Breaking News:

Opini

60 Tahun Universitas Syiah Kuala

Peringatan Milad 60 tahun Universitas Syiah Kuala (USK) yang jatuh pada 2 September 2021, mengangkat tema “Kerja Cerdas untuk Indonesia Maju”

Editor: bakri
A. Wahab Abdi, Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala 

* (Dari Simbol Kebanggaan ke Persoalan Lulusan)

Oleh A. Wahab Abdi, Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala

Peringatan Milad 60 tahun Universitas Syiah Kuala (USK) yang jatuh pada 2 September 2021, mengangkat tema “Kerja Cerdas untuk Indonesia Maju”. Tema ini kemudian disebarluaskan dalam bentuk twibbon atau mikrositus bingkai foto melalui medsos oleh alumni universitas ini.

Milad ke-60 USK  juga dimeriahkan dalam bentuk kegiatan lain, baik akademik maupun kemasyarakatan. Antara lain adalah lomba menulis, donor darah, vaksinasi massal, bantuan sembako, orasi ilmiah, peluncuran buku tentang USK, konferensi internasional, dan acara puncak Dies Natalis pada 29 September 2021. Pada acara puncak peringatan Dies Natalis ini, Puan Maharani, Ketua DPR-RI tampil sebagai Dies Reader.

Rangkaian kegiatan tersebut tentu saja sarat makna, baik masa lalu, kekinian dan keakanan. Selama enam dasawarsa, universitas “Jatong Hate Rakyat Aceh” ini telah berproses. Berbagai dinamika politik, ekonomi dan sosiokultural ikut membentuk, mewarnai dan memolesnya sehingga menjadi salah satu entitas pendidikan tinggi elite di tanah air.

Buah letupan emosi

Tak dapat dipungkiri bahwa kelahiran USK adalah karena dorongan letupan emosi. Segenap komponen masyarakat Aceh menyambut antusias gagasan mendirikan universitas negeri di Aceh. Terlebih lagi gagasan ini diperluas menjadi pembangunan Kopelma Darussalam, yang di dalamnya akan ada universitas, institut agama Islam, dan dayah tradisional.

Tingginya letupan emosional ini didasari oleh tiga alasan utama. Pertama, Aceh diakui sebagai daerah modal yang memiliki andil besar kepada Republik Indonesia yang baru lahir, sehingga mempunyai sebuah universitas negeri.

Kedua, salah satu keistimewaan Aceh sesuai Keputusan Wakil PM Mr. Hardi No.1/Missi/1959 adalah bidang pendidikan. Ketiga, kondisi politik saat itu akibat pertikaian antara pemerintah Soekarno dengan DI/TII pimpinan Tgk Daud Beureu’eh merupakan peluang untuk mendirikan sebuah universitas di Aceh. Ini dipandang semacam “kado” pemerintah pusat kepada rakyat Aceh, walaupun dalam perjalanannya kado ini harus “dirampas”.

Guna mewujudkan cita-cita mulia tersebut, berbagai kekuatan digalang untuk membangkitkan partisipasi segenap lapisan masyarakat Aceh. Hasilnya adalah semangat gotong-royong rakyat Aceh kembali bangkit seperti halnya saat menyumbang dana pengadaan Pesawat Seulawah untuk pemerintah RI.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved