Breaking News:

Jurnalisme Warga

Pelajaran Berharga dari Kehidupan di Dayah

Kita ingin sukses dalam berbisnis, maka ikatkan diri dengan ketepatan waktu dan kejelian dalam mengisi atau memanfaatkan ceruk bisnis

Editor: bakri
Pelajaran Berharga dari Kehidupan di Dayah
FOR SERAMBINEWS.COM
NUR SYARIFATUL ISRA Asal Geudong, Aceh Utara, Mahasiswi STIS Ummul Ayman, melaporkan dari Samalanga, Bireuen

OLEH NUR SYARIFATUL ISRA Asal Geudong, Aceh Utara, Mahasiswi STIS Ummul Ayman, melaporkan dari Samalanga, Bireuen

"HIDUP yang indah adalah hidup bernaung di bawah peraturan." Saya sering mendengar kata-kata tersebut diucapkan oleh ustaz-ustaz di dayah. Awalnya saya tak paham maksudnya. Namun, seiring berjalannya kehidupan di dayah, sekarang saya bisa merasakan dan mengerti makna di baliknya.

Menurut pemahaman saya, maksud dari ungkapan tersebut adalah jika kita menginginkan kehidupan yang berarti dan bermakna, maka ikatkanlah diri dan keseharian kita dengan peraturan. Misalnya, kita ingin sukses dalam berbisnis, maka ikatkan diri dengan ketepatan waktu dan kejelian dalam mengisi atau memanfaatkan ceruk bisnis.

Begitu juga dengan profesi-profesi lainnya. Begitulah yang saya rasakan selama berhijrah untuk menimba ilmu di pesantren. Di Aceh, pesantren lebih akrab disebut dengan istilah ‘dayah’. Saat ini, dayah semakin berkembang. Ada yang salafi, semisalafi, ada juga yang modern.

Saat ini saya berguru di Dayah Ummul Ayman. Lokasinya di Desa/Gampong Putoh, Samalanga, Bireuen. Dayah ini dipimpin oleh Teungku Haji Nuruzzahri (Waled Nu). Kehidupan saya selama di dayah tentu tak sama seperti kehidupan ketika di rumah. Ada banyak kisah sedi-haru-bahagia yang saban hari saya rasakan. Ketatnya peraturan, banyaknya pelajaran yang harus saya kuasai membuat keseharian saya sibuk di antara mengaji, belajar, dan mengulang. Lokasi dayah yang saya tempati ini merupakan dayah salafi berbasis semimodern.

Dayah ini beberapa baru saja merayakan hari miladnya yang ke-31. Visi-misi dan peranannya untuk mewujudkan penerus generasi masa depan yang berpotensi tinggi dan diunggulkan tidak bisa diabaikan. Sebuah harapan besar yang dimiliki Ummul Ayman untuk bisa mendidik penerus penerus bangsa agar menjadi penerus-penerus yang islami nan qurani. Di sini, saya disuguhi ilmu agama melalui kurikulum kitab-kitab salaf (ulama-ulama terdahulu).

Santriwan-santriwati ini lintas daerah dan kelas. Meski terlihat modern, tapi Ummul Ayman masih memberi beasiswa pendidikan kepada anak-anak yatim, piatu, dan yatim piatu dari kalangan putra. Hal itu karena sesuai namanya, kata ‘Ummul Ayman’ yakni pada dasarnya Waled ambil dari nama seorang perempuan, pengasuh Rasulullah Muhammad saw di waktu kecilnya.

Ribuan santri yatim dan yatim piatu telah sukses Waled didik melalui yayasan Ummul Ayman ini. Oleh karena itu tak berlebihan jika saat ini Waled dilakab dengan ‘Ayah Seribu Anak Yatim’. Pelajaran berharga Dalam praktiknya, Ummul Ayman memadukan dua program sekaligus. Mengaji kitab- kitab kuning sebagai nonformalnya dan sekolah, serta jenjang strata 1 (S-1) sebagai pendidikan formalnya.

Saya sudah duduk di semester tiga, Prodi Hukum Ekonomi Syariah, STIS Ummul Ayman. Oleh karena itu, ada saatnya saya sibuk berpikir tentang isi kandungan kitab-kitab kuning dan ada saatnya menyibukkan diri dengan pengetahuan umum atau teori-teori pengetahuan yang tidak berbau islami seperti pelajaran umum: matematika, fisika, kimia, dan sebagainya.

Dengan dua program yang saya ikuti ini tentu harapan saya akan menjadi penerus masa depan yang tidak hanya bisa berbicara lantang tentang masalah hukum- hukum agama, tidak hanya bisa menyimpulkan kajian- kajian dari kitab karangan para ulama. Tidak hanya terpaku pada permasalahan yang tertera dalam tulisantulisan lama para ulama salaf, tetapi juga bertujuan agar saya bisa mengolaborasikan antara ilmu akhirat dan ilmu duniawi.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved