Breaking News:

Salam

Kapolri Persilakan Warga Mengkritik

KEPOLISIAN RI (Polri) menggelar festival seni mural memperebutkan Piala Kapolri 2021. Lomba itu bertema Peran Generasi Muda untuk Berkreasi dalam

Editor: bakri
For Serambinews.com
Kapolri, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo 

KEPOLISIAN RI (Polri) menggelar festival seni mural memperebutkan Piala Kapolri 2021. Lomba itu bertema Peran Generasi Muda untuk Berkreasi dalam Menyampaikan Informasi yang Positif di Masa Pandemi Covid-19. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mempersilakan masyarakat untuk menyampaikan kritik atau masukan kepada Polri, baik positif maupun negatif.

"Lomba mural ini diselenggarakan dengan tujuan salah satunya adalah memberikan wadah kebebasan berekspresi bagi masyarakat. Sehingga, para peserta lomba mural nanti boleh menghasilkan karya seni berupa kritikan ke Polri, baik itu positif maupun negatif, tidak ada masalah," tegasnya.

Sigit menekankan, peserta lomba nantinya dipersilahkan untuk menuangkan segala bentuk ekspresi dan pandangannya terhadap institusi Korps Bhayangkara. Listyo menekankan, Polri bukanlah lembaga anti-kritik. Katanya, Polri sangat menjunjung tinggi kebebasan berpendapat sebagaimana sistem demokrasi di Indonesia. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pihak yang telah menyampaikan kritik membangun kepada institusi Korps Bhayangkara.

Ia berpendapat, kritik tersebut justru menjadi bahan evaluasi agar Polri menjadi seperti yang diinginkan dan dicita-citakan masyarakat. "Polri tidak akan pernah anti-kritik. Semua masukan yang sifatnya membangun akan kita tampung, untuk dijadikan bahan instrospeksi agar menjadi semakin baik ke depannya," kata Listyo.

Menurutnya, konsep "presisi" atau prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan sudah digelorakan di internal Polri. Gagasan presisi itu lahir dari semangat perubahan agar Polri menjadi lebih baik. Namun, dalam proses menuju lebih baik ada dinamika yang berkembang. Karena itu, segala kritik dan masukan akan dijadikan bahan evaluasi agar Polri jauh lebih profesional. "Semangat awal mengusung konsep presisi untuk mewujudkan Polisi yang tegas namun tetap humanis masih terus berjalan hingga saat ini," kata Listyo. Kembali ke soal festival mural yang digelar Polri menyambut Hari Bhayangkara 2021.

Mural adalah gambar yang menggunakan dinding sebagai media, terutama dinding-dinding yang berada di ruang publik. Mural tidak mengunakan kata-kata tapi hanya berupa gambar. Sedangkan yang menggunakan kata-kata disebut grafiti. Tapi, sekarang, di ruang publik banyak kita lihat sudah meuncul penggabungan antara mural dan grafiti. Mural dan grafiti biasanya hadir ke ruang publik sebagai bentuk ungkapan, mengkritisi masalah sosial dan lainnya.

Nah, jika kini Kapolri menggelar festival mural yang pesertanya boleh mengkritik Polri, ermasuk hal-hal yang dinilai negatif, mak itu sangat sejalan dengan harapan banyak pengamat politik dan sosial di dalam negeri. Ketika bermunculan banyak mural yang mengkritik kinerja pemerintah baru-baru ini, banyak pengamat politik dan sosial meminta pemerintah dan penegak hukum supaya melihatnya sebagai karya seni sekaligus kritik sosial.

Pengamat politik yang juga dosen Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin , misalnya, menjelaskan, kritik sosial dalam kehidupan demokrasi bukan suatu penghinaan. Menurut dia, kritik sosial akan terus muncul dalam kehidupan bernegara, khususnya selama masih ada masyarakat yang hidup dalam kesulitan, kesusahan, dan kekurangan.

Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Poengky Indarti mengatakan, kritik terhadap Polri harus dianggap sebagai bentuk perhatian dan masukan untuk instrospeksi diri atau perbaikan. Anggota Polri mesti profesional, jaga sopan santun, dan tidak menunjukkan arogansi.

"Seluruh anggota Polri harus berhati-hati dalam melaksanakan tugas. Tetap kedepankan profesionalitas, jaga sopan santun, jangan menunjukkan arogansi. Polisi itu tugasnya melayani, mengayomi, melindungi masyarakat, dan menegakkan hukum, guna mewujudkan harkamtibmas," ungkapnya.

Jadi, festival mural yang digelar Polri itu harus kita maknai sebagai memberi wadah kepada masyaralat untuk berekspresi sekalgus juga menyampaikan “curhatnya” kepada Polri, terutama tentang prilaku polisi di mata masyarakat. Artinya, yang baik harus diapresiasi sedangkan yang buruk juga harus disampaikan mengunakan “standar” demokrasi, yakni kritik secara sehat dan sopan atau beretika. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved