Breaking News:

Opini

Rasulullah Pemimpin Paripurna

SETIAP Tahun umat Islam di berbagai penjuru dunia, merayakan hari lahirnya Rasulullah Muhammad SAW. Hal serupa juga dilakukan

Editor: bakri
Rasulullah Pemimpin Paripurna
FOR SERAMBINEWS.COM
MUSLIM, S.HI, MM Penulis adalah Anggota DPR-RI Fraksi Partai Demokrat

OLEH MUSLIM, S.HI, MM Penulis adalah Anggota DPR-RI Fraksi Partai Demokrat

SETIAP Tahun umat Islam di berbagai penjuru dunia, merayakan hari lahirnya Rasulullah Muhammad SAW. Hal serupa juga dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, dan tak terkecuali Aceh. Masyarakat kita punya tradisi yang berbeda-beda, dalam perayaan peringatan hari lahirnya baginda Rasulullah SAW. Perbedaan pola dan cara tersebut sudah menjadi warisan kebudayaan yang patut dijaga, diasuh, serta diasih oleh generasi bangsa, sebab hal itu mengandung nilai yang positif. Di Aceh, bulan maulid disambut secara sukacita.

Berbagai kegiatan mulai dari zikir bersama, membawa hidangan secara sukarela dari rumah untuk syukuran atau kenduri, hingga pada malam harinya ditutup dengan ceramah agama (dakwah). Semua ini merupakan wujud kesyukuran, kebanggaan, serta kebahagiaan masyarakat Aceh terhadap Nabiyullah Muhammad SAW. Tahun ini, hari kelahiran Nabi 12 Rabiul Awal bertepatan dengan 19 Oktober 2021.

Masyarakat Indonesia kembali merayakan maulid di tengah pandemi Covid- 19. Biasanya, hari maulid menjadi hari libur nasional, tetapi Pemerintah menggeser hari libur tersebut menjadi tanggal 20 Oktober 2021, sebagai bentuk antisipasi terhadap munculnya kasus baru Covid-19. Perubahan hari libur secara nasional, tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 712, 1 dan 3 Tahun 2021. Perubahan hari libur sudah menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat tesendiri.

Di balik itu semua, yang paling penting dari esensi peringatan kelahiran Nabi adalah bagaimana kita mampu meneladani Rasulullah, baik dari sikap dan tindakan hingga berdampak pada diri kita, serta mengubah keadaan negara ke arah yang lebih baik. Kepemimpinan Rasulullah menjadi role model yang sempurna. Kepastian ini telah nyata tersebut dalam Alquran, yang berbunyi, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (QS Al-Ahzab : 21).” Ayat ini menjadi dasar bagi kita, untuk meneladani Rasulullah dalam segala aspek, baik ucapan maupun perbuatan. Pemimpin aspiratif Rasulullah adalah pemimpin yang paripurna. Beliau tidak membedakan suku, ras, dan agama (SARA). Hal ini tergambar dalam berbagai kisah tentang kehidupan beliau.

Tidak pernah satu pun perang di masa hidupnya menjadi jalan penjajahan kaum muslim atas nonmuslim. Pascaperang badar misalnya, Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin. Saat ditanya apa yang harus dilakukan terhadap para tawanan perang? Rasulullah menjawab perlakukanlah mereka dengan baik. Fakta ini menunjukkan keutamaan akhlak dan bersikap baik adalah kunci dari sebuah kepemimpinan.

Hal senada juga bisa ditemukan dalam Piagam Madinah bahwa Nabi Muhammad menjadi pemimpin dalam situasi masyarakat yang tidak homogen. Saat Madinah dipimpin oleh Rasulullah, ada enam kaum yang menjadi penduduk Madinah: Arab Madinah, Arab Mekkah, Arab Madinah penganut paganisme, golongan munafik, golongan Yahudi, serta penganut agama kristen (J. Suyuthi Pulungan, 1994:57).

Rasulullah SAW menjadi contoh pemimpin yang aspiratif yang mampu menjaga keseimbangan dan menghargai segala bentuk perbedaan. Pentingnya perbaikan SDM dan SDA Membaca sejarah kehidupan Rasul, maka kita akan menemukan bagaimana semangat beliau dalam melakukan perbaikan terhadap Sumber Daya Manusia (SDM). Guna menopang atau memperkuat dakwah, dibentuklah pusat pendidikan bagi pengikut Nabi yaitu Darul Arqam yang didirikan pada tahun ketiga Rasulullah berdakwah. Ketika itu, jumlah orang Muslim masih sangat sedikit dan berdakwah masih dijalankan secara sembunyi-sembunyi. Lokasi Darul Arqam adalah sebuah rumah yang letaknya di kaki Bukit Shafa milik Al Arqam bin Abil Arqam.

Rasulullah menyadari bahwa pentingnya lembaga pendidikan dalam melahirkan generasi Islam yang berkualitas. Rasulullah pun telah mengisyaratkan pentingnya ilmu dalam sabdanya, “Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.” Selain memperbaiki SDM, Rasulullah juga tidak melupakan pentingnya pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) untuk menunjang sektor pertanian pada masa itu.

“Sebagian besar penduduk Madinah mengolah tanah mereka sendiri, namun ada juga yang mencari keutungan dengan menerapkan sistem muzara’ah; dengan orang yang mengolah tanahnya (Syahin, 2004: 31). Belajar dari Rasulullah Sebagai umat Rasulullah, kita punya kewajiban menjadi teladan untuk sesuatu yang indah dan baik yang teladannya bersumber dari Nabi Muhammad SAW. Rasulullah harus menjadi inspirasi bagi rakyat maupun pemimpin. Perbaikan SDM adalah hal penting yang harus dilakukan.

Karena itu, penulis menyadari bahwa mendorong peningkatan kualitas perguruan tinggi, baik dengan peralihan status dari swasta menjadi negeri, penambahan program studi, serta peningkatan infrastruktur pendidikan tinggi adalah salah satu langkah kongkrit dalam upaya peningkatan kualitas SDM. Hal yang sama juga harus dilakukan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Selain itu, kita tidak boleh melupakan keberadaan dayah yang selama ini juga telah mengambil porsi besar dalam mendidik umat.

Dayah sudah diakui sebagai lembaga pendidikan pertama di Indonesia, jauh sebelum pendidikan umum hadir, dayah telah mengambil peran yang besar dalam pencerdasan umat. Keteladanan lainnya yang perlu dipelajari dari Rasulullah adalah pada sektor memperkuat ekonomi umat dalam bidang pertanian. Sektor ini harus menjadi fokus utama di Aceh, apalagi mengingat pertanian berkontribusi besar dalam bidang ekonomi. Pertanian memegang peran penting dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat Aceh.

BPS Aceh, mencatat sektor pertanian berkontribusi sebesar 30,77 persen terhadap total PDRB (BPS: Triwulan II 2021). Jika kita membaca lebih dalam, sektor pertanian merupakan ruang partisipasi paling besar tenaga kerja di Aceh. Data periode Februari 2021, lapangan pekerjaan yang memiliki tenaga kerja paling banyak adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 37,40 persen (BPS: Indikator Tenaga Kerja Aceh, 2021). Sejarah Aceh sebagai sentral rempah di masa lalu, menjadi salah satu bukti bahwa tanah Aceh memiliki sumber daya yang potensial untuk menggerakkan sektor pertanian.

Peluang pada sektor ini, perlu mengajak kaum milenial, bahkan Kementerian Pertanian memiliki berbagai program untuk mendorong semangat bertani bagi kaum muda. Guna memperkuat basis pertanian, kita perlu melakukan perbaikan SDM petani, dengan penguatan para penyuluh pertanian. Kita sadar betul bahwa penyuluh adalah ujung tombak, terdekat dengan para petani. Proses transfer knowledge yang baik akan membuat petani mandiri. Pemerintah perlu memperhatikan kesejahteraan hidup penyuluh, sehingga mereka bekerja secara maksimal mendampingi para petani.

Karena itu, sudah sepatutnya kita mengikuti pola pikir dan pola kerja Rasulullah dalam semangat perbaikan SDM dan SDA. Sebagai rahmatan lil ‘alamin, masih banyak keteladanan lain pada diri Rasul, yang menjadi pembelajaran nyata bagi kita segenap kaum muslimin.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved