Breaking News:

Ibu Harus Cegah Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah

Sejumlah pakar dan praktisi kesehatan mengimbau kepada ibu dan calon ibu supaya dapat mewaspadai dan melakukan pencegahan

Editor: bakri
SERAMBIFM/ILHAM
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RSIA, dr Imam Zahari SpOG dan Kepala Instalasi Neotal Intensive Care Unit (NICU) dan Instalasi Pediatric Intensive Unit (PICU) RSIA, dr Indiana Aulia MKed (Ped) SpA, menjadi narasumber Talkshow bersama Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), dengan tema "Resiko Bayi Berat Badan Lahir Rendah dan Pencegahannya", di Radio Serambi FM 90.2, Jumat (22/10/2021). Talkshow dipandu host Iska Novita. 

BANDA ACEH - Sejumlah pakar dan praktisi kesehatan mengimbau kepada ibu dan calon ibu supaya dapat mewaspadai dan melakukan pencegahan terhadap Bayi berat badan lahir rendah. Karena kondisi itu bisa memberi dampak kepada bayi.

Isu itu dibahas dalam talkshow interaktif dengan tema “Resiko Bayi berat badan lahir rendah dan pencegahannya” di radio Serambi FM, Jumat (22/10/2021). Talkshow menghadirkan dua narasumber, yaitu dr Indiana Aulia M.Ked (Ped), SpA selaku Kepala PICU dan NICU Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh, dan dr Imam Zahari SpOG, selaku dokter spesialis obsetri dan ginekologi RSIA, yang dipandu oleh Iska Novita.

dr Indiana Aulia mengatakan, Bayi berat badan lahir rendah, merupakan bayi yang lahir dengan berat badan di bawah 2.500 gram atau 2,5 kg.

Katanya, ada banyak penyebab bayi lahir dnegan berat badan rendah, bisa karena lahir premateur, pertumbuhan janin terhambat, hingga bisa disebabkan juga oleh adanya inveksi virus pada si ibu saat sedang mengandung.

“Penyebabnya, Bisa saja si ibu ada inveksi virus saat sedang dalam kandungan. Selain itu Gaya hidup si ibu saat mengandung, merokok, alkohol, hingga narkoba,” ujarnya.

Sementara dr Imam Zahari mengatakan, Bayi berat badan lahir rendah menjadi kompilkasi kelahiran yang paling sering terjadi atau muncul kasusnya.

Katanya, di belahan dunia manapun, kehamilan harus cukup bulan, yaitu 9 bulan, 37-42 minggu, kehamilan aterm. Sehingga dapat menghindari terjadi berat badan rendah itu.

“Cukup bulan saja tidak menjamin anak dalam kondisi cukup berat badan, atas 2,5 kg.Pencegahannya, harus dilakukan dengan pemeriksaan berkelanjutan,” ujarnya.(mun)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved