Breaking News:

Maulid Harus Jadi Muhasabah dalam Meneladani Rasulullah

Sebagai umat yang merindukan dan mencintai Nabi Muhammad SAW, kita harus menjadikan bulan Maulid sebagai momen muhasabah

Editor: bakri
For Serambinews.com
Warga diperiksa petugas kesehatan setelah mengalami keracunan diduga usai menyantap kenduri maulid di Gampong Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, Selasa (19/10/2021). 

BANDA ACEH - Sebagai umat yang merindukan dan mencintai Nabi Muhammad SAW, kita harus menjadikan bulan Maulid sebagai momen muhasabah (intropeksi diri) apakah kita sudah meneladaninya, pantaskah kita meraih syafaatnya, serta akankah Rasulullah SAW tersenyum melihat umatnya yang istiqamah mengamalkan dua warisannya yaitu Alquran dan Hadist.

Atau sebaliknya, Rasulullah SAW akan menangis melihat umatnya yang tega mengkhianati dan menodai ajarannya yang sangat mulia.

Demikian antara lain disampaikan Guru Besar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan, Prof Dr Muzakkir MA, saat menjadi penceramah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1443 Hijriah, di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada Senin (18/10/2021) malam.

Karena masih dalam suasana pandemi Covid-19, acara tersebut dilaksanakan secara sederhana dan menerapkan protokol kesehatan.

Sesuai dengan Surat Al-Fath ayat 29, kata Prof Muzakkir, ada empat keteladanan yang melekat pada diri Rasulullah SAW dan orang-orang yang beriman bersamanya.

Pertama, Asyiddaa’ alal kuffaar, tegas dan keras terhadap orang-orang kafir dan segala bentuk kekufuran--perbuatan yang mengingkari kebenaran--sikap ini dibuktikan Nabi SAW bahwa tidak adanya keberpihakan terhadap orang kafir terutama dalam urusan Aqidah serta penegakan kebenaran dan keadilan.

Kedua, Ruhamaa u bainahum, berkasih sayang sesama muslim.

Membangun nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang terhadap sesama, saling menyayangi, saling membela, saling membantu, bukan malah saling mengejek, memfitnah, dan menzalimi.

Ketiga, Taroohum Rukka’an Sujjada, Umat Nabi Muhammad SAW adalah umat yang selalu menjaga shalatnya, ruku’ dan sujud mencari karunia Allah SWT, serta mengharapkan ridha-Nya.

Shalat bagaikan nafas dalam jiwa mereka, menjadi kebutuhan hidup, bagaikan multivitamin yang menyehatkan jiwa dan raga, menjadi daya tahan dan daya juang dalam menghadapi segala persoalan hidup, serta pencegah perbuatan keji dan mungkar.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved