Breaking News:

Warga Tamiang Ditangkap Karena Usir Perusak Kebun, Konflik Perbatasan Aceh-Sumut

Tiga warga Tenggulun, Aceh Tamiang yang dijemput paksa Polres Langkat dari kediamannya karena diduga melakukan tindak pidana

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Sejumlah orang terlihat beraktivitas di atas lahan perkembangan Tenggulun, Aceh Tamiang, beberapa waktu lalu. Kemunculan para penggarap berpotensi memunculkan konflik antar-masyarakat 

KUALASIMPANG - Tiga warga Tenggulun, Aceh Tamiang yang dijemput paksa Polres Langkat dari kediamannya karena diduga melakukan tindak pidana kekerasan pada 1 Oktober 2021.

Berdasarkan surat penangkapan yang ditujukan kepada Sudir (48), kekerasan ini terjadi di Dusun Arasnapal, Desa Bukitmas, Kecamatan Besitang, Langkat, Sumatera Utara. Sudir bersama dua temannya, Indra dan Edi pun dijemput paksa Polres Langkat dari kediamannya, Senin (11/10).

Masyarakat berdalih kekerasan pada 1 Oktober itu dipicu kehadiran sekelompok orang diduga dari Sumatera Utara melakukan aktivitas di atas lahan perkebunan milik masyarakat Tenggulun.

Kehadiran itu menarik perhatian seratusan masyarakat Tenggulun ke lokasi untuk menanyakan maksud kehadiran orang-orang tersebut. Pasalnya kata warga, kelompok yang diduga dari Sumut itu datang membawa alat berat untuk membersihkan lahan yang sebelumnya sudah ditanami pohon kelapa sawit dan porang. "Kebun kami dirusak, diratakan pakai buldoser. Ini yang membuat masyarakat marah," kata warga.

Warga mengklaim tidak ada bentrokan fisik karena kedatangan masyarakat hanya untuk mengusir para penggarap. Namun karena ada sedikit perlawanan, masyarakat terpancing hingga merusak sepeda motor salah satu penggarap. "Ada yang mencoba melawan pakai pisau, ini kan sudah terang-terangan," ungkapnya.

Masyarakat Tenggulun sendiri memastikan objek perkara berada di wilayah adminitratif Aceh Tamiang, atau persisnya Dusun Adilmakmur II, Kampung Tenggulun, Kecamatan Tenggulun, Aceh Tamiang.

Keyakinan warga sudah dikuatkan dengan Permendagri 28/2020 tentang Batas Daerah Kabupaten Aceh Tamiang dengan Kabupaten Langkat.

Kekisruhan mulai muncul setelah terbitnya putusan eksekusi PN Stabat terhadap sebuah lahan yang sedang digarap petani Aceh Tamiang pada 10 Maret 2021. Putusan ini dikatakan warga salah sasaran karena telah di luar kewenangan PN Stabat.

Dalam eksekusi ini, petugas turut menumbangkan sejumlah tanaman masyarakat dan merobohkan sebuah pondok petani menggunakan alat berat.

Berdasarkan berita acara eksekusi penyerahan PN Stabat Nomor: 7/Pen.Eks/Akta Perdamaian/2020/PN Stb, eksekusi dilakukan atas permohonan Bukhary (68) warga Jalan Selambo IV Nomor 14, Kecamatan Medan Amplas, Medan, Sumatera Utara.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved