Breaking News:

Opini

Vaksinasi Covid-19 Tanggung Jawab Siapa?

Pekan lalu CNN Indonesia merilis berita yang cukup mengagetkan dimana saat ini Banda Aceh merupakan satu-satunya kabupaten/kota

Editor: bakri
Vaksinasi Covid-19 Tanggung Jawab Siapa?
FOR SERAMBINEWS.COM
Hanifah Hasnur, S.Pd., SKM., MKM, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Oleh Hanifah Hasnur, S.Pd., SKM., MKM, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh

Pekan lalu CNN Indonesia merilis berita yang cukup mengagetkan dimana saat ini Banda Aceh merupakan satu-satunya kabupaten/kota di Indonesia yang masih zona merah. Zona merah dicantolkan ke Kota Banda Aceh bukan tanpa alasan. Peta zonasi risiko ini dihitung berdasarkan indikator kesehatan masyarakat dengan menggunakan scoring dan pembobotan.

Indikator yang digunakan adalah indikator epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan.

Aceh sendiri masuk dalam deretan sepuluh besar provinsi yang memiliki kasus Covid-19 tertinggi harian di Indonesia. Positivity rate Aceh mencapai angka 51,55 persen. Padahal, dari segi positivity rate mingguan nasional, angkanya sudah turun di angka 18,15 persen. Maka dapat disimpulkan, Positivity Rate Aceh saat ini 10 kali lipat di atas standar yang dikeluarkan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) yaitu maksimal 5%.

Bila melihat kasus covid-19 yang tinggi saat ini di Aceh, sudah selayaknya penanggulangan kasus Covid-19 di Aceh bukan lagi hanya problema satu orang tetapi merupakan masalah segenap pihak. Mau tidak mau, masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta harus sama-sama saling peduli. Semangat menempatkan kepentingan banyak orang di atas kepentingan pribadi dibutuhkan guna mempercepat penurunan kasus Covid-19 di Aceh.

Masyarakat anti vaksin dan anti protokol Kesehatan Logika kita sungguh sangat waras bila dikaitkan dengan upaya bersama menghentikan kasus Covid-19 saat ini. Ketika virus Covid-19 telah terbukti menyebar secara cepat melalui percikan droplet baik saat bersin maupun batuk. Maka, kewajiban setiap orang untuk menggunakan masker agar dia tidak terkena droplet maupun menggenai dropletnya kepada orang lain.

Orang-orang tua kita yang masuk dalam usia lansia yang rentan tertular adalah yang paling fatal konsekuensinya. Sudah semestinya kita menjaga mereka dengan menerapkan prokes yang ketat. Orang-orang yang masih muda dengan sistem imun yang baik, mungkin saja merupakan salah satu Orang Tanpa Gejala (OTG) yang masih aktif virus Covid-19 dalam tubuhnya dan bisa menularkan ke orang lain, termasuk kepada orang tuanya.

Sejauh ini, jumlah orang yang melakukan test rapid ataupun SWAB mandiri juga masih rendah, sehingga tidak mengetahui dirinya dalam kondisi positif Covid-19 sehingga sangat besar kemungkinanan ia menularkannya kepada orang lain dengan mudah bila tidak melakukan prokes yang ketat.

Begitu juga dengan vaksinasi covid-19 yang secara ilmiah telah dibuktikan dari beberapa penelitian dapat menurunkan angka kematian karena Covid-19, dimana yang sudah divaksinasi dan kemudian terinfeksi virus akan lebih besar kemungkinan sembuh dan tingkat keparahan kesakitan karena terinfeksi menjadi lebih rendah.

Penulis berpikir, sampai di sini sudah cukup alasan yang logis untuk berhenti menjadi anti-protokol kesehatan dan antivaksin. Ini bukan lagi keperluan kita satu orang tetapi keperluan banyak orang.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved