Breaking News:

Balitbangkes Aceh Segera Jadi Kenangan

Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Aceh yang semasa pandemi Covid-19 sangat besar jasanya dalam memeriksa spesimen swab

Editor: hasyim
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Fahmi Ichwansyah, S.Kp, MPH, Kepala Balai Litbangkes Aceh, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI 

* Desember Terakhir Beroperasi

BANDA ACEH - Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Aceh yang semasa pandemi Covid-19 sangat besar jasanya dalam memeriksa spesimen swab polymerase chain reaction (PCR) masyarakat Aceh, akan segera menjadi kenangan. Pada akhir tahun ini, operasional balitbang yang berada di Desa Bada, Lambaro, Aceh Besar itu diakhiri.

"Balai Litbangkes Aceh umurnya hanya sampai tanggal 31 Desember 2021," demikian disampaikan Kepala Balitbangkes Aceh, Dr Fahmi Ichwansyah SKp MPH , Minggu (7/11/2021) pagi.

Informasi itu diumumkan Fahmi di grup WhatsApp FAMe Peduli Corona yang beranggotakan puluhan dokter spesialis, ahli mikrobiologi, laboran, akademisi, aktivis perempuan, kadis kesehatan provinsi dan kabupaten/kota di Aceh, para pengusaha, dan jurnalis.

Menurut Fahmi, begitu Balitbangkes Aceh bubar nanti, maka 44 pegawainya akan bertransformasi/terbelah menjadi tiga kelompok. Ada yang akan bekerja di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kerja di Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), atau kerja di Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas).

Regulasinya sudah ada, yakni berdasarkan peraturan presiden (Perpres). "Sedangkan regulasi labkesmas masih berproses di Kemenkes," terang Fahmi.

Arah operasional laboratorium Balitbangkes Aceh ke depan akan ditetapkan oleh Kemenkes RI. "Aset sumber daya manusia dan laboratoriumnya canggih dan telah ditunjuk oleh WHO dan Kemenkes sebagai salah satu laboratorium rujukan malaria knowlesi (malaria yang disebabkan oleh monyet ekor panjang)," katanya.

Lab ini, menurut Fahmi, juga sudah lulus uji profisiensi nasional dengan ketepatan 100 persen untuk deteksi flu burung, dan Covid-19, juga sebagai pembina Lab Covid-19 Provinsi Aceh. "Yang juga penting adalah lab kita masuk dalam 20 laboratorium yang mampu melakukan genom sequensing dari 800-an laboratorium yg ada di Indonesia," ungkap Fahmi.

Menurut Fahmi, beberapa aset lainnya di lab tersebut juga canggih, serba menggunakan computer system. Selanjutnya, rinci Fahmi, di dalam freezer lab ini tersimpan berbagai spesimen dalam bentuk RNA/DNA yang bisa diperiksa puluhan tahun lagi jika diperlukan.

Hingga akhir tahun ini, pegawai Balitbangkes Aceh akan tetap bekerja seperti biasa, memeriksa spesimen Covid-19 sambil menunggu keputusan dari Kemenkes. "Tentu nantinya akan terjadi perubahan manajemen dan kebijakan terkait dengan lembaga baru. Tapi, berapa pun tenaga yang tersisa tetap akan kita maksimalkan untuk pemeriksaan Covid-19," ujarnya.

Ia tambahkan, Labkesmas yang akan dibentuk nantinya di Aceh akan berfungsi untuk menangani penyakit reemerging dan new emerging pada keadaan bencana dan juga untuk 'neglated diseases' (penyakit yang terabaikan, seperti filariasis, frambusia, dan lain-lain) dan akan mengedepankan fungsi surveilance.

"Kami berharap, apa pun nama lembaganya, semua aset (SDM, laboratorium, dan infrastruktur) yang dimiliki oleh Balitbangkes Aceh akan tetap bisa bermanfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Aceh," kata Fahmi Ichwansyah.

Sebagaimana diberitakan Serambi setahun lalu, Menkes RI saat itu, yakni dr Terawan, menetapkan Balitbangkes Aceh sebagai salah satu laboratorium pemeriksaan spesimen swab Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Balitbangkes Aceh ini mempunyai wilayah kerja yang meliputi Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Kepulauan Riau.

Penggunaan Balitbangkes tersebut diresmikan oleh Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT pada 16 April 2020.(dik)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved