiga secara otomatis siswa harus memahami ayat-ayat Alquran dan Hadis yang berhubungan dengan subjek (pelajaran).

Mata pelajaran diintegrasikan dengan agama Islam, yang erat kaitannya dengan mata pelajaran fikih, SKI, aqidah, dan Alquran Hadis. Selain itu adanya ayat-ayat Alquran yang diintegrasikan dengan materi pelajaran. Pada tahapan ini, kita belum selesai pada satu persoalan; apakah ayat Alquran yang diintegrasikan dengan materi pelajaran? Ataukah materi pelajaran yang diintegrasikan dengan ayat-ayat Alquran?

Jika pertanyaan pertama dilakukan, maka unsur penafsiran Alquran menjadi tolok ukur proses integrasi. Jika pertanyaan kedua dilakukan, maka ayat-ayat Alquran hanya disisipkan pada materi-materi tertentu.

Integrasi ilmu dalam Islam

Islam bukan hanya bentuk kepercayaan agama. Islam adalah seperangkat etika dan gagasan yang menggerakkan semua aspek kehidupan manusia, mengantarkan pada pembentukan peradaban Islam. Peradaban Islam dan kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan pernah terwujud tanpa penggerak nilai-nilai moral Islam (M. Ali Kettani , 1984:66). Inilah yang membedakan Islam dengan agama lain, yaitu penekanannya pada masalah sains. 

Pertama, seluruh umat Islam beranggapan bahwa prinsip perkembangan ilmu pengetahuan terkandung dalam Alquran. Termasuk juga tafsir esoterik (maknawi) yang memungkinkan tidak hanya mengungkap misteri yang di kandungnya, tetapi juga pencarian makna secara lebih mendalam, yang berguna bagi pengembangan paradigma ilmu pengetahuan.

Kedua, Alquran dan Hadis kondusif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dengan menekankan keutamaan menuntut ilmu dalam segala hal yang mengarah pada penegasan Tauhid. Singkatnya, keduanya merupakan sumber utama, menciptakan suasana khas yang mendorong aktivitas intelektual yang sesuai dengan ruh Islam. Oleh karena itu, seluruh metafisika dan kosmologi yang dimunculkan dari Alquran dan Hadis merupakan dasar bagi konstruksi dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman (Azyumardi Azra, 1999: 13).

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved