Breaking News:

Jurnalisme Warga

Selamatkan Anak Kita dari Bahaya Narkoba

DI MASA sekarang, orang tua dituntut untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan mengawasi anak-anaknya terhadap bahaya narkoba

Editor: bakri
Selamatkan Anak Kita dari Bahaya Narkoba
IST
NELLIANI, M.Pd Guru SMA Negeri 3 Seulimuem, Aceh Besar, melaporkan dari Desa Seuleu, Darussalam, Aceh Besar

OLEH NELLIANI, M.Pd Guru SMA Negeri 3 Seulimuem, Aceh Besar, melaporkan dari Desa Seuleu, Darussalam, Aceh Besar

DI MASA sekarang, orang tua dituntut untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan mengawasi anak-anaknya terhadap bahaya narkoba. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan, penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan generasi muda meningkat.

Berdasarkan survei BNN pada tahun 2018, penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar (dari 13 ibu kota provinsi di Indonesia) mencapai 2,29 juta orang. Salah satu kelompok masyarakat yang rawan terpapar adalah mereka yang berada pada rentang usia 15-35 tahun atau generasi milenial (bnn.go.id). Bukan tidak mungkin angka tersebut meningkat dari tahun ke tahun, melihat derasnya peredaran gelap narkotika belakangan ini.

Penyitaan ratusan kilogram sabu dari Thailand oleh BNN di dua kabupaten di Aceh, yakni Aceh Barat dan Aceh Utara, membuat kita merinding. Itu merupakan satu dari rentetan kasus lain yang berhasil diungkap pihak berwenang, bisa jadi masih banyak kasus serupa, kecil atau pun besar yang luput dari pantauan petugas.

Mirisnya, peredaran gelap narkoba saat ini menyasar anak-anak muda yang masih produktif, sehingga ancaman kehancuran moral generasi penerus bangsa sangat nyata di hadapan mata. Narkoba singkatan dari kata narkotika dan obat/bahan berbahaya. Awalnya narkoba merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Dalam dunia medis, narkoba digunakan sebagai obat bius saat operasi, karena efeknya mampu menghilangkarn rasa sakit. Namun, seiring perkembangan zaman, narkoba sering disalahgunakan. Obat itu tidak jarang digunakan untuk menenangkan pikiran dari berbagai problema hidup, menghindari rasa tidak nyaman atau mendapatkan kesenangan dengan dosis yang tinggi. Padahal, penggunaan tanpa pengendalian atau di luar pengawasan berisiko menimbulkan ketergantungan (adiksi) yang mengakibatkan gangguan secara fisik, psikologis, maupun sosial bagi penggunanya.

Narkoba bisa mengincar siapa saja. Remaja merupakan golongan yang paling rentan menjadi pelaku penyalahgunaan narkoba dan pelajar termasuk di dalamnya. Karakteristik remaja yang labil, kerap bertindak tanpa pertimbangan serta mudah dipengaruhi karena berada pada fase pencarian jati diri, membuat mereka menjadi sasaran empuk para bandar narkoba. Sikap inilah yang menguntungkan para pengedar. Sayangnya, sadar atau tidak sadar, anak-anak ini sudah terperangkap dalam jeratan setan narkotika. Penyebab Banyak hal yang menyudutkan anak ke arah penyalahgunaan narkoba dan obat-obatan terlarang. Baik faktor dari dalam diri remaja itu sendiri, seperti rasa ingin tahu yang tinggi, sekadar coba-coba, atau supaya dianggap hebat oleh komunitasnya.

Namun, penyebab yang mendominasi sering datang dari kondisi keluarga dan pengaruh lingkungan pertemanan sebaya (peer group). Tidak sedikit pengguna narkoba berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Suasana rumah yang gaduh karena konflik antara ayah dan ibu, hubungan antaranggota keluarga tidak saling akur justru menjadi pemicu anak mengonsumsi narkoba. Keadaan tersebut membuat anak frustrasi dan stres sehingga terjebak memilih narkoba sebagai solusi.

Dalam situasi lain, anak sering menyaksikan figur yang dihormati seperti ayah bunda, maupun anggota keluarga lain tanpa merasa bersalah mengonsumsi barang terlarang tersebut. Akhirnya, tanpa pengetahuan yang cukup akan bahaya narkoba, mereka terpengaruh dan terdorong untuk mencobanya.

Sejatinya, keluarga merupakan wadah anak mendapatkan curahan kasih sayang dan perhatian. Kondisi rumah yang tidak ramah hanya menghadirkan kebingungan dan rasa takut. Di satu sisi anak membutuhkan sosok panutan, pemberi motivasi atau sebagai teman diskusi. Tetapi di sisi lain, orang tua tidak mampu menunjukkan teladan dalam sikap dan perilaku. Ditambah, pola pengasuhan yang otoriter, terlalu memaksakan kehendak dan menuntut anak agar berprestasi di luar kemampuannya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved