Breaking News:

Salam

Warga Afghanistan Dilarang Bermusik

PEMIMPIN tertinggi Taliban, Haibatullah Akhundzada muncul pertama kali di hadapan publik Kota Kandahar, Afghanistan bagian selatan

Editor: bakri
AP/Alexander Zemlanichenko/Pool
Anggota delegasi politik dari Taliban Afghanistan menghadiri pembicaraan yang melibatkan perwakilan Afghanistan di Moskow, Rusia, Rabu (20/10/2021). 

PEMIMPIN tertinggi Taliban, Haibatullah Akhundzada muncul pertama kali di hadapan publik Kota Kandahar, Afghanistan bagian selatan. Akhundzada yang menjadi pemimpin spiritual Taliban sejak 2016, dinilai masih menjadi tokoh tertutup, bahkan setelah kelompoknya mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada Agustus 2021.

Keamanan ketat diberlakukan saat acara berlangsung dan tidak ada foto maupun video yang muncul dari acara tersebut. Tapi rekaman audio berdurasi 10 menit dibagikan oleh akun media sosial Taliban. Akhundzada -- disebut sebagai “Amirul Mukminin” atau panglima orang beriman. Dalam pidatonya di Kandahar, Akhundzada tidak menyinggung soal politik, tapi meminta berkat Allah atas kepemimpinan Taliban.

Dia berdoa bagi anggota Taliban yang syahid, pejuang yang terluka, dan keberhasilan pejabat negara dalam apa yang disebutnya “ujian besar”. Akhundzada ditunjuk sebagai pemimpin Taliban dalam transisi kekuasaan setelah serangan drone AS pada 2016 menewaskan pendahulunya, Mullah Akhtar Mansour.

Kemunculan Akhundazada itu bertepatan dengan meningkatnya kecemasan warga Afghanistan menyusul terjadinya penyerangan yang mematikan beberapa orang di satu pesta pernikahan. Orang-orang bersenjata yang mengidentifikasi diri mereka sebagai Taliban melakukan serangan di sebuah acara pernikahan di Afghanistan timur.

Mereka menyerang untuk menghentikan pemutaran musik di acara pesta kawin itu. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai belasan lainnya. Namun Taliban membantah bahwa pelaku merupakan anggota kelompok tersebut.

Seorang juru bicara Taliban malah mengaku dua dari tiga pria bersenjata telah ditangkap. Tapi, Taliban memang melarang musik ketika mereka berkuasa pada periode 1996 hingga 2001. Kala itu Taliban memberlakukan interpretasi hukum Islam yang sangat ketat. Akan tetapi ketika kembali berkuasa, Taliban berusaha untuk menampilkan citra yang lebih moderat dan mencari pengakuan internasional.

Kenyataannya, sejak Taliban kembali berkuasa, Taliban dituduh membunuh seorang penyanyi folk dan menyerang pesta pernikahan dan menghancurkan soundsystem. Sejauh ini banyak penyanyi dan musisi negara itu sudah meninggalkan Afghanistan. Di antara mereka banyak yang lari ke Pakistan karena tidak punya pilihan lain.

Komisi Hak Asasi Manusia Independen negara itu telah bergabung menentang langkah pemerintah Taliban itu. "Hak atas pendidikan, kebebasan berekspresi, dan akses ke keterampilan artistik adalah hak dasar semua anak," katanya dalam sebuah pernyataan. Aktivis HAM lainnya mengatakan, "Ini adalah upaya untuk membatasi perempuan dan anak perempuan secara sosial. Jika kita tidak melawan kebijakan itu, lebih banyak pembatasan akan diberlakukan.

" Saat Taliban pertama kali berkuasa di Afghanistan pada 1996- 2001, bukan hanya melarang orang bermusik, mereka juga melarang internet dan menyita atau menghancurkan perangkat televisi, kamera, dan video. Akan tetapi, empat tahun setelah kekuasaannya terguling, Taliban malah kampanye di media dalam lima bahasa - Inggris, Arab, Pastun, Dari, dan Urdu.mempublikasi kontennya dalam lima bahasa - Inggris, Arab, Pastun, Dari, dan Urdu.

Bagaimana pun warga Afghanistan yang masih “betah” di negaranya sangat meninggu sikap baru pemerintahan Taliban. Pada Agustus 2021, juru bicara Taliban, Suhail Shaheen dalam wawancara dengan The Associated Press (AP) mengatakan, Taliban saat ini berjanji bakal meninggalkan kebijakan-kebijakan kerasnya dan beralih dari konservatisme menjadi Taliban yang lebih moderat, yang menghormati hakhak perempuan.

Dia mengatakan pihaknya tidak ingin mengulang formulasi yang sama seperti 20 tahun lalu. Di bawah pemerintahan baru Taliban, perempuan akan diizinkan bekerja, sekolah, dan terlibat dalam politik tapi harus memakai jilbab. Dan, Suhail tidak menyinggung perubahan kebijakan tentang musik. Itu artinya dalam soal musik, sikap Taliban belum berubah!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved