Breaking News:

Opini

Fenomena Rentenir di Negeri Syariah

BEBERAPA waktu lalu kita cukup dikagetkan dengan pemberitaan terkait kejadian bunuh diri seorang kepala Rumah Tangga di Kabupaten Pidie

Editor: bakri
Fenomena Rentenir di Negeri Syariah
FOR SERAMBINEWS.COM
DEDY SAPUTRA JALIL PUTRA TIRO, Pemerhati Sosial Masyarakat

OLEH DEDY SAPUTRA JALIL PUTRA TIRO, Pemerhati Sosial Masyarakat

BEBERAPA waktu lalu kita cukup dikagetkan dengan pemberitaan terkait kejadian bunuh diri seorang kepala Rumah Tangga di Kabupaten Pidie karena terjerat hutang dengan rentenir.

Kronologisnya, si bapak ini meminjam uang kepada rentenir sebesar Rp 4.500.000, yang berujung kepada membengkaknya pinjaman tersebut karena bunganya yang sangat besar. Bapak ini harus menanggung bunga sebesar Rp 3.180.000 atau sebesar 70% dari pinjamannya tersebut.

Sehingga, total pinjaman yang harus dibayarkannya menjadi sebesar Rp 7.680.000 dalam kurun waktu hanya dua bulan. Usut punya usut kejadian bunuh diri karena terlilit utang dengan rentenir ini ternyata sangat sering terjadi di sekitar kita. Anda bisa dengan mudah menemui berita bunuh diri karena utang dengan rentenir apabila meng-googling -nya di internet.

Meskipun hal ini tidak lazim terjadi di Aceh, namun bukan tidak mungkin ini adalah fenomena gunung es, di mana kasusnya mungkin saja pernah terjadi atau bahkan sering terjadi di Aceh, namun bisa saja luput dari pemberitaan. Kata rentenir berasal dari kata rente, yang artinya bunga atau riba, sedangkan, nir- artinya orang atau subjek.

Secara istilah rentenir dapat diartikan sebagai orang yang memungut riba. Dari definisi ini saja sudah terbayang oleh kita dengan jelas bahwa ini adalah suatu perbuatan haram, karena bunga atau unsur riba sendiri adalah hal yang dilarang dalam syariah Islam. Orang yang terlilit utang dengan rentenir nekat bunuh diri biasanya karena merasa tertekan.

Tekanan yang dirasakan karena harus membayar bunga utang yang besar sampai harus menanggung rasa malu, karena dibentak- bentak di depan orang banyak saat ditagih oleh rentenir, dan diperparah lagi merasa tidak ada jalan keluar serta tidak ada yang membantunya. Kalau sudah seperti ini, maka ini sudah menjadi urusan nyawa, apalagi mengingat kondisi pandemi saat ini sangat mudah orang-orang meminjam uang. Begitu banyak pinjaman online (pinjol) tanpa persyaratan yang ketat. Sehingga, masyarakat sangat mudah mendapat pinjaman, namun sulit membayarnya yang berujung kepada hal-hal yang tidak diinginkan.

Mengedepankan nilai sosial

Tidak bisa dipungkiri bahwa pandemi Covid-19 telah berdampak sangat besar terhadap kondisi ekonomi masyarakat kita saat ini. Yang lebih parah lagi adalah Covid-19 ini berlangsung hampir dua tahun lamanya. Ini tentu saja waktu yang sangat lama sepanjang sejarah, oleh karena itu hampir tidak ada orang yang tidak berdampak dari pandemi yang berkepanjangan ini.

Menyadari hal ini, maka perlu untuk kita semua memahami kondisi psikologis orang di sekitar kita saat ini. Kembali kepada ajaran Islam yang mengajarkan kita untuk selalu hablu minannas, menjaga hubungan dengan sesama manusia dengan saling membantu satu sama lainnya. Kepedulian kepada saudara, kerabat, dan tetangga dalam suasana kondisi pandemi ini adalah hal terdepan yang kita butuhkan. Selain nilai-nilai kerohanian, nilai sosial di antara kita perlu dibangkitkan kembali.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved