Breaking News:

Bunga Pinjaman Online Dipangkas Hingga 50 Persen

Sekretaris Jenderal AFPI Sunu Widyatmoko mengatakan, hal tersebut sebagai upaya seluruh anggota resmi dalam menghadapi pinjol ilegal.

Dok. Polres Metro Jakbar
Tim Krimsus Satreksrim Polres Metro Jakarta Barat menggerebek kantor fintech penyedia pinjaman online ilegal di Sedayu Square Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (13/10/2021). 

Di sisi lain, dia menambahkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih berlakukan moratorium atau pemberhentian untuk perusahaan fintech dapat izin baru.

"Saat ini masih moratorium, OJK lakukan kajian terhadap perusahaan terdaftar untuk jadi berizin, butuh waktu lama untuk berizin, dari sebelumnya 150 anggota jadi 106 anggota di kami.

OJK minta anggota kami menyerahkan tanda (resmi) terdaftarnya karena butuh waktu lama proses berizin, tapi bisa masuk lagi setelah proses moratorium berakhir," pungkas Sunu.

Sementara itu, Ketua Klaster Fintech Multiguna AFPI Rina Apriana mengatakan perusahaan pinjaman online (pinjol) sudah memberikan pinjaman atau utangan Rp 250 triliun sejak 2017 hingga Agustus 2021. Berdasarkan data pihaknya, perusahaan pinjol atau financial technology (fintech) lending sudah melayani 193 juta transaksi di sisi pemberi pinjaman.

"Sementara untuk peminjam sudah diberikan ke sebanyak 479 juta transaksi per Agustus 2021," ujarnya.

Baca juga: Pinjaman Online Ilegal Ini Punya Kantor Seperti Warnet yang Luas, Polisi Amankan 150 Unit Komputer

Baca juga: Sekda Aceh Serahkan Dokumen Rancangan KUA dan PPAS 2022 kepada Ketua DPRA, Ini Kata Taqwallah

Baca juga: Sopir Truk di Medan Jadi Tersangka, Pukul Pria Diduga Bajing Loncat hingga Tewas

Kemudian, dia menjelaskan dari sisi penyelenggara fasilitas pinjol, peluang tersebut cukup besar dengan jumlah 106 anggota resmi terdaftar dan berizin di AFPI.

"Penyelenggara terdaftar di kita ada 106 perusahaan. Layani 479 juta (transaksi) eminjam, 479 juta ini ada yang repeat order atau peminjaman berulang," kata Rina.

Dengan capaian itu, AFPI memperlihatkan kontribusi industri fintech terhadap perekonomian Indonesia hingga saat sekarang. "Dengan inovasi-inovasi teknologi di fintech beri kemudahan akses, jenis layanan keuangan, dan penetrasi lebih banyak ke konsumen di daerah terpencil," kata Rina.
Lebih jauh Rina menjelaskan pengguna aplikasi pinjaman online (pinjol) tidak hanya meminjam dana untuk belanja atau berfoya-foya. Pengguna juga menggunakan pinjaman untuk kegiatan produktif, di antaranya mengembangkan bisnis.

"Porsi untuk penggunaan produktif sudah kisaran 50 sekian persen. Sementara, kalau porsi di multiguna 46 sekian persen, ada yang untuk produktif juga," ujarnya.

Karena itu, Rina menilai keberadaan perusahaan pinjol atau financial technology (fintech) lending turut mendorong kemajuan bisnis Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved