Breaking News:

52 Pekerja Mengadu ke Disnaker, Terkait Nasib Mereka Tak Lagi Bekerja di PT SBA

Sebanyak 52 tenaga kerja PT LNET yang selama ini bekerja di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PT Solusi Bangun Andalas (SBA) Lhoknga

Editor: bakri
ZULFIKAR MUHAMMAD, Direktur Koalisi NGO HAM Aceh 

BANDA ACEH - Sebanyak 52 tenaga kerja PT LNET yang selama ini bekerja di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PT Solusi Bangun Andalas (SBA) Lhoknga, Aceh Besar, mendatangi Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (Dinaskermobduk) Aceh, Senin (11/10/2021) siang.

Kedatangan puluhan pekerja yang turut didampingi kuasa hukum dari Koalisi NGO HAM Aceh tersebut mengadukan nasib mereka yang sudah tidak bisa bekerja lagi di PT SBA, mulai 1 Oktober 2021 hingga kemarin.

Padahal kontrak kerja mereka dengan PT LNET dan bekerja di PT SBA, baru berakhir pada 27 Oktober 2021 mendatang, begitu pengakuan puluhan pekerja tersebut. Kehadiran para pekerja itupun diterima langsung oleh Kadisnakermobduk Aceh, Ir Fajri MT, didampingi sejumlah kepala bidang dan para stafnya.

Direktur Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad, mewakili suara dari 52 pekerja dalam audiensi itu mengungkapkan keprihatinannya terhadap apa yang dialami puluhan pekerja Aceh yang sudah bekerja belasan tahun dan memiliki spesifikasi khusus di bidang power plant tersebut.

Kecuali, ada spesifikasi lain yang memang mereka tidak kuasai, itu kemungkinan baru bisa dimaklumi. "Mereka diberhentikan secara sepihak, tanpa ada kejelasan dan pemberitahuan dimana kesalahan mereka. Tiba-tiba 52 ini datang dan berniat masuk kerja di PT SBA, tiba-tiba kartu akses masuk ke fingerprint sudah tidak dapat digunakan lagi. Ini kan sesuatu yang miris, sementara mereka menyadari tidak ada kesalahan fatal yang mereka perbuat, di samping kontrak mereka baru berakhir 27 Oktober 2012 mendatang," kata Zulfikar.

Meski mereka sudah tidak bisa masuk bekerja, karena sudah tak memiliki akses masuk ke fingerprint, tapi setiap harinya 52 pekerja ini tetap menuju ke tempat kerja di PT SBA. Alasannya, mereka tidak ingin dianggap mangkir kerja, bila berturut-turut selama tiga hari tidak masuk kerja.

Lalu, hal lain yang memperkuat mereka harus tetap datang, karena kontrak kerja mereka dengan PT LNET baru berakhir pada 27 Oktober 2021. "Dari penjelasan PT SBA, mereka sudah mengikat kontrak dengan PT BEST. Kami tetap berharap 52 pekerja ini bisa diterima kembali bekerja di PT SBA. Karena, 52 orang pekerja ini bekerja secara profesional dan kita khawatirkan, kalau seluruh pekerja yang memiliki spesifikasi khusus ini tak lagi bekerja, maka bisa mempengaruhi produksi di PT SBA. Dampak luas ke masyarakat Aceh, sebab produksi semen akan terhenti," terang Zulfikar.

Karena untuk menanggangi PLTU itu bukan pekerjaan yang mudah, sehingga pihaknya berharap mempekerjakan kembali 52 pekerja lokal ini menjadi pertimbangan matang, pungkas Zulfikar.

Sementara  Kadisnakermobduk Aceh, Ir Fajri MT, mengungkapkan apa yang disampaikan puluhan pekerja PT LNET yang selama ini bekerja di PT SBA, akan diakomodir dan dicari solusi dengan melibatkan para pihak. "Intinya kami tetap mendukung, secara pribadi dan secara kedinasan, sehingga berharap 52 teman-teman ini bisa bekerja kembali di PT SBA. Karena itu, kita akan terus mencari solusi bersama agar tidak ada permasalahan yang muncul," terang Kadisnakermobduk Aceh, Ir Fajri MT.

Communications & Event Specialist PT SBA, Faraby Azwany yang dihubungi Serambi, tadi malam mengungkapkan sebenarnya untuk penjelasan lebih tepatnya bisa dilakukan ke PT BEST sebagai pihak ketiga yang memenangkan kontrak. Namun, karena nama PT SBA ikut terbawa Faraby pun mengungkapkan bahwa antara PT SBA dan PT LNET sudah habis kontrak kerjanya terhitung sejak 30 September 2021.

"Harusnya yang memberi penjelasan dan yang berbicara dengan para pekerja itu dari Manajemen LNET, bukan kita dari PT SBA. Karena, kontrak kerja kita PT SBA dengan PT LNET sendiri sudah berakhir sejak 30 September 2021. Seharusnya itu bukan wewenang kita," terang Faraby.

Pun demikian, ungkap Faraby, pihaknya juga tetap mendorong PT BEST untuk tetap memperhatikan masyarakat lokal yang berada di sekitar pabrik.(mir)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved