Internasional

WHO Dukung Vaksin Malaria Pertama di Dunia, Sebagai Momen Bersejarah

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengesahkan vaksin malaria pertama di dunia. WHO mengatakan harus diberikan kepada anak-anak di seluruh Afrika

Editor: M Nur Pakar
AP/Karel Prinsloo/File
Seorang ibu menggendong bayinya yang menerima vaksin malaria baru sebagai bagian dari percobaan di Pusat Penelitian Proyek Walter Reed di Kombewa, Kenya Barat pada 30 Oktober 2009. 

SERAMBINEWS.COM, LONDON - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengesahkan vaksin malaria pertama di dunia.

WHO mengatakan harus diberikan kepada anak-anak di seluruh Afrika dengan harapan akan memacu upaya yang terhenti untuk mengekang penyebaran penyakit parasit itu.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebutnya sebagai momen bersejarah.

Dia menyampakan hal itu setelah pertemuan dua kelompok penasihat ahli badan kesehatan PBB merekomendasikan langkah tersebut.

“Rekomendasi ini menawarkan secercah harapan bagi benua tersebut, yang menanggung beban terberat penyakit ini.

Dan kami berharap lebih banyak anak Afrika terlindungi dari malaria dan tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat,” kata Dr. Matshidiso Moeti, direktur WHO Afrika.

Baca juga: WHO-Unicef Minta Indonesia Segera Gelar Belajar Tatap Muka

WHO mengatakan keputusannya sebagian besar didasarkan pada hasil dari penelitian yang sedang berlangsung di Ghana, Kenya dan Malawi.

Dimana, melacak lebih dari 800.000 anak yang telah menerima vaksin sejak 2019.

Dilansir AP, Kamis (7/10/2021), vaksin, yang dikenal sebagai Mosquirix, dikembangkan oleh GlaxoSmithKline pada 1987.
Meskipun merupakan yang pertama disahkan, juga menghadapi tantangan.

Vaksin ini hanya sekitar 30% efektif, memerlukan hingga empat dosis, dan perlindungannya memudar setelah beberapa bulan .

Namun, para ilmuwan mengatakan vaksin itu bisa berdampak besar terhadap malaria di Afrika.

Rumah bagi sebagian besar dari 200 juta kasus di dunia dan 400.000 kematian per tahun.

“Ini adalah langkah maju dan besar,” kata Julian Rayner, Direktur Cambridge Institute for Medical Research, bukan bagian dari WHO.

“Ini adalah vaksin yang tidak sempurna, tetapi masih akan menghentikan ratusan ribu anak dari kematian," jelasnya.

Rayner mengatakan dampak vaksin pada penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk masih belum jelas.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved