Breaking News:

Periksa Segera Resiko Gangguan Berbahasa Pada Anak

Untuk meminimalisir gangguan berbahasa pada anak yang baru dilahirkan, orang tua disarankan untuk melakukan deteksi dini

Editor: bakri
SERAMBI FM/ARDY
Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan, dr Dina Alia SpTHT-KL PhD dan Kepala Instalasi Rehab Medik RSIA, dr Munadia SpKFR, menjadi narasumber talkshow bersama Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) yang mengangkat tema ‘Speech Delayed kah Anakku?’, di Radio Serambi FM 90.2, Selasa (27/10/2021). Talkshow tersebut dipandu host Iska Novita. 

BANDA ACEH - Untuk meminimalisir gangguan berbahasa pada anak yang baru dilahirkan, orang tua disarankan untuk melakukan deteksi dini serta melakukan pemeriksaan sejak awal (diagnosa), sejak anak-anak masih berusia di bawah 2 tahun. Tujuannya agar resiko gangguan berbahasa pada anak bisa dilakukan penanganan secara cepat.

Demikian diungkapkan Kepala Instalasi Rehab Medik RSIA, dr Munadia SpKFR yang menjadi narasumber talkshow bersama Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) di Radio Serambi FM yang mengangkat tema ‘Speech Delayed kah Anakku?, Rabu (27/10/2021).

Di samping itu, takshow yang dipandu host Iska Novita dan disiarkan langsung di live streaming Serambi FM dan Facebook Serambi FM itu juga menghadirkan Dokter RSIA yang juga Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan, dr Dina Alia SpTHT-KL PhD. Menurut dr Munadia, deteksi dini dan pemeriksaan lebih awal perlu dilakukan setiap orang tua.

"Pemeriksaan dan deteksi dini itu penting dilakukan sesegera mungkin oleh orang tua untuk mencari tahu apa si anak memiliki risiko gangguan berbahasa di kemudian hari. Kalau kita sudah mampu mendeteksi dari awal dan mengetahui si anak tersebut kemungkinan mengalami resiko ganguan berbahasa, maka intervensi bisa cepat masuk dan langkah-langkah penanganan bisa cepat dilakukan," sebut dr Munadia.

Jadi, salah satu yang sudah dilakukan oleh RSIA, lanjut dr Munadia, yakni sesegera mungkin mendeteksi anak-anak yang baru lahir kemungkinan memiliki resiko gangguan berbahasa tidak telat diintervensi.

"Hal yang dikhawatirkan bila telat intervensi, maka anak semakin tertinggal dan berpengaruh pada kualitas hidupnya ke depan, baik itu kehidupan sosialnya atau akademiknya, karena si anak itu tidak bisa membaca dan bicara serta berkomunikasi dengan baik. Kalau sudah begitu, hidupnya lebih ketergantungan pada orang lain," jelas dr Munadia.

Sementara itu Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (THT), dr Dina Alia SpTHT-KL PhD mengungkapkan, selama ini banyak pasien bertanya-tanya mengapa anaknya dikirim ke dokter THT, sedangkan anaknya tidak bisa berbicara.

"Perlu kita pahami terlebih dahulu bahwa proses berbicara itu dimulai dengan mendengar suara oleh organ telinga. Jadi faktor gangguan berbahasa itu  berkaitan dengan fungsi pendengaran. Hal itu yang harus dipahami oleh setiap orang tua, mengapa si anak harus dibawa ke THT," terang dr Dina.

Jadi, ketika orang tua melihat anaknya itu memiliki resiko gangguan berbahasa, perlu diperiksa juga fungsi pendengarannya. Karena, sebagai salah satu faktor resiko terjadinya gangguan berbahasa, karena ada gangguan pendengaran.(mir)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved