Breaking News:

Opini

Stop Rentenir

Praktik rentenir saat ini semakin membudaya dan mengakar di tengah masyarakat, baik secara nasional maupun daerah

Editor: bakri
Stop Rentenir
Abdul Gani Isa, Staf Pengajar Pascasarjana UIN Ar-Raniry dan Anggota MPU Aceh

Oleh Abdul Gani Isa, Staf Pengajar Pascasarjana UIN Ar-Raniry dan Anggota MPU Aceh

Praktik rentenir saat ini semakin membudaya dan mengakar di tengah masyarakat, baik secara nasional maupun daerah. Fenomena menguatnya praktik rentenir ini membuat masyarakat di sementara daerah menjadi resah, seperti diinformasikan lewat media sosial, bahkan ditemukan adanya korban yang terzalimi, terutama kalangan menengah ke bawah dan kurang mampu, akibat ulah dan praktik rentenir tersebut, sehingga ada daerah mengeluarkan “imbauan” kepada warganya, untuk tidak meminjam uang sama rentenir.

Islam-sejak 15 abad lalu, dengan tegas melarang praktik menzalimi sesamanya, seperti tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 275 yang artinya: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, “…padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Rasulullah SAW  melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba. ‘ semuanya sama dalam dosa’.” (HR Muslim ).

Bahkan tentang dosa riba ini pun tidak tanggung-tanggung, Rasulullah menetapkan dengan tegas dosa dan bahaya riba tidak ada bedanya dengan dosa membunuh manusia karena dengan menjalankan riba maka akan menyebabkan adanya kerusakan dunia dan akhirat. Sebagaimana sabda beliau yang artinya: “Jauhilah olehmu tujuh perkara yang merusak”.

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa saja tujuh perkara itu?” Rasulullah SAW, menjawab: “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa dengan tidak ada alasan hak, memakan hasil riba, memakan harta anak yatim, lari dari ajang pertempuran melawan musuh agama dan menuduh berbuat zina wanita-wanita mukmin yang terpelihara kehormatannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Pengertian

Secara harfiah rentenir berasal dari kata rente yang artinya renten, bunga uang. Kata ini tidak jauh berbeda dengan makna riba yang secara bahasa berarti ziyadah (tambahan) baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam. Institusi yang memperoleh profit melalui penarikan bunga disebut dengan rente yaitu seperti Bank, Koperasi dan Lembaga Pengkreditan lainnya. Sedangkan individu yang memperoleh keuntungan melalui penarikan bunga disebut dengan rentenir.

Menurut Syaikh Muhammad Abduh, riba /renten  merupakan penambahan-penambahan yang diisyaratkan oleh orang yang memiliki harta kepada orang yang meminjam hartanya (uangnya), karena pengunduran janji pembayaran oleh peminjam dari waktu yang ditentukan.

Hukumnya

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved