Breaking News:

Jurnalisme Warga

Tradisi Dom Drien yang Tergerus Zaman

Dalam masyarakat Aceh, dom drien dimaknai sebagai aktivitas menginap di kebun durian saat musim panen tiba

Editor: bakri
Tradisi Dom Drien yang Tergerus Zaman
IST
ZULKIFLI, M.Kom Dosen Universitas Almuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

OLEH ZULKIFLI, M.Kom,  Dosen Universitas Almuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

SUDAH beberapa kali rubrik Jurnalisme Warga di Serambi Indonesia menyiarkan aneka versi tentang durian (boh drien). Salah satunya adalah tentang dom drien. Dalam masyarakat Aceh, dom drien dimaknai sebagai aktivitas menginap di kebun durian saat musim panen tiba, agar durian yang jatuh tidak disantap binatang dan atau dicuri orang.

Sudah menjadi kebiasaan pemilik kebun durian, apabila memasuki masa panen, baik sendiri maupun berkelompok, mereka menginap di kebun untuk menunggui durian jatuh. Sebagian hasilnya dibagi untuk mereka yang ikut dom drien dan sisanya dijual. Kebiasaan inilah yang dalam bahasa Aceh dinamakan 'dom drien'. Namun, dalam reportase dom drien kali ini, saya tidak hendak bercerita tentang buahbuahan berduri yang beraroma aduhai itu.

Dom drien yang hendak saya reportasekan ini merupakan dom drien dalam makna lain, yakni salah satu tradisi adat budaya dalam rangkaian pesta perkawinan di kalangan masyarakat Aceh. Dom drien yang saya maksud di sini adalah salah satu rangkaian prosesi pelaksanaan adat perkawinan yang telah mentradisi dalam masyarakat Aceh, terutama Aceh inti.

Tujuan reportase ini adalah untuk melawan lupa bagi generasi tua, sedangkan bagi generasi muda Aceh, semoga bisa menjadi renungan dan edukasi bahwa ada satu tradisi budaya dalam prosesi perkawinan masyarakat Aceh yang sekarang mulai hilang, bahkan mulai dilupakan sebagian masyarakat. Tradisi tersebut yaitu prosesi mengantar atau menemani pengantin laki-laki (linto baro) pulang ke rumah istrinya (dara baro) pada malam hari. Ini biasannya dilaksanakan setelah walimatul ursy di siang hari.

Seiring perkembangan waktu, tradisi dom drien mulai tergerus zaman, bahkan mulai hilang tanpa bekas. Padahal, tradisi dom drien mempunyai semangat kekerabatan, persaudaraan, dan mempunyai sifat kemuliaan yang tinggi dalam kehidupan masyarakat Aceh. Budayawan kelahiran Bandar Dua Pidie Jaya, Nab Bahany AS, pernah menulis di facebooknya, tentang dom drien ini.

Menurutnya, tradisi dom drien merupakan budaya masyarakat Aceh yang dilakukan pihak pengantin baru, yaitu prosesi mengawani, mendampingi, atau mengiringi linto baro pulang ke rumah pengantin wanita (dara baro) pada malam hari setelah acara pesta perkawinan dilaksanakan siang hari. Prosesinya dilaksanakan malam hari. Biasanya yang mengawani atau mendampingi linto baro adalah anak muda yang belum menikah (masih lajang), usianya sebaya dan teman dekat linto baro.

Pengantaran hampir sama saat mengantar linto siang hari, tetapi mengantar malam hari tidak lagi memakai pakaian adat. Mereka berangkat setelah magrib bersama linto baro, ada juga yang setelah shalat Isya, tergantung jarak kampung tempat tinggal dara baro dengan kampung linto baro. Rombongan dom drien, setelah mengantar linto baro tidak langsung pulang, mereka ikut menginap di rumah dara baro, menjadi pengawal linto selama beberapa malam (biasanya sampai tujuh malam berturut-turut). "Dimulai seusai prosesi antar linto," tulis Nab Bahany.

Dulu, kebanyakan pasangan mendapat jodoh orang sekampung atau dari kampung tetangga. Terkadang letak kampung linto dan dara baro tidak berjauhan, bahkan bertetangga, sehingga dengan berjalan kaki sudah sampai ke rumah dara baro. Apabila kampungnya jauh, tidak bisa dijangkau jalan kaki, acara mengantar kepulangan linto baro menggunakan sepeda secara bersama. Kala itu kendaraan bermotor belum sebanyak sekarang, ojek (RBT) atau ojol pun belum ada seperti saat ini.

Sebagai penghormatan dan kemuliaan atas kepulangan linto baro bersama pasukan dom drien, biasanya tuan rumah menyediakan dan menjamu mereka makan malam. Saat jamuan makan malam, makanan dihidangkan dalam talam atau nampan besar, dengan aneka menu di dalam piring kecil, bukan disajikan ala France. Setelah makan bersama, pasukan dom drien tidak langsung pulang, ditemani beberapa anggota keluarga, juga ikut sejumlah gadis dengan berpenampilan sopan, rata-rata memakai baju lengan panjang dan kain sarung--baik kain sarung madras India maupun kain sarung batik-- mereka mengawani untuk silaturahmi.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved