Breaking News:

Jurnalisme Warga

Memahami Kekerasan Tidak Hanya dalam Bentuk Fisik

Menjadi seorang amil, selain berjibaku dengan pengelolaan dana zakat, kita juga dituntut memiliki hati yang kuat

Editor: bakri
Memahami Kekerasan Tidak Hanya dalam Bentuk Fisik
FOR SERAMBINEWS.COM
HAYATULLAH  ZUBOIDI, M. Sos., Tenaga Profesional Baitul Mal Aceh, aktif di Forum Aceh Menulis (FAMe), serta Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Lhokseumawe

OLEH HAYATULLAH  ZUBOIDI, M. Sos., Tenaga Profesional Baitul Mal Aceh, aktif di Forum Aceh Menulis (FAMe), serta Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Lhokseumawe

Menjadi seorang amil, selain berjibaku dengan pengelolaan dana zakat, kita juga dituntut memiliki hati yang kuat. Pasalnya, seorang amil kerap mendengar dan menghadapi mustahik yang memiliki masalah yang begitu rumit. Amil manjadi tempat bagi mereka untuk “bersandar”.

Terkadang amil tidak berniat untuk mengungkit terkait permasalahan yang sedang diderita mustahik karena dikhawatirkan akan membangkit serta menambah rasa sakit mereka saat mengingatnya. Namun, menurut mustahik, dengan menceritakan kepada amil seakan menjadi pelipur lara ketika penderitaan mereka didengar oleh orang yang tepat.

Pertengahan Oktober 2021, kami diamanahkan  Baitul  Mal Aceh (BMA) untuk memverifikasi calon penerima bantuan dari salah satu program BMA, yaitu Bantuan Dana untuk Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Anak Telantar tahap II. Saya bersama tiga amil lainnya, Shafwan Bendadeh, Fachrur Razi, dan Anwar Ramli ditugaskan ke empat kabupaten/kota: Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Aceh Timur, dan Kota Langsa.

Ada 49 data yang harus kami jumpai dengan durasi waktu enam hari. Karena kami start-nya dari Kota Banda Aceh, maka kabupaten pertama yang harus kami kunjungi adalah Kota Lhokseumawe. Di sini ada 16 data yang harus kami selesaikan selama seharian penuh.

Kemudian, kami lanjutkan ke Kabupaten Aceh Utara yang jarak tempuh antara satu rumah calon mustahik ke rumah calon mustahik lainnya mencapai satu jam perjalanan. Bahkan, ada yang di perbatasan kabupaten lain. Ada 16 data yang harus kami selesaikan di Aceh Utara selama dua hari.

Begitu pula Aceh Timur, ada sembilan data di sana. Kondisi di lapangan hampir sama dengan Aceh Utara, bahkan ada satu data yang lokasinya harus melewati Kabupaten Aceh Tamiang untuk bisa sampai ke desa tersebut, yaitu Desa Buket Tiga, Kecamatan Birem Bayeun. Beda lagi dengan Langsa, datanya memang tidak banyak, hanya tiga orang saja, tapi menghabiskan waktu seharian juga lantaran calon mustahiknya berpindah-pindah tempat.

Keempat kabupaten/kota yang kami kunjungi tersebut, para korbannya mengalami kasus yang sama, antara lain, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran oleh kepala keluarga, dan pengancaman. Yang miris, kasus-kasus tersebut banyak dialami oleh keluarga-keluarga yang kelas ekonominya menengah ke bawah.

Saat kami datang, mereka ada yang tinggal di rumah sewa, rumah pemberian sementara oleh pihak desa, dan ada pula yang rumahnya hanya ditutupi terpal plastik yang sudah koyak dan beratap rumbia. Bocor lagi. Sungguh pilu memang.

Di setiap kabupaten, kami didampingi oleh tim dari dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Menurut mereka, sebenarnya sangat banyak kasus yang mereka tangani, hanya saja lokasinya yang sangat jauh serta jumlah sumber daya manusia yang mereka miliki sangat terbatas. Mereka tidak mampu menjangkau administrasi semua korban sehingga data yang dikirim ke BMA yang mampu mereka jangkau saja. Padahal, ada sekitar dua kali lipat lagi dari data tersebut.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved