Breaking News:

Opini

Cerdas Memilih Info ‘Mbah Google’

Maraknya beredar berita di masyarakat terutama di media sosial yang mengatakan “Hindari ke Rumah Sakit, meskipun mempunyai gejala Covid-19

Editor: bakri
Cerdas Memilih Info ‘Mbah Google’
IST
Sri Mulyati Mukhtar, SKM., MKM, Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli Madya pada RSU Cut Meutia Aceh Utara

Oleh Sri Mulyati Mukhtar, SKM., MKM, Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli Madya pada RSU Cut Meutia Aceh Utara

Maraknya beredar berita di masyarakat terutama di media sosial yang mengatakan “Hindari ke Rumah Sakit, meskipun mempunyai gejala Covid-19, karena rumah sakit akan meng‘covid’kan semua pasien yang datang”. Rumor tendensius ini disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak punya kompetensi untuk itu, lalu menyatakan diri sebagai praktisi dengan berkomentar miring seperti ini.

Informasi hoaks ini tentunya telah mendorong keengganan masyarakat untuk memanfaatkan layanan di fasilitas kesehatan, melaksanakan protocol kesehatan maupun mengikuti vaksinasi  Covid-19 .

Terinspirasi berita Harian Serambi Indonesia (9/8/2021), demam missal terjadi di Aceh Singkil, namun masyarakat takut berobat ke Puskesmas dan Rumah Sakit dengan alasan mereka khawatir setelah diperiksa dinyatakan positif terpapar Covid-19. Masyarakat kemudian lebih memilih obat yang dijual di warung maupun obat tradisional seperti kunyit.

Sementara angka kasus pasien Covid-19 di Aceh terus bertambah, kasus-kasus harian tidak kurang dari angka 200. Informasi yang dihimpun Serambinews.com (Senin, 23 Agustus 2021) kondisi Ruang Pinere dan RICU di RSUZA Banda Aceh penuh. Juru Bicara Satgas Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani juga mengatakan bahwa kondisi RSUDZA Banda Aceh sedang penuh (full bed).

Di Indonesia, di masa pandemi Covid-19, hoaks dan misinformasi telah menjadi masalah akut. Kemenkominfo mencatat sebanyak 1.600 hoaks terkait Covid-19 sejak Januari 2020 hingga Juni 2021 (laman Unicef).

Nyatanya saat ini sebagian masyarakat menyembunyikan fakta kesehatannya, sehingga kondisi ini menghalangi dalam penanganan pasien secara cepat. Akhirnya pasien datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi sangat parah.

Pastinya secara epidemiologis seluruh anggota keluarganya juga kemungkinan terpapar Covid-19, dan ini juga merupakan salah satu penyebab jumlah cluster keluarga meningkat.

Tentu saja dalam konteks penyakit Covid-19 ini, pengaruh hoaks pada perilaku sebagian kecil masyarakat dapat secara substansial membahayakan upaya mitigasi dan pemulihan pandemi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melabeli informasi menyesatkan yang beredar secara online tentang wabah Covid-19 disebut sebagai ‘infodemik’ yang menggambarkan persebaran hoaks berkaitan dengan Pandemi Covid-19.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved