Breaking News:

Opini

Lahan Abadi, Kado Hari Tani

Walau butuh waktu tunggu lebih dari satu dekade sejak diterbitkannya Undang-undang No. 41 Tahun 2009, akhirnya Aceh sedang merampungkan

Editor: bakri
Lahan Abadi, Kado Hari Tani
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc,  Dosen Tetap Teknik Pertanian Universitas Syiah Kuala dan Direktur Politeknik Aceh Selatan

Oleh Dr. Muhammad Yasar, S.TP., M.Sc,  Dosen Tetap Teknik Pertanian Universitas Syiah Kuala dan Direktur Politeknik Aceh Selatan

Walau butuh waktu tunggu lebih dari satu dekade sejak diterbitkannya Undang-undang No. 41 Tahun 2009, akhirnya Aceh sedang merampungkan Qanun tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Pihak DPRA bersama Dinas Pertanian dan Perkebunan dengan mengundang sejumlah stakeholder telah mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDPU). Insya Allah sebentar lagi komitmen lahan abadi untuk menopang kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan di daerah akan segera terwujud.

Langkah yang dilandasi oleh sebuah kesadaran politik akan besarnya ancaman konversi lahan pangan produktif ini patut diapresiasi. Tentu tidak mudah meyakini pentingnya permanenisasi lahan di tengah ke-pede-an bangsa ini akan ketersediaan lahan yang maha luas. Sebagai negara agraris kita selalu busungkan dada, seakan kalau hari ini kita kehilangan satu lahan dapat tergantikan dengan mudah dengan lokasi lahan yang lain.

Fenomena alih fungsi lahan pertanian khususnya sawah memang tidak terbendung. Meski menjadi konsekuensi logis dari kemajuan pembangunan, tidak berarti dapat dibenarkan mengingat lahan peruntukan sawah tidak semudah untuk peruntukan kebutuhan lahan yang lain. Untuk membangun kawasan perkantoran, perumahan, atau industri, masih dimungkinkan ditempatkan pada lahan cadas dan berbatu. Tetapi untuk sawah, perlu karakteristik biofisik tertentu agar tanaman padi dapat tumbuh dan berkembang dengan subur serta menghasilkan stapel food dengan produktivitas tertinggi.

Belum lagi lewat aktivitas konversi lahan ini kita secara sadar telah melakukan pembaziran investasi. Betapa banyak infrastruktur pertanian khususnya jaringan irigasi yang kemudian menjadi situs sejarah akibat tidak tergunakan lagi. Dan sumber air tidak mungkin dipindahkan, sementara kawasan baru belum tentu memiliki sumber air yang memadai.

Dan perlu diingat, konversi lahan bersifat irreversible. Sekali ia terkonversikan untuk kegiatan nonpertanian maka mustahil dapat dikembalikan menjadi sawah seperti sediakala sementara lahan pengganti sudah pasti tidak sebaik yang digantikan. Lahan sawah yang hari ini kita miliki merupakan lahan terbaik yang kita sortir di masa lalu. Sedangkan lahan yang tersedia sekarang berarti lahan yang biasa-biasa saja di masa itu. Dan kini lahan seperti inilah yang akan menjadi tumpuan kita.

Meski dalam konteks kualitas lahan kita dapat mengandalkan teknologi untuk memperbaikinya tetap saja kita belum mampu menghilangkan ketergantungan aktivitas pertanian terhadap lahan. Walau muncul banyak metode budidaya tanpa lahan, sebut saja hydroponic, aeroponic, dan lain sebagainya, tetap saja belum mampu menggantikan peran lahan seutuhnya karena ada konsekuensi anggaran yang meningkat apabila ia dipraktekkan.

Biaya produksi meningkat maka otomatis harga jual produk juga turut naik. Bukankah kita selaku masyarakat konsumen paling resah dengan kenaikan harga bahan makanan pokok, bahkan pemerintahpun paling alergi dengan situasi ini sehingga sering tatkala harga melambung pasti diiringi oleh operasi pasar walaupun ketika harga jatuh terkesan memicing mata.

Saat ini hampir semua sumber daya tani mengalami degradasi. Lahan semakin menciut, kesuburan alamiah semakin menurun, ekologi semakin rusak, jumlah regenerasi petani nyaris menuju kepunahan. Satu-satunya andalan kita adalah penguatan teknologi. Dan perlu diingat dengan baik bahwa suatu ketika nanti teknologi juga akan mengalami stagnasi.

Sekuat apapun teknologi mendongkrak angka produktivitas, dalam prediksi teori Malthus, tetap saja angka ketersediaan pangan akan tersalip oleh angka kebutuhan pangan. Impaknya tentu sudah bisa kita tebak bersama, siap-siap, ancaman kelaparan menghantui dunia.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved