Breaking News:

Jurnalisme Warga

Indahnya Islam Versi Mualaf dari India

MENTARI siang itu panas menyengat kulit saat saya bersama tiga orang teman lainnya memasuki kompleks dayah

Editor: bakri
M. AIDIL ADHAA, Lc, putra Pante Garot, mengabdi di Dayah dan STIS Ummul Ayman, melaporkan dari Ummul Ayman III, Mns Bie, Pidie Jaya 

OLEH M. AIDIL ADHAA, Lc, putra Pante Garot, mengabdi di Dayah dan STIS Ummul Ayman, melaporkan dari Ummul Ayman III, Mns Bie, Pidie Jaya

MENTARI siang itu panas menyengat kulit saat saya bersama tiga orang teman lainnya memasuki kompleks dayah. Jarum jam menunjukkan pukul 12.52 WIB. Beberapa dewan guru berlalulalang dari satu kamar ke kamar lainnya, membangunkan para santri. Suara ikamah menggema dari pengeras suara di masjid.

Pertanda waktu jamaah shalat Zuhur telah tiba. Beberapa santri cilik berlarian ke arah masjid, berebutan saf untuk shalat berjamaah. Mereka tak ingin ketinggalan takbir bersama imam. Teungku-teungku senior pun siap siaga menjaga saf-saf di masjid agar tidak ada santri yang masbuk (tertinggal dari jamaah). Ya, itulah potret Kompleks Dayah Rauhul Mudi Al Aziziyah, Bireuen, di siang hari. Santri-santri begitu semangat melangkahkan kaki ke masjid, menunaikan kewajiban shalat Zuhur.

Dayah ini berlokasi di Desa Meunasah Blang, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, di bawah pimpinan Tgk Muhammad Yusuf Nasir, atau yang kerap disapa dengan Abiya Jeunieb atau Abiya Rauhul Mudi. Memasuki dayah ini, kami disuguhi keindahan desain bangunan-bangunan. Selain cat bangunan yang unik-unik, di halaman depan juga tersedia sangkar burung berukuran besar, serta kolam ikan yang membuat pengunjung betah berlama-lama menikmatinya.

Memasuki masjid, kami dapati shalat jamaahnya sudah selesai. Terpaksa kami laksanakan shalat jamaah berempat saja. Di tengah-tengah shalat, salah seorang santri datang menghampiri. Sejurus kemudian, ia menggelar sajadah untuk kami. Selesai shalat, ia menghampiri kami lagi meminta kembali sajadah yang digelarnya tadi. Dengan penuh semangat anak itu meminta dengan kepercayaan diri.

Tak ada rasa takut sama sekali. Sembari membalikkan sajadah, seorang di antara kami bertanya nama dan asal anak itu. Betapa terkejutnya kami saat ia beri tahu asalnya dari India. Ia seorang mualaf yang disyahadatkan oleh Abiya Jeunieb delapan bulan silam. Nama Indianya Depa Kumar. Setelah jadi mualaf, namanya berganti menjadi M Syahrul Mubarak (12). Saya bahagia mendengar ceritanya. Suaranya lantang dan jelas. Sesekali ia mencandai kami dengan bahasa Indianya. Sekeluar dari masjid, saya memintanya untuk mempertemukan kami dengan ayah kandungnya. Sembari menunggu Abiya ke luar ke ruang tamu, saya berbicara panjang lebar dengan ayah Depa.

Di atas balai di depan kediaman Abiya itu, suasana begitu syahdu mendengar kronologi keluarga India itu masuk Islam. Seorang bapak berpeci hitam dengan wajah asli suku Tamil India itu duduk di samping saya. Dahulu, di India, nama aslinya Dewan Kumar. Setelah mualaf berubah menjadi Muhammad Abdulla. “Saya memang dari dulu mau masuk Islam,” ujarnya di saat saya tanyakan perihal keinginannya masuk Islam.

Sebelum berdomisili di dalam Kompleks Dayah Rauhul Mudi, Abdulla menetap di Medan bersama istri dan tiga anaknya. Setelah mengucapkan syahadat di Medan, ia bersama dua putranya dibawa ke Dayah Rauhul Mudi oleh salah seorang pengusaha Aceh di Medan. Uniknya, sebelum bersyahadat pun, Abdulla sudah mempelajari tata shalat yang benar. Bahkan di suatu malam, kala itu, ia pernah bermimpi bertemu dengan seseorang yang berwajah putih bercahaya, posturnya tinggi. Dalam mimpinya, seseorang itu cuma mengangguk-anggukkan kepala saja. Tanpa bertutur sepatah kata pun. S

ebangun dari tidur, keinginannya untuk shalat semakin membara. Ia menggelar sajadah dan membaca bacaan-bacaan shalat yang ada di buku tuntunan shalat. Berselang seminggu kemudian, hatinya telah mantap dan akhirnya ia pun memilih untuk memeluk Islam di salah satu masjid di Medan. Sementara anaknya bersyahadat di Dayah Rauhul Mudi, dituntun langsung oleh Abiya.

Selama delapan bulan berjalan, hati Pak Abdulla semakin tenang. Ia mulai terbiasa dengan agama barunya itu. “Hati saya sekarang menjadi tenang, Teungku. Dulu saya brutal. Saya tidak punya rasa kasih sayang kepada keluarga,” ujarnya menjawab pertanyaan saya terkait keadaannya setelah jadi mualaf. “Bahkan kehidupan saya sekarang terkontrol dan hati saya terasa dingin. Saya bisa mengurusi dua putra tanpa harus marah- marah,” lanjutnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved