Minggu, 26 April 2026

Mahasiswa USK Raih Emas di Ajang Nasional,  Ciptakan Alat Sortasi Biji Kopi Otomatis

Tim Universitas Syiah Kuala (USK) berhasil meraih medali emas pada ajang bergengsi nasional, Pagelaran Mahasiswa Nasional

Editor: bakri
FOTO HANDOVER SERAMBI
Tiga mahasiswa dari Program Studi Teknik Elektro dan Komputer Universitas Syiah Kuala (SUK), Fina Noviantika, Ary Dasmara, dan Alifya Febriana berhasil meraih medali emas pada Pagelaran Mahasiswa Nasional Bidang Tekonologi Informasi dan Komunikasi (GemasTIK) ke-14 yang dilaksanakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Kamis (7/10/2021). 

BANDA ACEH - Tim Universitas Syiah Kuala (USK) berhasil meraih medali emas pada ajang bergengsi nasional, Pagelaran Mahasiswa Nasional Bidang Tekonologi Informasi dan Komunikasi (GemasTIK) ke-14 yang dilaksanakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Kamis (7/10/2021).

Tim USK yang dinamakan Ava Team ini berhasil mengalahkan 19 tim lainnya dari universitas seluruh Indonesia. Ava Team terdiri dari tiga mahasiswa dari Program Studi Teknik Elektro dan Komputer, yaitu Ary Dasmara, Alifya Febriana dan Fina Noviantika. Mereka dibimbing oleh Dosen FT USK, Ir Rahmad Dawood SKom MSc IPM.

Dalam siaran pers yang diterima Serambi disebutkan, Tim USK mengikuti perlombaan di bidang Piranti Cerdas, Sistem Benam dan IoT. Dalam kompetisi ini, mereka menciptakan alat sortasi biji kopi secara otomatis menggunakan machine learning. Machine learning merupakan artificial intelligence yang sedang marak digunakan saat ini.

Ketua tim, Ary Dasmara mengatakan, pembuatan alat sortasi biji kopi tersebut dilatarbelakangi oleh permasalahan yang selama ini dihadapi para petani kopi, yaitu kesulitasn dalam pemisahan biji kopi. Berbeda dengan tumbuhan lain yang mudah dibedakan, kopi adalah salah satu komoditas yang sulit dibedakan.

Ary dan timnya sudah melakukan survei ke beberapa UMKM di Aceh dan mendapatkan bahwa dari sejumlah proses pengolahan, bagian pemisahan kopi memerlukan waktu dan tenaga paling banyak. Lebih lagi, tidak semua orang bisa membedakan jenis-jenis biji kopi. Hanya orang yang expert di bidang kopi yang bisa dengan cepat bisa membedakannya.

“Satu kilogram biji kopi bisa disortir selama 10 menit, dengan catatan, itu dilakukan oleh orang yang expert di bidang kopi dan sudah tahu perbedaan dari aroma jenis-jenis biji kopi. Namun permintaan kopi di satu UMKM dalam satu hari bisa mencapai 50-100 kilogram,” kata Ary.

Lebih lanjut dia menjelaskan, selama ini proses sortasi biji kopi masih dipisahkan secara manual, belum menggunakan teknologi. Kalau ada pun, hanya dapat digunakan untuk memisahkan sesuai ukuran, tapi tetap harus dipisahkan secara manual sesuai jenis kopi.

Ary dan timnya merasa permasalahan tersebut perlu ditangani. Mereka berupaya menciptakan alat untuk membantu UMKM melakukan pemisahan kopi berdasarkan jenisnya sehingga bisa meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga saat sortasi biji kopi dilakukan.

Alat sortasi biji kopi yang mereka ciptakan dinamakan ‘Get Kupi’. Alat ini bisa melakukan penyortiran biji kopi berdasarkan empat jenis biji, yaitu kopi peaberry, longberry, premium dan rusak. Get kupi memanfaatkan raspberry pi 4 sebagai mikrokontrolernya. Alat get kupi ini bisa melakukan sortasi kopi berdasarkan bentuk ukuran dan warna sesuai data set yang telah diprogram. Get kupi ini dapat mengenali jenis kopi dan membedakannya dengan menggunakan teknologi machine learning.

“Kami telah membuat 8.000 foto biji kopi. Untuk masing-masing kopi ada 2.000 foto biji kopi yang kami jadikan data set untuk alat ini, sehingga alat ini bisa mengenal biji kopi dengan cukup baik,” jelas Ary.

Cara penggunaan alat ini yaitu semua biji kopi dicampur ke dalam wadah kemudian dimasukkan ke dalam ‘Get Kupi’. Setelah itu biji kopi akan jatuh satu per satu ke sensor kamera, kemudian diambil gambar untuk diprediksi oleh machine learning jenis kopi apa yang cocok, dan setelah itu diarahkan ke wadah sesuai jenisnya.

“Hasil dari pembuatan alat ini diharapkan akan menjadi solusi bagi para produsen kopi dan UMKM untuk melakukan sortasi biji kopi, agar lebih efisien dalam waktu dan tenaga,” harap Ary. Ke depannya, Ary dan timnya masih harus menyempurnakan alat ini, baru kemudian mereka akan membuat hak patennya.

Ini adalah yang kedua kalinya Ava team mengikuti GemasTIK. Sebelumnya pada tahun 2019 mereka mengikuti kompetisi ini dengan membuat tong sampah pintar. Tim mereka juga sampai ke babak final, namun saat itu belum berhasil meraih medali emas.(yos)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved