Breaking News:

Jurnalisme Warga

Transformasi Pendidikan dan ‘Hijrah’ Perguruan Tinggi Islam

BEBERAPA tahun terakhir sejumlah perguruan tinggi keagamaan Islam mengalami penguatan- penguatan struktural yang cukup signifikan

Editor: bakri
Transformasi Pendidikan dan ‘Hijrah’ Perguruan Tinggi Islam
FOR SERAMBINEWS.COM
ARKIN, S.IP, Panitia Pelaksana International Conference on Islamic Studies (ICIS) Tahun 2021 UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH ARKIN, S.IP, Panitia Pelaksana International Conference on Islamic Studies (ICIS) Tahun 2021 UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Banda Aceh

BEBERAPA tahun terakhir sejumlah perguruan tinggi keagamaan Islam mengalami penguatan- penguatan struktural yang cukup signifikan, seperti perubahan STAIN menjadi IAIN dan sejumlah IAIN bermetamorfosis menjadi UIN. Transformasi tersebut hendaknya tidak semata dipahami sebagai peningkatan anggaran atau penambahan jumlah program studi belaka.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Menteri Agama RI, Dr Zainut Tauhid Sa’adi MSi saat membuka acara International Conference on Islamic Studies (ICIS) Tahun 2021 yang diselenggarakan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Acara ini berlangsung 4-5 Oktober 2021 secara hybrid dengan tatap muka terbatas di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, dan secara virtual menggunakan videoconference.

Menurut Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), perubahan tersebut merupakan 'hijrah' perguruan tinggi Islam dari penekanan awal sebagai lembaga dakwah ilmu-ilmu agama, menjadi institusi yang memiliki tradisi riset yang baik, menjadi kampus yang mampu mengintegrasikan ilmu-ilmu keislaman dengan sains dan teknologi, serta menjadi rumah yang nyaman bagi dosen dan peneliti untuk menghasilkan temuan- temuan berkualitas. Langkah ini diyakini dapat memberikan kontribusi bagi pengetahuan dan keilmuan global.

Bagi para pimpinan kampus UIN, tugas bahkan jadi bertambah lagi, karena di bidang sains kita juga harus mampu merumuskan riset unggulan yang bermutu dan berkesinambungan, sehingga Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) mampu bersaing tidak hanya dalam bidang keilmuan keagamaan saja. "Untuk menciptakan budaya riset yang bermutu tersebut, saya minta kepada pimpinan PTN/PTKIN untuk memfasilitasi tersedianya referensi dan bacaan yang lengkap, bahkan terintegrasi, sehingga antarsivitas akademika, kampus besar dan kecil, bisa saling meminjam dan berbagi, bukan hanya ilmu umum melaikan juga ilmu keislaman sesuai dengan konteks terkini," kata Zainut Tauhid Sa’adi di hadapan seribuan peserta yang hadir secara virtual, Senin (4/10/2021).

Doktor Bidang Pemikiran Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menambahkan, dalam konteks kehidupan keagamaan masyarakat di Aceh khususnya, ia berharap melalui kegiatan konferensi tahunan yang diselenggarakan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry ini mampu merespons serta memberikan solusi atas berbagai persoalan sosial keagamaan yang belakangan mengganggu kerukunan umat beragama.

"Kasus intoleransi umat mayoritas terhadap minoritas dan sebaliknya, kasus dugaan penodaan agama, fenomena generasi ‘medsos’ yang seakan enggan ‘beragama’ berbasis pada bacaan sumber primer, hingga kasus- kasus radikalisme dan terorisme. Tentunya persoalan- persoalan semacam ini membutuhkan respons dari kita yang tidak bersifat reaktif belaka, melainkan harus berdasar pada pertimbanganpertimbangan empirik hasil riset," harapnya.

Wakil Menteri Agama RI, Dr Zainut Tauhid Sa’adi MSi juga mengingatkan bahwa kita tidak boleh menjadi menara gading yang terlalu asyik-masyuk dengan penelitian atau diskusi yang hanya bermanfaat buat pribadi atau kampus kita sendiri, tanpa memberi kontribusi bagi penyelesaian masalah-masalah sosial, politik, keagamaan, dan kebangsaan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia secara keseluruhan. "Harapan saya adalah agar selama konferensi ini berlangsung, para narasumber dan peserta juga dapat bersama- sama memikirkan kontribusi apa yang dapat kita berikan untuk perdamaian dunia," imbuhnya.

Selain itu, seperti yang kita pahami bersama bahwa era keterbukaan global saat ini telah melahirkan tantangantantangan perubahan tersendiri di kalangan masyarakat muslim, tak terkecuali di Indonesia dan Asia Tenggara, seperti menguatnya politik identitas, menularnya gagasan populisme dari belahan bumi lain. Selain itu, bergesernya kecenderungan keagamaan menjadi lebih konservatif, ditambah dengan kepentingan-kepentingan politik yang menunggangi. Itu beberapa contoh dinamika masyarakat yang dalam level tertentu telah mengakibatkan terciptanya segregasi sosial.

Dengan berbagai kearifan yang kita miliki, kata Zainut Tauhid, kita wajib merespons tantangan-tantangan semacam itu. Menurutnya, dunia kini semakin menyadari bahwa muslim nusantara memiliki kekhasan tersendiri dalam merespons konservatisme dan radikalisme berbasis keagamaan. "Perjalanan sejarah dan peradaban Islam di kawasan ini telah mengajarkan kepada kita betapa para ulama nusantara sesungguhnya telah mewariskan nilai-nilai wasathiyah yang telah lama mengakar dalam berbagai tradisi, budaya, dan agama yang ada," kata Zainud Tauhid.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved