Breaking News:

Opini

Makna Sebuah Kematian

Akhir-akhir ini hampir setiap hari berita duka menghampiri kita, entah lewat grup WhatsApp, postingan teman di akun media sosialnya

Editor: bakri
Makna Sebuah Kematian
IST
Dr. H. Agustin Hanafi, MA, Ketua Prodi S2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry  dan Anggota IKAT Aceh

Oleh Dr. H. Agustin Hanafi, MA, Ketua Prodi S2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry  dan Anggota IKAT Aceh

Akhir-akhir ini hampir setiap hari berita duka menghampiri kita, entah lewat grup WhatsApp, postingan teman di akun media sosialnya, atau pengumuman langsung di Meunasah dan Masjid.

“Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun”. Bagaikan petir di siang bolong, penuh rasa kaget, seolah-olah kita tak percaya karena baru kemarin ngopi bersama, bercanda ria dan bertegur sapa di media sosial, tetapi hari ini telah berpisah untuk selamanya.  Sontak menyadarkan kita bahwa yang namanya kematian begitu dekat dan tak dapat ditangguhkan.

Kematian sesuatu yang pasti dan tidak ada seorang pun yang akan luput darinya, sebagaimana ditegaskan oleh Alquran: Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Jumu’ah: 09).

Secara umum pembicaraan tentang kematian bukan sesuatu yang menyenangkan, karena naluri manusia menginginkan hidup lebih lama lagi, sehingga banyak faktor yang membuat seseorang enggan dan takut mati. Mungkin karena ia tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian, atau mungkin juga karena membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudahnya. Atau mungkin karena khawatir memikirkan dan prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan, sehingga semuanya merasa cemas dan takut menghadapi kematian.

Sebenarnya kematian sebuah peristiwa yang biasa, dan itu merupakan janji Allah. Allah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara kita yang lebih baik amalnya. Kematian merupakan pelajaran berharga bagi orang yang hidup, betapa kematian itu sangat dekat dengan kita. Banyak yang sebelumnya masih terlihat sehat, segar bugar, dalam waktu yang tidak diduga tiba-tiba Allah panggil untuk selamanya, barulah kita sadar bahwa kehidupan ini sangat cepat berakhir.

Kematian sejatinya adalah sebuah nikmat, melaluinya akan membuat kita faham terhadap hakikat hidup yang sebenarnya, Alquran menekankan bahwa kehidupan ukhrawi jauh lebih bahagia dan sempurna daripada kehidupan duniawi.

Betapa tidak, disediakan tempat bagi orang yang bertakwa surga seluas langit dan bumi dibawahnya mengalir sungai-sungai, airnya selalu dalam keadaan jernih, tidak pernah berubah rasa dan baunya. Mereka dimanjakan dengan perhiasan yang terbuat dari emas, perak, mutiara, serta pakaian sutra.

Bersandar pada bantalan-bantalan yang hijau dan permadani yang indah. dilayani pelayan-pelayan muda yang sangat indah dan menyedapkan pandangan mata. Di dalamnya tidak ada permusuhan, hidup rukun dan damai, mereka kekal di dalamnya dan tidak pernah berubah menjadi tua.

Jalan menuju kebahagiaan itu hanya melalui kematian, dapat diibaratkan dengan menetasnya telur, anak-anak ayam yang terkurung dalam telur tidak dapat mencapai kesempurnaan evolusinya, kecuali jika kulit telur tempat tinggalnya menetas dan ia berhasil meninggalkannya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved