Breaking News:

Berita Subulussalam

UAS: Para Gubernur, Bupati dan Wali Kota Studi Bandinglah ke Kota Subulussalam

Hal itu disampaikan Ustaz Abdul Somad saat tausiah di Pesantren Daarul Affani, Desa Harapan Baru, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Rabu (13/10/20

Penulis: Khalidin | Editor: Mursal Ismail
SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN
Ustadz Abdul Somad bersama Wali Kota Subulussalam, H Affan Alfian Bintang SE, menziarahi Makam Syekh Hamzah Fansuri di Desa Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Rabu (13/10/2021) 

Usai ziarah di makam ulama ahli tasauf, filosofi dan sastrawan itu, UAS melanjutkan perjalanan menuju Pondok Pesantren Darurrahmah, Sepadan, Kecamatan Rundeng.

Seperti diberitakan Kunjungan Ustaz Abdul Somad alias UAS ke Kota Subulussalam, Rabu (13/10/2021) menorehkan momen penting bagi masyarakat setempat.

Pasalnya, selain memberikan tausiah kepada masyarakat dai sejuta ummat tersebut turut menandatangani peresmian Pondok Pesantren Daarul Affani di Desa Harapan Baru, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam.

UAS bersama rombongan tiba di Kota Subulussalam tepat pukul 15.00 WIB dan langsung menuju ke komplek Pondok Pesantren Daarul Affani di Desa Harapan Baru.

Rombongan UAS disambut Wali Kota Subulussalam, H Affan Alfian Bintang SE bersama wakilnya Drs Salmaza MAP, Kapolres Subulussalam AKBP Qori Wicaksono, SIK, Kajari Mayhardy Indra Putra, SH, MH.

Tampak pula Ketua TP PKK Subulussalam, Hj Mariani Harahap, SE, Ketua BKMT Ny Ramadhiany SIP serta sejumlah kepala SKPK dan masyarakat.

UAS mendapat kehormatan menerima syal khas Kota Subulussalam dan Pondok Pesantren Daarul Affani yang dipakaikan langsung Walkot Affan Bintang.

Dalam sambutannya, Walkot Affan Bintang menyampaikan kunjungan UAS ke Darul Affani, kebanggaan bagi masyarakat terutama keluarga besar pesantren.

Hal ini pula menurut Affan Bintang akan menjadi motivasi baginya dan manajemen membesarkan pesantren ke depan

Dia bercita-cita melahirkan generasi cinta quran sesuai programnya bersama sang wakil yakni menjadikan Kota Subulussalam jadi kota santri.

Dia pun menjelaskan program unggulan Daarul Affani antara lain melahirkan hafiz quran  dan wirausaha.

“Dan kami berharap nantinya akan lahir generasi muda dari pesantren daarul Affani mengikuti jejak Ustaz Abdul Somad alias UAS dengan kata lain ke depan akan lahir UAS-UAS lainnya,” kata Affan Bintang.

Kegiatan ziarah ke makam Syekh Hamzah Fansuri ini disambut baik pemerintah setempat dan masyarakat  dalam rangka mengangkat kembali kemasyhuran ulama yang dikenal dengan salah satu karya populernya berjudul 'Syair Perahu'.

Kunjungan ke Subulussalam ada momen ziarah sehingga diharapkan bisa menggabungkan karya tulis dan sejarah Syekh Hamzah Fansuri, yang belum terlalu dikenal oleh kebanyakan rakyat Aceh dan dunia luar itu berada di Subulussalam nantinya jadi tersohor ke penjuru nusantara bahkan dunia.

Untuk diketahui, makam ulama sufi yang juga ahli filosofi dan sastrawan internasional ini patut dikunjungi karena memiliki historis yang monumental lewat berbagai karyanya. 

Berdasarkan sejumlah referensi, Syekh Hamzah Fansuri seorang cendekiawan, ulama tasawuf, dan budayawan terkemuka Aceh. Ia salah satu penyebar agama Islam di Aceh. 

Desa Oboh terletak sekitar 23  kilometer atau 30-an menit perjalanan darat dari pusat Kota Subulussalam.

Makam sang ukama masyhur ini terawat rapi dalam bangunan kecil. Sebuah sungai mengalir tak jauh dari sisi kiri makam.

Di tempat itu, tak hanya Syekh Hamzah Fansuri yang dimakamkan. Di sekitarnya ada tiga makam lagi, yakni sahabat dan mertua Fansuri.

Bagi siapapun yang berkunjung, akan merasakan suasana tenang di tempat ini.

Ali Hasjmy dalam Jembatan Selat Malaka menuliskan, Hamzah juga memiliki salah seorang saudara bernama Ali.

Pada masa Sultan Alaiddin Malikussaleh memimpin Kerajaan Islam Samudera Pasai (1261-1289 Masehi), berduyun-duyun ulama Persia datang ke sana untuk mengajar di dayah-dayah.

Berbagai referensi dan artikel menyebutkan nama Fansur merupakan sebutan orang-orang Arab terhadap Kota Barus dan dalam kisah kain dikatakan menunjukan daerah Singkil, Aceh.

Kota kecil ini berada di pantai barat Sumatera yang terletak antara Sibolga, Sumatera Utara, dan Singkil, Aceh.

Namun yang pasti, Syekh Hamzah Fansuri diakui sebagai salah seorang tokoh kaliber besar dalam perkembangan Islam di nusantara.

Ia juga pujangga Islam yang menghiasi lembaran sejarah kesusastraan Melayu dan Indonesia.

Bahkan, penyair dan ahli tasawuf Aceh abad ke 17 tersebut, Selasa (13/8/2013) lalu mendapat anugerah Bintang Budaya Parama Dharma, yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara  penganugerahan Bintang Maha Putera, dan Tanda Jasa di Istana Negara.

Hamzah Fansury hidup dan berpengaruh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), merupakan tokoh utama yang mengangkat bahasa Melayu dari bahasa lingua-fransca, menjadi bahasa ilmu dan sastra.

Peneliti dari Malaysia, Prof Dr. Naguib Alatas dalam bukunya  “The Mysticcism of Hamzah Fansuri” menyebut Hamzah Fansyuri sebagai  Pujangga Melayu terbesar dalam abad XVII, penyair Sufi yang tidak ada taranya pada zaman itu.

Karya-karya Hamzah Fansyuri antara lain “Syair Perahu, Syair Burung Pingai” dan lain-lain. “Syair Perahu” berisi petuah tetang kehidupan agar tetap memelihara amal kebaikan.

Dalam buku Hamzah Fansuri Penyair Aceh, Ali Hasjmy menuliskan, selama hidup, Syekh Hamzah pernah mengembara untuk merajut ilmu. Lokasi-lokasi yang ia datangi seperti Banten (Jawa Barat), semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi, dan Arab.

Hamzah Fansuri menguasai bahasa Arab, Urdu, Parsi, dan Melayu. Ia juga sangat mahir dalam bidang fikih, tasawuf, falsafah, mantik, ilmu kalam, sejarah, sastra, dan lain-lain.

Salah satu karya Fansuri yang terkenal ialah "Syair Perahu". Cuplikannya seperti ini: "Inilah gerangan suatu madah/Mengarangkan syair terlalu indah/Membetuli jalan tempat berpindah/

Di sanalah i'tikad diperbetuli sudah// Wahai muda kenali dirimu/Ialah perahu tamsil tubuhmu/Tiadalah berapa lama hidupmu/Ke akhirat jua kekal diammu//Hai muda arif budiman/

Hasilkan kemudi dengan pedoman/Alat perahumu juakerjakan/Itulah jalan membetuli insan. Untuk mengenang kemasyhuran syair ini, Pemko Subulussalam 2017 lalu membangun tugu di perempatan jalan nasional, Penanggalan persis dekat SPBU Kasman Lizar.

Syaie Syekh Hamzah Fansuri lainnya adalah;

Hamzah ini asalnya Fansuri // Mendapat wujud di tanah Shahrnawi // Beroleh khilafat ilmu yang ‘ali // Daripada ‘Abd al-Qadir Jilani.

 Hamzah di negeri Melayu // Tempatnya kapur di dalam kayu.

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah // mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah // dari Barus terlalu payah // akhirnya dijumpa di dalam rumah.

Hamzah Fansuri orang uryani // seperti ismail menjadi qurbani // bukan Ajami  lagi Arabi //senantiasa wasil dengan Yang Baqi. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved