Breaking News:

Empat Terdakwa Sabu Divonis Mati

Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Idi, Aceh Timur, menjatuhkan hukuman mati terhadap empat terdakwa kasus tindak pidana narkotika

Editor: bakri
Dok Kejari Aceh Timur
Empat terdakwa kasus sabu-sabu 50 kilogram divonis hukuman mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Idi, Aceh Timur, dalam sidang terakhir di PN Idi Aceh Timur, Rabu (6/10/2021) 

IDI - Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Idi, Aceh Timur, menjatuhkan hukuman mati terhadap empat terdakwa kasus tindak pidana narkotika dengan barang bukti sabu-sabu seberat 50 kilogram (Kg). Sidang putusan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Apri Yanti SH MH, dibantu dua hakim anggota, Khalid AMd SH MH dan Reza Bastira Siregar SH, ini berlangsung di PN setempat, Rabu (6/10/2021).

Keempat terdakwa yang dihukum mati tersebut masing-masing Zakaria AB (50), Marzuki (39), dan Zakaria Alias Jek Telkom (43), ketiganya warga Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur, serta Julkifli (27), warga Kecamatan Nurussalam, kabupaten yang sama.

Selain majelis hakim, yang hadir langsung ke PN Idi untuk mengikuti sidang pemungkas tersebut adalah Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaaan Negeri (Kejari) Aceh Timur yaitu Ivan Najjar Alavi SH MH, Cherry Arida SH, Harry Arfhan SH MH, dan M Iqbal Zakwan SH, serta penasihat hukum terdakwa, Romi SH. Sementara keempat terdakwa mengikuti sidang itu secara virtual dari tempat mereka ditahan selama ini yakni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIB Idi.

Majelis hakim menjatuhkan pidana mati terhadap keempat terdakwa karena mereka terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melanggar Pasal 114 ayat (2) Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juncto Pasal 55 ayat (1) KUHPidana. Putusan itu sudah sesuai dengan tuntutan JPU dalam sidang sebelumnya.

Atas putusan tersebut, jaksa penuntut umum maupun terdakwa menyatakan pikir-pikir. Baik JPU maupun terdakwa mempunyai waktu selama tujuh hari ke depan untuk menyatakan menerima putusan tersebut atau melakukan upaya hukum lanjutan yaitu banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Banda Aceh. Setelah sidang selesai, para terdakwa kembali dijebloskan ke sel tahanan LP Kelas IIB Idi.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Aceh Timur, Semeru SH, didampingi Kasi Intel, Andy Zulanda SH, dan Kasi Pidum, Ivan Najjar Alavi SH MH, kepada Serambi seusai sidang tersebut kemarin, mengatakan, dalam perkara itu sebenarnya ada lima terdakwa yang dituntut oleh JPU agar dijatuhi hukuman mati.

Namun, menurut Semeru, satu terdakwa lagi atas nama Khairul Bahri alias Cek Yun, meninggal dunia di rumah sakit pada 13 September 2021 lalu karena diagnosa menderita sakit jantung. Sehingga, tambahnya, terdakwa yang divonis mati oleh majelis hakim dalam sidang tadi (kemarin-red) hanya empat orang.

Seperti diketahui, kelima terdakwa ditangkap anggota Satresnarkoba Polres Aceh Timur pada 27 Maret 2021. Setelah itu, polisi melakukan pengembangan dan menggeledah sebuah boat di Aceh Timur. Hasilnya, ditemukan dua goni yang di dalamnya masing-masing berisi sabu-sabu seberat 25 Kg (totalnya 50 Kg). Barang haram tersebut sebelumnya dijemput oleh para terdakwa dari Pulau Adang, Thailand, via jalur laut.

Menurut catatan Serambi, dengan sidang terakhir ini sudah delapan terdakwa kasus sabu-sabu yang dihukum mati oleh majelis hakim PN Idi dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya majelis hakim PN tersebut menjatuhkan vonis mati terhadap terdakwa Rusu alias Maeli (43) terdakwa tindak pidana narkotika dengan barang bukti sabu-sabu seberat 48 Kg, dalam sidang terakhir pada Kamis, 27 Agustus 2021.

Kemudian, PN Idi juga memvonis mati M Kasem, otak pelaku penyeludupan 45 Kg sabu-sabu dari Malaysia ke Aceh Timur, dalam sidang pembacaan putusan yang berlangsung secara virtual, pada Kamis (3/12/2020).

Pada pertengahan tahun lalu atau tepatnya Rabu (17/6/202), majelis hakim PN Idi juga menjatuhkan hukuman mati terhadap pasangan suami istri, Faisal Nur dan Murziyanti. Keduanya terbukti melanggar dakwaan primer JPU yaitu Pasal 114 ayat (2), jo Pasal 132 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Hal yang memberatkan hingga Faisal Nur dijatuhi hukuman mati karena ia mengendalikan narkotika dari balik jeruji besi. Padahal, saat itu Faisal sedang menjalani hukuman di LP kelas IIA, Pekanbaru, Provinsi Riau setelah divonis 18 tahun penjara oleh PN Dumai tahun 2016, tapi dia mengulangi perbuatan yang sama. (c49)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved