Breaking News:

Tinggalkan Keluarga Demi Merawat Pasien, Perjuangan Para Perawat di Masa Pandemi Covid-19

TRISNA termasuk tangguh. Meski sudah bertugas merawat pasien Covid-19 sejak tahun lalu, namun baru sekali dia terpapar Covid-19

Editor: bakri
SERAMBI/ SUBUR DANI
Ns Trisna Sari, salah satu perawat memakai APD lengkap saat akan menjalani tugasnya merawat pasien kritis Covid-19 di Respiratory Intensive Care Unit (RICU) Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA), Jumat (17/9/2021). 

TRISNA termasuk tangguh. Meski sudah bertugas merawat pasien Covid-19 sejak tahun lalu, namun baru sekali dia terpapar Covid-19, itupun tak bergejala. Pemilik nama lengkap Ners (Ns) Trisna Sari SKep ini merupakan perawat di Respiratory Intensive Care Unit (RICU) Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA), Banda Aceh.

Saat positif, Trisna bergegas isolasi mandiri (isoman), minum vitamin, kemudian sehat dan kembali berada di garda terdepan merawat pasien Covid-19 dengan gejala ringan, berat, hingga kritis. Ibu dua anak ini selalu bersyukur dan berharap diberikan kesehatan, agar dapat terus merawat pasien-pasien Covid-19 di Aceh.

"Baru sekali positif sejak Covid-19, itu bulan lalu. Alhamdulilah tidak bergejala, langsung isolasi mandiri sampai 10 hari kemudian kembali sehat dan dinas lagi," kata Trisna saat diwawancarai Serambi di RICU RSUDZA jelang bertugas merawat pasien, Jumat (17/9/2021).

Trisna sadar, pekerjaannya adalah pekerjaan yang berisiko tinggi, memberi pelayanan kepada orang lain dengan taruhan nyawa sendiri. Trisna dan para nakes (tenaga kesehatan) lainnya sangat rentan terpapar. Mereka setiap hari berinteraksi dengan pasien covid, meski dalam menjalankan tugas menggunakan APD (alat pelindung diri) lengkap.

Bahkan, demi merawat pasien, Trisna rela meninggalkan keluarga. Dia tinggal sendiri di Banda Aceh, sementara suami dan dua anaknya tinggal di Kota Lhokseumawe. Dua hingga tiga minggu sekali baru bertemu keluarga, itu pun setelah melakukan swab PCR dan dinyatakan negatif.

"Suami, anak-anak dan orang tua saya di Lhokseumawe, cuma saya di Banda Aceh. Kalau libur dinas baru ngumpul, itu setelah dinas berturut-turut atau naik sif terus. Sebelum pulang, saya swab, minimal antigen. Kalau negatif baru pulang ke rumah ketemu anak-anak dan keluarga," katanya didampingi Ns Zulkarnaini SKep selaku kepala ruangan.

Memang jauh dari keluarga ini telah dialaminya sejak pertama bertugas di RSUZA tahun 2018 lalu. Tetapi ketika itu, dia sering berkumpul bersama keluarga, apakah di Banda Aceh atau di Lhokseumawe. Namun seiring melonjaknya kasus, Trisna harus rela jarang berjumpa karena tak ingin orang-orang yang dicintainya ikut terpapar. "Ya harus begini, karena saya tidak mau keluarga saya terpapar, anak saya masih kecil," ucapnya.

Berat dan sedih sudah pasti. Tetapi jalan itu harus dia tempuh demi panggilan hati nurani. "Hati nurani yang membuat kami masih tetap di sini, di zona merah merawat pasien. Kita sebagai perawat, tugas kita ingin merawat pasien, kita ingin mereka semua sembuh," terangnya.

Saat ini, Trisna bertugas sebagai perawat pelaksana di RICU RSUZA. Istri Alhimni Rushdi ini lulus menjadi PNS pada 2018 dan langsung ditempatkan di rumah sakit provinsi. Sebelum ditempatkan di RICU, Trisna bertugas di ruang RHCU yang juga salah satu ruangan untuk menangani penyakit seperti paru, mers, difteri, dan lain-lain.

Saat awal kemunculan Covid-19, Trisna harus menerima kenyataan bahwa pihak manajemen saat itu menjadikan ruangan RHCU sebagai ruangan untuk menampung orang-orang bergejala covid yang pulang dari luar negeri, dimulai dengan pemulangan mahasiswa Aceh dari China di akhir 2019.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved