Mikro Bakteri

Produk Mikro Bakteri SMK PP Saree Diminati Petani Padi, Termasuk Kebun Kurma Barbate

Setelah pelaksanaan pelatihan selesai, Kepala Kantor Perwakilan BI Aceh, Achris Sarwani, melakukan rehab ruang laboratorim yang ada di SMK PP Saree, u

Penulis: Herianto | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Empat orang petugas Lab SMK PP Saree, Aceh Besar, memperlihat kan produk Mikro Bakteri Alfaafa M-11 nya, yang kini mulai diminati petani padi untuk penyubur lahan sawah, Kamis (7/10). 

Laporan Herianto I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Produk Mikro Bakteri Alfaafa (M – 11) yang diproduksi SMK Pembangunan Pertanian Saree, Aceh Besar yang berfungsi sebagai decomposer atau bahan pengurai bakteri dalam tanah dan salah satu bahan campuran untuk pembuatan pupuk organik, saat ini sudah mulai diminati petani.

“Setelah kita launching pengggunaan produk mikro bakteri (M-11) SMK PP Saree pada bulan Juni lalu, untuk penggunaan lokal, sampai Oktober ini, sudah ratusan anggota kelompok tani lokal yang datang memanfaat produk mikro bakteri Alfaafa (M-11) tersebut untuk menyuburkan lahan padi, cabe merah, bawang merah dan lainnya," kata Kepala Sekolah SMK PP Saree, Aceh Besar, Muhammad Amri, Sp, MP melalui Koordinator Laboratorium Lab SMK PP Saree, Ria Jayanti ST kepada Serambinews.com, Kamis (7/10/2021) saat berkunjung ke lokasi Lab SMK PP Saree, bersama Tim Monitoring Kantor Perwakilan BI Aceh di Saree Aceh Besar.

Produksi mikro bakteri (M-11) ini, kata Ria Jayanti yang didampingi tiga orang anggota Lab SMK PP Saree, Jumiati, AMD, Akbar Rul Karim, Firja Ariella dan drh Mulyadi MSi, diawali dari pelatihan pembuatan pupuk organik yang dilakukan Kantor Perwakilan BI Aceh, pada bulan Maret 2021 lalu, dengan mendatangan ahli pembutan pupuk organik Prof Dr Nugraha dari UGM.

Baca juga: DPP Tetapkan Jadwalkan Fit and Proper Test Calon Ketua Partai Demokrat Aceh Tanggal 13 Oktober

Setelah pelaksanaan pelatihan selesai, Kepala Kantor Perwakilan BI Aceh, Achris Sarwani, melakukan rehab ruang laboratorim yang ada di SMK PP Saree, untuk dijadikan ruang Lab Pembuatan Mikro Bakteri Alffaafa (M-11).

Selesai ruang Laboratorium ukuran 3 x 6 m direhab, pihak BI membeli peralatan yang dibutuhkan untuk pembuatan Mikro Bakteri Alfaafa yang akan dimanfaatkan sebagai decomposer atau pegurai bakteri dalam tanah dan bahan campuran dalam pembuatan pupuk organik cair serta pakan ternak.

Setelah rehab ruang Lab SMK PP Saree selesai pada bulan Juni, ruang tersebut langsung dioperasikan sebagai tempat proses pembuatan Mikro Bakteri Alfaafa (M-11).

Untuk produksi pertama pada bulan Juni lalu, jumlahnya mencapai 970 liter. Produksi mikro bakteri M-11 dalam bentuk cair itu, untuk menarik penggunannya dikemas dalam botol ukuran 1 liter yang sudah diberikan lebel merek M-11.

Baca juga: Dandim Gandeng Perusahaan Lokal untuk Pengembangan Wisata Air Terjun Gunung Pungkie

Mikro bakteri M-11, yang sudah dikemas, diletakkan dalam satu rak yang sudah disediakan dalam ruang Lab SMK PP Saree.

Anggota kelompok tani lokal di Aceh, yang membutuhkan cairan Mikro Bakteri M-11 itu, ia harus memberikan uang jasa produksi untuk 1 botol M - 11 berukuran 1 liter Rp 50.000.

Cairan mikro bakteri M-11 yang diproduksi Lab SMK PP Saree ini, kata Ria Jayanti, belum dijual secara komersilkan, sehingga produksi, hanya ada di Lab SMK PP Saree, tapi bagi anggota kelompok tani lokal di wilayah aceh yang membutuh cairan decomposer tersebut, diberikan dengan cara membayar uang biaya produksi Rp 50.000/botol untuk ukuran 1 liter.

Perminfaatan mikro bakteri Alffaafa (M-11) produksi SMK PP Saree ini meningkat, ungkap Pengelola Demplot Pertanian SMK PP Saree, Mulyadi, setelah hasil demplot tanaman cabe merah, bawang merah dan tanaman padi yang ditanam di lokasi persawahan SMK PP Saree dan dibeberapa daerah di Aceh Besar dan Pidie, yang memanfaat cairan mikro bakteri M-11 produksi SMK PP Saree, hasilnya meningkat, sehingga menarik anggota kelompok tani lokal.

Contohnya hasil dempolot padi gadu BI di Gampong Ie Alang Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar yang ditanam seluas 1 hektar menggunkan cairan mikro bakteri M-11 Produksi SMK PP Saree, pada saat panen, hasil panennya dihitung menggunakan cara ubinan, meghasilkan produksi gabah kering panen (GKP) sebanyak 10,6 ton/hektar.

Contoh lain, demplot tanam padi yang dilakukan siswa SMK PP Saree di lokasi persawahannya yang menggunkan cairan mikro bakteria M-11 produksi sendiri, setelah panen dilakukan penghitungan secara ubinan kembali, menghasilkan produksi gabah kering panen sebanyak 12 ton lebih/hektar.

Selanjut, sejumlah petani cabe merah dan bawang merah di Pidie, yang menggunakan cairan mikro baketri M-11 produksi SMK PP Saree, produktivitas came merah dan bawang merahnya meningkat, satu sampai dua kali lipat dari hasil normalnya.

Baca juga: Angkatan Laut AS Jual Dua Kapal Induk Bekas, Dengan Harga Hanya Rp 142

Koordinator Lab SMK PP Saree, Ria Jayanti menyatakan, karena hasik kerja cairan mikro bakteri M-11 ini sudah menunjukkan hasil yang cukup lumayan besara terhadapa produksi padi, cabe merah, bawang merah dan liannya, sekarang ini Lab SMK PP Saree, sudah kebanjiran order cairan mikro bakteri M-11 dari berbagaia anggota kelompok tani pagi, cabe, bawang merah, jagung, perkebunan, termasuk perkebunan kurma Barbate, yang ada di Kawasan Perbukitan Blang Bintang.

“Pihak pengelola perkebunan kurma Barbate, minta dikirimi cairan mikro bakteria M-11, untuk penyuburan lahan tanaman kurmanya dan beberapa kelompok tani tamaman pangan dan perkebunan di daerah lainnya untuk penggemburan dan penyuburan hara tanahnya,” ujar Ria.

Kepala Perwakilan BI Aceh, Achris Sarwani yang dimintai tanggapannya terhadap kesuksesannya dalam melatih kelompok tani di Aceh Besar memperkenalkan kembali penyuburan tanah menggunakan mikro bakteri M-11 itu kepada Serambinews.com menggatakan, cairan mikro bakteri M-11 yang diproduksi Lab SMK -PP Saree itu, tidak hanya dibutuhkan untuk penggemburan dan penyuburan tanah secara alami, tapi cairan itu juga bisa digunakan untuk pembuatan pupuk organik dan pakan organik bagi kambing, sapi dan lainnya.

BI melakukan pelatihan pemanfaat pupuk organik bagi peningktan produksi pertanian, kata Achhris Sarwani, untuk mngembalikan pola pikir petani padi, kembali bercocok tanam menggunakan pupuk organik.

Untuk mempercepat proses pembutan pupuk organik, dibutuhkan cairan mikro bakteri pengurainya, makanya pihak BI mendatangkan Prof Dr Nugraha seorang ahli pembuat pupuk organik dari UGM, untuk membantu mengajarkan kelompok tani di Aceh cara membuat cairan mikro baketri M-11, yang murah dan meriah, tapi hasilnya memberikan manfaat yang besar bagi petani.

Untuk membuat cairan Mikro Bakteri Alfaafa M -11 nya, kata Achrris Sarwani, kita bantu peralatan laboratoriumnya dan diletakkan di SMK PP Saree. Tujuannya supaya Lab itu terus digunakan dan bila ada petani ingin belajar membuat cairan mikro bakteri yang sama, bisa datang belajar ke Lab SMK PP Saree.

Salah seorang pemuda Gampong Ie Alang Kec Kuta Cotglie, Ilham, petani muda berbakat yang masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Abulyatama semester VII, sudah berhasil menanam padi, cabe dan bawang merah menggunakan cairan mikro bakteri Alfaafa M-11.

Dengan cairan M-11 tersebut, ia bisa mengubah hara tanah lahan sawahnya jadi meningkat dan buat pupuk organik.

Dari cairan mikro bakteri Alfaafa M-11 itu, kata Achris Sarwani, Ilham petani muda itu, sudah berpenghasilan yang cukup lumyan besar.

Padi yang ditanamnya bisa menghasilkan produktivitas 10,6 ton/hektar. Ia juga sekarang sudah menjadi produsen pupuk organik, dijual kepada petanai cabe merah dan bawanag merah di Pidie. Penghasilan nya dari penjuala pupuk organik Rp 10 juta/bulan.

Dari tanam padinya, ia bisa mengdapat penghasilan Rp 40 juta/hektar, belum lagi dari hasil panen cabe dan bawang merahnya.

Ia menyatakan, jadi petani itu tidak miskin, asal mau bekerja keras, serius, berkelanjutan, sabar, tidak cepat merasa bosan dan menyerah, hasil yang diperoleh sangat besar.

“Saya tidak akan meninggalkan dunia usaha pertanian. Alasannya, usdaha pertanian bila dikelola dengan serius dan berkelanjutan, hasilnya cukup menjanjikan, memberikan harapan hidup yang lebih baik, bagi keluarga. Apalagi, produk bahan pangan organik itu, harganya lebih mahal dari produk pangan yang menggunakan pupuk kimia,” ujar Ilham.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved