Breaking News:

Salam

China Panik, Kita Harus Berhati-hati

Sejumlah warga Beijing, China, dilanda panic buying atau panik belanja usai pemerintah meminta masyarakat menyetok kebutuhan sehari-hari

Editor: bakri
China Daily
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin 

Sejumlah warga Beijing, China, dilanda panic buying atau panik belanja usai pemerintah meminta masyarakat menyetok kebutuhan sehari-hari untuk menghadapi keadaan darurat. Selain menghadapi musim dingin, Pemerintah China juga diisukan berencana memperketat lockdown (penguncian wilayah) demi mencegah penularan Covid-19 varian delta sebelum Olimpiade Musim Dingin 2022. Berdasarkan pengalaman awal merebaknya Corona di Provinsi Wuhan, pemerintah China termasuk yang paling ketat menerapkan penguncian wilayah. Tak ada seorang pun yang boleh keluar rumah kecuali mendapat izin dari pemerintah.

Awal pekan ini, beberapa laporan televisi China memperlihat antrean-antrean panjang masyarakat yang berbelanja kebutuhan pangan di sejumlah supermaket dan toko-toko. Yang mereka belanja umumnya kebutuhan pokok sehari-hari. Di sisi lain, pemerintah terus meyakinkan bahwa persediaan makanan masih banyak. "Saat ini, pasokan kebutuhan sehari-hari di berbagai tempat cukup, dan pasokan harus dijamin sepenuhnya," ujar Direktur Departemen Promosi Konsumsi Kementerian Perdagangan China, Zhu Xiaoliang.  Penyiar salah satu saluran televisi China berjaringan luas mengatakan ada penafsiran yang berlebihan terkait pengumuman kementerian mengenai penyediaan pangan. Pengumuman itu memang tak menyebutkan secara jelas alasan warga diminta menyetok bahan pangan. Hanya ada frasa ‘keadaan darurat’. "Keluarga (diminta) menyimpan sejumlah kebutuhan harian yang diperlukan guna memenuhi kehidupan sehari-hari dan keadaan darurat," tulis Kementerian Perdagangan China.

Dalam perintah itu pula tak menyebut mengenai kekhawatiran kekurangan pangan. Kemendag China tak menyatakan permintaan ini lantaran khawatir lockdown menyebabkan rantai pasokan pangan terputus.

Panic buying sudah melanda China dalam beberapa hari terakhir ini. Sebagian besar dipicu oleh infeksi Covid-19 yang tengah melonjak di China. Melonjaknya kasus harian di China, salah satunya disebabkan klaster wisatawan yang teridentifikasi pertengahan Oktober lalu.

Sesungguhnya, panik belanja juga sempat melanda Indonesia ketika kasus infeksi Corona pertama ditemukan di negeri ini. Walau kepanikannya tak sehebat di China, tapi reaksi masyarakat yang berlebihan itu dipicu oleh berita hoaks dan kabar-kabur lainnya yang beredar di tengah masyarakat secara cepat, terutama melalui media sosial.

Siapa yang diuntungkan dari situasi tersebut? “Bisa dipastikan adalah para middle man, tengkulak, para penimbun, mafia bahan pangan, dan siapa pun mereka yang memiliki kelakuan serupa. Mereka memanfaatkan momentum ketika barang tertentu langka, pada saat bersamaan kebutuhan akan barang tersebut sedang tinggi-tingginya. Hukum ekonomi pun berlaku,” kata seorang pengamat.

Makanya, pengalaman ini harus menjadi masukan penting bagi pemerintah kita. Bukan hanya pada kemungkinan persebaran virus Corona, melainkan kepanikan yang memicu aksi penimbunan ataupun aksi mafia pangan yang memanfaatkan kekurangan pasokan.

Saat kondisi global saat ini yang belum memperlihatkan kepastian mengenai Corona, pasokan pangan nasional harus diamankan. Kebutuhan domestik mutlak dipenuhi dari dalam negeri sendiri.

Maih terkait dengan virus Corona, masyarakat Indonesia saat ini diminta mewaspadai ancaman varian Delta Plus yang dikhawatirkan dapat memicu lonjakan kasus atau gelombang tiga virus Covid-19. Sebab, gelombang ketiga covid diprediksi sejumlah ahli kesehatan berpotensi terjadi pada akhir atau awal tahun mendatang.

Satgas Penanganan Covid-19 Pusat menyebut pemerintah tengah 'mengawasi' secara khusus  varian yang sudah teridentifikasi di Singapura, tetangga Indonesia. “Kita tidak berharap varian ini masuk ke Indonesia, tapi kalau masuk dan lebih menular dari pada varian Delta dan kemudian bisa menurunkan efikasi vaksin. Kalau masyarakat lengah dalam prokes, tentu akan berdampak pada percepatan lonjakan kasus," kata Satgas Penanganan Covid. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved