Breaking News:

Kekecewaan, Oligarki, dan Dinasti Politik Merajalela

Oligarki dan dinasti politik dinilai sudah merajai partai politik yang ada di Tanah Air saat ini. Itu menjadi alasan dari berdirinya

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
GEDE PASEK SUARDIKA 

Oligarki dan dinasti politik dinilai sudah merajai partai politik yang ada di Tanah Air saat ini. Itu menjadi alasan dari berdirinya Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) yang diketuai oleh Gede Pasek Suardika (GPS) dan banyak diisi loyalis Anas Urbaningrum.

GPS menyebutkan, partai politik saat ini tak ubahnya dibagi menjadi dua jenis partai. Pertama, partai yang terbangun dengan sistem monarki dimana akan diwariskan kepada keluarganya sendiri. Kedua, lanjutnya, partai yang berbasis kapital dan dibangun seperti sebuah perusahaan untuk menjadi benefit ekonomi.

Kondisi partai politik seperti itu, kata GPS, membuatnya berpikir bahwa jalan terbaik adalah membangun dan membuat partai politik sendiri dibandingkan bergabung dengan yang sudah ada.

"Dua kutub partai politik ini kan tidak begitu menyehatkan demokrasi secara substansial. Akhirnya kita mencoba hadir untuk memberi pilihan lain yaitu partai politik yang berbasis pada pergerakan dan perjuangan," ujar GPS, Rabu (3/11/2021).

Dia memahami betul tidak mudah dan berat bagi PKN yang berbasis pergerakan dan perjuangan hadir di tengah kondisi masyarakat yang hedonis, pragmatisme politik, dan krisis seperti sekarang. Namun GPS menilai keberadaan partai baru harus dilakukan agar masyarakat dengan kesadaran berbangsa dan bernegara yang idealis memiliki alternatif lain.

Keseriusan PKN sendiri dalam membentuk partai yang sehat ditegaskan dengan tak menargetkan perolehan muluk-muluk di Pemilu 2024. GPS menyebut partai yang disiapkan untuk jangka panjang haruslah tumbuh secara alami.

"Ngomong target itu nanti, kalau seluruh kesiapan sudah selesai baru kita bicara target. Dan kita tidak ingin partai politik ini lahir hanya menjelang pemilu, ketika target yang diinginkan tidak tercapai lalu partainya mati. Kan banyak partai-partai seperti itu," ucapnya.

Sementara itu, Partai Negeri Daulat Indonesia (PANDAI) melalui Ketua Umum Farhat Abbas turut menilai kehadiran partai baru di panggung politik merupakan imbas pengawasan partai di parlemen yang tak berjalan sebagaimana mestinya. Farhat merujuk pada banyaknya partai yang bergabung menjadi partai pendukung koalisi, sehingga oposisi tak bisa menjalankan perannya. Ini, lanjut dia, tak ubahnya upaya bagi-bagi kekuasaan.

"Ini kayak bagi-bagi gitu. Jadi kita anggap yang rakyat inginkan itu bukan sistem kekuasaan dan kepemimpinan seperti itu. Oligarki politik, dinasti politik juga ada merajalela, akhirnya itu yang membawa kita pada kesimpulan rakyat harus disadarkan bahwa parpol-parpol lama ini bukan jawaban atas keinginan rakyat," ujar Farhat.

PANDAI disebutnya hadir menjadi partai alternatif bagi rakyat dengan motivasi terbesar yaitu memperbanyak keterwakilan perempuan di parlemen. Sebab, Farhat menilai jumlah perempuan di Indonesia hampir setara dengan laki-lakinya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved