Breaking News:

Petani Aceh Besar Produksi Pembasmi Hama Hayati

Dirjen Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Dr Ir Muhammad Takdir Mulyadi MM

Editor: bakri
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Dirjen Perlindungan Tanaman Pangan Muhammad Takdir Mulyadi dan Kadistanbun Aceh, Cut Huzaimah, sedang tinjau tanaman padi, di sebuah gampong di Aceh Besar, Kamis (16/9). 

JANTHO - Dirjen Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Dr Ir Muhammad Takdir Mulyadi MM memberi apresiasi kepada kelompok tani (poktan) di Aceh Besar, yang mampu memproduksi pembasmi hama berbahan nabati menggunakan Agen Pengendali Hayati (APH).

“APH itu sangat baik digunakan untuk pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) karena bahan bakunya menggunakan bahan hayati dari sumber lokal, non-pestisida,” ujar Muhammad Takdir Mulyadi saat meninjau tanaman padi yang sudah disemprot dengan bahan APH, di Gampong Lepung Cut Kuta Malaka, Aceh Besar, Kamis (16/9/2021).

Kunjungan Dirjen Perlindungan Tanaman Pangan Kementan ke lokasi demo aplikasi APH itu, didampingi Kadistanbun Aceh, Ir Cut Huzaimah MP, Kepala UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Distanbun Aceh, Zulfadli SP MP, Kepala Bidang Penyuluhan Distanbun Aceh, Ir Mukhlis dan sejumlah pejabat di Lingkup Distanbun Aceh lainnya.

Dikatakan, bahan baku pembasmi hayati itu tidak susah diperoleh petani, karena semuanya ada di sekitar rumah. Seperti beras, jagung pecah giling, kompos, ampas sagu, dedak, dan sekam padi serta serbuk gergaji, untuk menghasilkan cendawan antagonis (Trichoderma sp). Begitu juga untuk menghasilkan  cendawan entomopatogen (Beauveria Bassiana, metarhizium spp dan lainya).

Menurut Takdir, menggunakan pembasmi hama hayati banyak untungnya. Selain lingkungan sawah bebas dari pestisida kimia, padi yang dihasilkan juga bebas dampak bau racun. “Cara mengatasi hama menggunakan cara APH, harus dipertahankan dan disosialisasikan kepada kelompok tani lainnya,” tandasnya.

Keberhasilan anggota kelompok tani padi di Kuta Malaka, Aceh Besar, ini jangan hanya untuk anggota petani di wilayah itu, tapi perlu disebarkan ke daerah lain. Agar daerah lain melakukan cara yang sama, sehingga padi bebas pestisida.

Di masa pandemi Covid 19 ini, ungkapnya, banyak gerakan penanganan hasil panen berbahan nonkimia yang dilakukan Distanbun Aceh. Seperti Gerakan Peningkatan Produktivitas Lahan Sawah Pra-Tanam (Gepeuaman) yang menggunakan cairan pupuk organik.

Sekarang, tambahnya,  di wilayah Kuta Malaka, Aceh Besar, ia diajak melihat tanaman padi yang diserang hama dan penanggulangannya dilakukan dengan cara APH. “Hasil penyemprotan cairan bahan hayati kepada tanaman padi yang terserang hama, kini terlihat hijau dan tak ada tanda-tanda bekas diserang hama,” tandas Muhammad Takdir Mulyadi.

Sementara itu, Kepala Distanbun Aceh, Cut Huzaimah mengatakan, dua program dan kegiatan yang sedang digalakan Distanbun Aceh adalah untuk mengubah kebiasaan petani yang terbiasa dengan cara instan, dengan menggunakan bahan kimia.

Padahal, katanya, kebiasan itu sangat tidak baik, dan untuk jangka panjang berbahaya bagi lahan sawah dan petani. Baik itu penggunaan pestisida maupun pupuk. “Padahal untuk mengganti pupuk kimia, masih ada yang organik dan kompos. Begitu juga untuk pestisida, masih ada pembasmi hama berbahan hayati,” ujar Cut Huzaimah.

Kadistanbun Aceh itu juga mengatakan, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi untuk mengurangi penggunaan pestisida. “Program itu  sangat penting dan perlu guna menyelamatkan areal persawahan dari endapan pestisida, yang sewaktu-waktu akan memberikan dampak negatif terhadap kesuburan tanah sawah,” pungkas Cut Huzaimah.(her)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved