Breaking News:

Salam

PTM Menjadi PR Berat Pemerintah

WHO dan UNICEF mendesak agar Indonesia kembali membuka dan melanjutkan pembelajaran tatap muka di seluruh sekolah sesegera mungkin

Editor: bakri
For Serambinews.com
Kepala SD Negeri 1 Muara Dua Lhokseumawe, Fakhrurrazi SPd Mpd, memantau proses PMB secara tatap muka di sekolah yang dipimpinnya tersebut, Senin (6/9/2021). 

WHO dan UNICEF mendesak agar Indonesia kembali membuka dan melanjutkan pembelajaran tatap muka di seluruh sekolah sesegera mungkin. Bahkan, di daerah dengan tingkat Corona yang tinggi, WHO merekomendasikan agar sekolah tetap dibuka kembali. Namun, diingatkan, pembukaan sekolah harus dilakukan secara aman karena adanya penularan varian Delta yang tinggi. Sejak 18 bulan lalu, sekolah-sekolah di Indonesia melaksanakan belajar secara daring atau online guna mencegah penularan virus Corona.

WHO dan Unicef sangat mewanti-wanti supaya pembukaan sekolah dengan kewajiban menerapkan protokol kesehatan. Untuk meminimalisir penyebaran virus, langkah yang harus diterapkan di antaranya menjaga jarak fisik setidaknya 1 meter dan mencuci tangan dengan sabun secara teratur. “Jadi penting bahwa ketika membuka sekolah, juga wajib mengendalikan penularan di komunitas itu.” ujar dr Paranietharan, perwakilan WHO untuk Indonesia.

Sedangkan Perwakilan UNICEF, Debora Comini, menyampaikan, sekolah bagi anak-anak lebih dari sekadar ruang kelas. Sekolah memberikan pembelajaran, persahabatan, keamanan dan lingkungan yang sehat. Menurut dia, semakin lama anak-anak tidak bersekolah, maka mereka tak lagi mendapatkan hal tersebut.

Sebelumnya, sejumlah pengamat dalam negeri juga menilai kebijakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mendesak untuk segera dilakukan demi mengindarkan anak Indonesia dari kehilangan kemampuan dan pengalaman belajar (learning loss). Namun, vaksinasi terhadap kepala sekolah, guru, pegawai sekolah, dan siswa harus dilakukan secara maksimal.

Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati menilai, PTM akan membuat proses transformasi pendidikan yang mengedepankan kerja sama, interaksi antar-siswa dan guru di kelas berjalan efektif. Dalam konteks hubungan sosial berbasis data yang telah dirilis sejumlah lembaga kredibel, para siswa juga sangat merindukan interaksi dengan temannya secara langsung.

Devie menjelaskan, interaksi langsung di kelas dapat menjadi media rekreasi dan refreshing yang menyenangkan bagi anak saat mereka merasa lelah dan bosan. PTM juga dapat mengikis budaya ketergantungan anak kepada orang tuanya yang secara tidak langsung tercipta selama masa pandemi. “Karakter ketergantungan mudah-mudahan setelah nanti kembali adanya ruang offline tidak lagi terjadi,” ungkapnya.

Sejak dua pekan terakhir, PTM memang dilaksnakan secara terbatas di sekolah-sekolah yang berada dalam zona-zona yang yang dianggap “aman”. Namun, hanya beberapa hari berlangsung PTM, menurut Kemendikbudristek per 20 September 2021 di 46.500 sekolah, ada 2,8 persen atau 1.296 sekolah yang melaporkan terjadi klaster Covid-19 sehingga PTM distop kembali.

Direktur Jenderal (Dirjen) PAUD dan Pendidikan Dasar Menengah Kemendikbudristek, Jumeri menyebutkan, klaster Covid paling banyak terjadi di SD yaitu 2,78 persen (581 sekolah), SMP (241 sekolah), dan SMA (107 sekolah). Di tingkat SD, ada 3.174 guru dan tenaga pendidikan yang positif  Covid sedangkan murid SD yang terinfeksi berjumlah 6.908 orang.

Akibatnya di beberapa kabupaten kota, angka positif Corona kembali meningkat. Bahkan jika beberapa hari lalu hanya Banda Aceh satu-satunya kota di Indonesia yang masuk zona merah, namun di awal pekan ini jumlah kabupaten kota yang masuk zona merah level 4 mencapai 10. Artinya, dampak sekolah tatap muka begitu nyata jika suasana belajarnya di sekolah tidak benar-benar menerapkan protokol kesehatan. Apalagi, hingga kini jumlah siswa yang tervaksin masih sangat minim.

Oleh karena itu, kita memang sependapat bahwa sekolah tatap muka sangat mendesak untuk dilaksanakan. Akan tetapi, kita juga ragu kesiapan pemerintah dan sekolah. Ikatan dokter anak Indonesia (IDAI) malah seperti mempertanyakan seberapa siap pemerintah menghadapi kemungkinan terjadinya “ledakan”? Sekali lagi, pemerintah wajib menyiapkan secara detail hal-hal teknis dalam menerapkan PTM. Jadi, jika pun nanti memulai sekolah tatap muka, itu bukan karena tekanan atau desakan, tapi karena memang sudah siap. Dan, ini menjadi “pekerjaan rumah” (PR) berat bagi pemerntah. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved