Breaking News:

Berita Bisnis

Prosesi Peusijuek Ungkapan Masyarakat Aceh Terima Kehadiran Industri Migas

Salah satu tradisi atau budaya yang masih kental diterapkan dalam masyarakat Aceh adalah peusijuek.

Penulis: Saifullah | Editor: Saifullah
FOR SERAMBINEWS.COM
Abu Paya Pasi pimpin prosesi peusijuek lanjutan pengeboran sumur minyak dan gas (Migas) AR-1 di Blok A, di Lapangan Alur Rambong, Gampong Manee Rampak, Kecamatan Julok, Aceh Timur, Senin (6/8/2018). 

Peusijuek merupakan salah satu tradisi yang sudah ada sejak zaman dahulu dan masih sering dilaksanakan dalam berbagai kegiatan masyarakat Aceh hingga sekarang.

Laporan Saifullah | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Aceh yang dijuluki sebagai Bumi Serambi Mekkah kaya dengan tradisi dan adat istiadat yang sudah mengakar sejak jaman endatu. Salah satu tradisi atau budaya yang masih kental diterapkan dalam masyarakat Aceh adalah peusijuek.

Peusijuek merupakan salah satu tradisi yang sudah ada sejak zaman dahulu dan masih sering dilaksanakan dalam berbagai kegiatan masyarakat Aceh hingga sekarang. Dulu, peusijuek merupakan prosesi di mana ungkapan kehormatan dari Raja Aceh ketika menyambut tamu-tamu penting dari negara-negara lain. Dalam adat Aceh, orang yang menjalani prosesi peusijuek tersebut sudah resmi menjadi warga Aceh.

Saat ini, prosesi peusijuek sudah mulai berkembang dan banyak dilaksanakan dalam berbagai kegiatan masyarakat umum, tidak terpaku pada kalangan elit saat menerima tamu-tamu penting saja. Misalnya, saat perkawinan, atau khitanan, bahkan hingga grand opening tempat usaha, masyakarat Aceh selalu mengawalinya dengan peusijuek. Meski begitu, walau penerapannya sudah meluas dalam kehidupan sehari-hari, namun nilai-nilai kesakralan peusijuek.

Sebagai bagian dari kearifan lokal atau local wisdom, filosofi peusijuek ini harus bisa dipahami oleh semua pihak yang datang berinvestasi di Aceh, tak terkecuali industri minyak dan gas (Migas). Pasalnya, industri hulu Migas merupakan industri yang tidak bisa jauh dari masyarakat. Untuk itu, kearifan lokal tentu sangat berkaitan dalam menguatkan industri Migas di Indonesia, seperti mengenal seluk beluk adat istiadat masyarakat tempat perusahaan berada.

Misalnya, saat melakukan eksplorasi sumber-sumber Migas baru di Aceh, penerimaan masyarakat adat atas kehadiran pihak luar tersebut biasanya akan diungkapkan lewat prosesi peusjiuek. Artinya, jika tim eksplorasi Migas sudah dipeusijuek oleh tokoh adat dan tokoh agama setempat, maka keberadaan mereka di daerah itu sudah resmi diterima, sehingga proses ekspolorasi Migas pun bisa dilakukan tanpa ada hambatan.

Prosesi peusijuek kepada dua petinggi baru di kalangan PT Perta Arun Gas yakni Arif Widodo sebagai President Director dan Dody Noza selaku Technical & Operations Director PAG,  oleh tokoh masyarakat dan tokoh agama Kota Lhokseumawe di Gedung MPB PT PAG, beberapa waktu lalu. Prosesi peusijuek ini merupakan ungkapan bahwa kehadiran dua petinggi PT PAG tersebut sudah diterima secara resmi oleh masyarakat Aceh. (Sumber foto Pertamina.com)
Prosesi peusijuek kepada dua petinggi baru di kalangan PT Perta Arun Gas yakni Arif Widodo sebagai President Director dan Dody Noza selaku Technical & Operations Director PAG, oleh tokoh masyarakat dan tokoh agama Kota Lhokseumawe di Gedung MPB PT PAG, beberapa waktu lalu. Prosesi peusijuek ini merupakan ungkapan bahwa kehadiran dua petinggi PT PAG tersebut sudah diterima secara resmi oleh masyarakat Aceh. (Sumber foto Pertamina.com) (Pertamina.com)

Sebaliknya, jika para investor mengabaikan kearifan lokal ini, maka penolakan dari penduduk setempat akan langsung terasa. Dalam skala tertentu, penolakan tersebut bisa berujung pengusiran, bahkan perlawanan bila investor menggunakan cara-cara kekerasan dalam mengamankan kepentingan bisnisnya di daerah tersebut.  

Baca juga: Selain Menasah, Peusijuek, dan Timphan, Depik dan Semong juga Sudah Masuk dalam KBBI, Lainnya Diusul

Kearifan lokal (local wisdom) dalam khazanah pengetahuan antropologi dihubungkan pada aspek pengetahuan lokal (local knowledge), yaitu wacana yang lebih spesifik lagi dari pengetahuan tentang masyarakat terkait dengan aspek ekologis, sejarah, dan budaya.

Antroplog Universitas Malikussaleh (Unimal), Teuku Kemal Fasya menjelaskan, kearifan lokal (local wisdom) dalam khazanah pengetahuan antropologi dihubungkan pada aspek pengetahuan lokal (local knowledge), yaitu wacana yang lebih spesifik lagi dari pengetahuan tentang masyarakat terkait dengan aspek ekologis, sejarah, dan budaya mereka. Ini yang harus dilakukan dalam kontek memahami sebuah masyarakat yang berbeda.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved