Breaking News:

Opini

Ideal Bekerjanya Hukum

Saya tidak tahu persis bagaimana kehidupan seorang warga Aceh Tenggara bernama AS (48 tahun) yang diproses Balai Penegakan Hukum

Editor: bakri
Sulaiman Tripa, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala 

Oleh Sulaiman Tripa, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala

Saya tidak tahu persis bagaimana kehidupan seorang warga Aceh Tenggara bernama AS (48 tahun) yang diproses Balai Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah Sumatera karena menguasai tiga lembar kulit harimau. Yang jelas bahwa berkasnya sudah diserahkan kepada kejaksaan tinggi dan sudah dinyatakan lengkap. Artinya ketika kasusnya sudah dilimpahkan kepada kejaksaan, maka lembaga ini yang akan menindaklajuti sebagai wakil dari negara untuk menuntut mereka yang telah melakukan kejahatan.

Bagi saya yang mengajar mata kuliah Hukum dan Masyarakat, hal ini sangat menarik, terutama ketika saya kaitkan dengan pengakuan di ujung berita dari penegak hukum, ”Penyidik Balai Penegakan Hukum KLHK masih akan terus mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam kasus ini?” (Serambi, 23/9/2021).

Saya mengapresiasi atas capaian KLHK ini. Apalagi KLHK menganggap sebagai salah satu prestasi penting yang membanggakan. Tapi saya tidak bisa menghindari rasa gundah dan penuh tanda tanya, mengapa penegak hukum justru hanya mampu menjangkau AS ini? Apakah AS sebagai seorang pelaku yang sangat sentral dalam kejahatan ini?

Pertanyaan yang lebih operasional, bukankah penegak hukum memiliki kemampuan yang lebih untuk bisa mengejar pihak-pihak yang berkemungkinan kuat terlibat dalam kasus-kasus semacam ini?

Pengakuan akan terus mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain, secara implicit memperlihatkan upaya berhukum secara luas masih terbatas dan lemah. Pertanyaan teoritis saya, apakah AS itu sendirian terkait dengan kejahatan ini, sehingga hanya dia saja yang dijerat? Jika demikian, maka dalam bayangan saya, AS menjadi orang yang paling paripurna dalam kejahatan ini.

Dalam kasus semacam ini, dan berhenti pada satu orang, maka asumsinya adalah kita telah final menganggap bahwa AS yang bisa dan mampu melakukan segala-galanya. Mulai dari proses menjerat harimau, menjadikan kulitnya bisa dipakai oleh pihak lain, lalu menjangkau pasar kemana kulit itu akan dibawa? Rasanya tidak mungkin.

Apalagi jika AS itu hanya warga biasa yang pasti membutuhkan orang atau pihak lain dalam melakukan semua itu.

Tapi ini pertanyaan teoritis. Tidak boleh berprasangka, barangkali KLHK memang memiliki keterbatasan cara pandang dan daya jangkau yang lebih dari hanya sekedar menjerat seorang warga yang bernama AS itu.

Realitas vs idealitas

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved