Breaking News:

Jurnalisme Warga

World Cleanup Day, Pengenalan Budaya, dan Toleransi Generasi Z

GERAKAN World Cleanup Day (WCD) adalah hari aksi sosial global tahunan yang mengajak masyarakat di seluruh dunia untuk turun

Editor: bakri
World Cleanup Day, Pengenalan Budaya, dan Toleransi Generasi Z
FOR SERAMBINEWS.COM
DIVA NADIA Mahasiswi Ilmu Politik UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik, melaporkan dari Meureudu, Pidie Jaya

OLEH DIVA NADIA, Mahasiswi Ilmu Politik UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik, melaporkan dari Meureudu, Pidie Jaya

GERAKAN World Cleanup Day (WCD) adalah hari aksi sosial global tahunan yang mengajak masyarakat di seluruh dunia untuk turun membersihkan dan menjaga kebersihan bumi. Tujuannya adalah untuk mengurangi masalah limbah padat dan sampah laut.

Aksi ini merupakan acara global terbesar. Kurang lebih 180 negara terlibat dalam aksi tersebut hanya karena ketertarikan yang diinisiasi pertama kali oleh organisasi asal Estonia, Let’s Do It pada tahun 2008 melibatkan lebih dari 50.000 orang di seluruh Estonia untuk membersihkan negaranya dalam waktu lima jam saja.

WCD dilaksanakan setiap tahun pada Sabtu pekan ketiga bulan September. Aksi ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan kebersihan bumi dari limbah yang tidak dikelola dengan baik, serta mengajak dan melibatkan lapisan masyarakat baik pemerintah, organisasi, hingga setiap individu untuk turut berkontribusi dalam penanganan limbah. Dengan adanya beberapa surat ajakan/imbauan untuk memperingati Hari WCD di Kabupaten Pidie Jaya (Pijay), maka seluruh organisasi beserta komunitas di kabupaten ini melaksanakan hari bersih-bersih sedunia itu yang berlangsung di Kecamatan Panteraja.

Tepatnya, di Gampong Keude Panteraja dan Gampong Tu. Puluhan organisasi dan lintas komunitas bergerak serentak memaknai hari bersih- bersih di sepanjang jalan rel kereta api Kecamatan Panteraja.

Kegiatan tersebut juga digerakkam oleh Komunitas Pijay Gleh yang melibatkan 22 organisasi, lintas komunitas, anggota TNI, Polri, serta diduklung oleh 16 media partner yang ada di Pijay. Fazli Busin, Leader Operation WCD Kabupaten Pidie Jaya yang juga merupakan Ketua Komunitas Pijay Gleh menjelaskan bahwa WCD 2021 ini dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat lemahnya semangat yang membara untuk melakukan aksi tersebut yakni membersihkan dan mengutip sampah.

Lintas komunitas dan organisasi di Pijay melakukan aksi bersama bukan sekadar bersih-bersih saja, melainkan juga ingin mengajak seluruh elemen masyarakat di Pijay supaya bisa menjadi pelopor kebersihan di rumah serta di lingkungannya masing- masing. Tak hanya itu, Ketua Komunitas Pijay Gleh juga mengatakan bahwa WCD atau aksi bersih-bersih yang dilaksanakan dalam satu hari secara serentak di seluruh dunia itu bertujuan menyatukan umat manusia dari berbagai budaya, agama, suku, dan ras untuk membersihkan dunia dari sampah serta meningkatkan kepedulian terhadap permasalahan manusia.

Di Pijay, pelaksanaannya telat satu hari karena sesuatu dan lain hal. Seharusnya dilaksanakan dari tanggal 21-24 September 2021. WCD yang berlangsung dengan baik tersebut juga diapresiasi oleh Kapolsek Panteraja, Ipda Teuku Ansari.Ia mengaku terkesan atas kerja sama semua organisasi dan komunitas yang sangat peduli terhadap lingkungan di Kabupaten Pidie Jaya, khususnya di Kecamatan Pante Raja.

Menariknya lagi adalah tujuan World Cleanup Day seperti dikatakan Ketua Pijay Gleh, yakni untuk menyatukan umat manusia dari berbagai budaya, agama, suku, dan ras. Nah, tujuan tersebut sangatlah menarik dan patut dipertahankan terlebih lagi di masa sekarang oleh generasi Z. Generasi Z adalah mereka yang lahir sekitar tahun 1997 hingga tahun 2000-an.

Generasi Z tersebut boleh jadi sudah tak begitu mengenali lagi apa yang dimaksud dengan budaya dan toleransi antarsuku dan juga ras. Cara mengenalkan budaya dan juga toleransi kepada generasi Z adalah dengan memberi tahu mereka bahwa budaya itu sendiri adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi.

Budaya terbentuk dari berbagai macam unsur, mulai dari diri manusia, seseorang bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Adapun toleransi adalah sifat dan sikap bertenggang rasa yang biasanya ditujukan untuk menghormati adanya perbedaan pendapat, agama, ras, dan budaya dalam suatu kelompok. Sikap toleran dapat menghindari terjadinya diskriminasi, walaupun banyak kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat. Toleransi itu sendiri merupakan kunci perdamaian yang patut dijaga.

Berbagai budaya di setiap wilayah memiliki keragaman dan keunikan yang berbeda satu sama lain, demikian pula perbedaan keyakinan, ras, warna kulit, akan menjadi ciri khas yang patut dibanggakan di dunia. Toleransi merupakan sebuah sikap untuk menghargai dan menghormati setiap orang yang memiliki perbedaan pandangan, pendapat, keyakinan, kepercayaan, termasuk juga perbedaan agama, ras dan budaya dengan diri sendiri, karena mereka semua memiliki hak untuk diperlakukan sama dengan setiap orang. Jika ada anggota masyarakat yang tidak menjunjung tinggi nilai toleransi, maka tatanan masyarakat tersebut akan rusak.

Nah, dalam konteks inilah kita memberi nilai lebih pada kegiatan WCD yang dilaksanakan serempak di berbagai negara, tak terkecuali di Pidie Jaya dengan tujuan dan niat yang luhur serta memberi dampak nyata bagi kebersihan dan kelestarian lingkungan. Semoga daerah-daerah lain pun bisa menyerap dan memaknai nilai-nilai positif dari kegiatan WCD tersebut baik pada tahun ini maupun di tahun-tahun mendatang.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved