Breaking News:

Pasokan Pertalite dan Solar Sering Terlambat, Petugas SPBU Sering Kena Tegur Sopir

Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite ke Stasiun Bahan Bakar Umum (SPBU) belakangan ini sering mengalami keterlambatan

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/HERIANTO
Stok Pertalite kosong di SPBU Luengbata, Banda Aceh 

BANDA ACEH - Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite ke Stasiun Bahan Bakar Umum (SPBU) belakangan ini sering mengalami keterlambatan. Padahal cukup banyak pemilik kendaraan yang sudah mengalihkan bahan bakarnya dari Premium ke Pertalite. Keterlambatan pasokan ini juga sering dialami BBM jenis Solar.

Seorang sopir mini bus lintasan Banda Aceh-Sibreh yang ditemui Serambi di SPBU Pagar Air, Aceh Besar, Selasa (5/10/2021), mengatakan, sejak pengalihan BBM dari Peremium ke Pertalite, antrean kendaraan sudah jarang terlihat di SPBU. Namun sayangnya, stok Pertalite di SPBU sering kali kosong karena terlambat pasokan.

“Harapan kami, setelah penjualan BBM jenis Premium dialihkan ke Pertalite, suplai BBM tersebut jangan lagi tersendat dan harus tersedia dalam jumlah yang cukup di setiap SPBU,” kata Amir.

Saat terjadi kekosongan Pertalite, pihaknya mau tak mau harus menunggu hingga pasokan tiba. Sebagai kendaraan angkutan penumpang, tidak mungkin baginya untuk mengisi Pertamax karena harganya yang sangat mahal. “Maka kami menuggu Pertalite masuk ke SPBU baru kami mengisi BBM,” tuturnya.

Keluhan yang sama juga disampaikan sopir mobil pikap, Aldin. Dia menuturkan, Pertalite sering kosong di SPBU pada hari Minggu siang dan Senin pagi. Alasannya, pengiriman dari Depo Pertamina di Krueng Raya belum tiba.

“Jarak Depo Pertamina di Krueng Raya ke SPBU di Banda Aceh dan Aceh Besar itu sekitar 35-40 kilometer. Kalau diangkut dengan mobil tanki biasa, hanya butuh waktu tempuh 2-2,5 jam, tetapi kekosongan Pertalite yang terjadi saat ini berkisar 4-6 jam,” keluhnya.

Sementara itu seorang sopir bus antar provinsi, Abdullah, mengatakan, sejak peralihan Premium ke Pertalite, pihaknya menjadi lebih mudah mengisi bahan bakar di SPBU karena tidak terjadi antrean. Tetapi masalahnya, belakangan ini suplai solar ke SPBU sering kali terlambat. “Keterlambatannya pernah mencapai 5 jam lebih,” ungkapnya.

Sementara itu, seorang petugas SPBU di Lueng Bata, Rahmad, mengaku dirinya sering kali ditegur para sopir bus dan truk trailer karena keterlambatan pasokan Solar. Rahmad mengatakan, pihaknya sudah memberikan penjelasan dan pengertian kepada para sopir untuk bersabar.

“Karena di Depo Pertamina Krueng Raya, banyak mobil tanki yang antre untuk pengisian BBM jenis yang sama,” kata Rahmad.

Sales Menager Pertamina Banda Aceh, Soni Indro Prabowo, yang dimintai penjelasannya terkait lambatnya pengiriman Pertalite dan Solar ke SPBU menjelaskan, hal itu terjadi permintaan meningkat.

“Sehingga untuk melayani pengisian Solar dan Pertalite di Depo Pertamina Krueng Taya, truk tanki harus antre panjang,” ujar Soni kepada Serambi, Selasa (5/10/2021).

Apalagi mobil tanki pengangkut Solar dan Pertalite dari wilayah Pidie Jaya dan sebagian Aceh Jaya juga mengambil pasokan dari Depo Pertamina di Krueng Raya. “Bila mobil tangki dari dua daerah itu masuk bersamaan dengan mobil dari Banda Aceh dan Aceh Besar, antrian pengisian di Depo Krueng Raya menjadi lama,” jelasnya.

Soni menyebutkan, permintaan solar saat ini per hari berkisar 250-350 KL, dan pada hari tertetu bisa mencapai 400 KL. Sementara Pertalite berkisar 320-400 KL.

Soni mengatakan, permintaan kedua jenis BBM itu terus meningkat memasuki September dan Oktober ini, sejalan semakin membaiknya kondisi ekonomi daerah. Permintaan Pertalite ia sebutkan naik 11 persen dan Solar sekitar 5-7 persen.

“Masalah antrian panjang truk tangki pengangkut BBM di Depo Pertmina itu akan diatasi dengan pengaturan waktu pengisian, sehingga tidak terjadi antrean panjang di Depo Pertamina, sehingga pengiriman Pertalite dan Solar ke SPBU menjadi lebih cepat lagi,” ujar Soni.(her)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved