Breaking News:

Jurnalisme Warga

Utang Republik pada Islam

Buku ini menjelaskan bagaimana peran tokoh-tokoh Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, baik melalui perjuangan fisik

Editor: bakri
Utang Republik pada Islam
M. HASBI AMIRUDDIN, Guru Besar FakuUIN Ar-Raniry meleporkan dari Banda Aceh

OLEH M. HASBI AMIRUDDIN, Guru Besar FakuUIN Ar-Raniry meleporkan dari Banda Aceh

UTANG Republik pada Islam, begitulah judul sebuah buku baru yang diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar, Jakarta. Buku ini menjelaskan bagaimana peran tokoh-tokoh Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, baik melalui perjuangan fisik maupun melalui perjuangan politik, sampai pada merumuskan dasar-dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Seperti tercermin dari tim perumus dasar negara yang melahirkan Piagam Jakarta yang berjumlah sembilan orang, hanya satu orang yang nonmuslim, begitulah gambaran persentase para pejuang dalam membentuk NKRI.

Piagam Jakarta yang sudah dirumuskan oleh Panitia Sembilan kemudian disetujui oleh rapat, kemudian ada protes dari masyarakat Indonesia Timur yang disuarakan AA Maramis dan Sam Ratulangi. Mereka mengatakan, kalau seperti itu dasar negara mereka tidak ikut serta dalam NKRI. Berdasarkan hal ini kemudian Hatta sebagai Wakil Presiden ketika itu berdialog dengan sejumlah tokoh Islam yang di antarnya termasuk Mr Teuku Muhammad Hasan asal Aceh.

Demi menjaga persatuan kemudian tokoh-tokoh Islam bersepakat memenuhi keinginan dari masyarakat Indonesia bagian Timur dengan mengubah Pancasila yang ada dalam Piagam Jakarta yang pada sila pertama menyebut, “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-Pemeluknya”, menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Pengorbanan umat Islam demi persatuan Indonesia seperti itu sehingga mantan menteri Agama, Alamsyah Ratuperwiranegara pernah mengatakan bahwa Pancasila merupakan hadiah umat Islam untuk bangsa Indonesia. Jadi, kalau selama ini ada tokoh yang menokohkan dirinya, menyatakan umat Islam anti-NKRI, adalah karena dia tidak berusaha memahami sejarah.

Dalam buku ini turut diilustrasikan bagaimana berpengaruhnya teriakan kalimat “Allahu Akbar” oleh Bung Tomo di Surabaya pada 10 November 1945. Teriakan ini telah mengundang sejumlah ulama dan para santri dari berbagai pelosok negeri untuk tampil ke depan menghadapi serangan musuh yang hendak kembali menjajah tanah airnya.

Dari catatan sejarah juga kita tahu berapa ribu, mungkin jutaan umat yang gugur di medan juang demi Indonesia. Belum lagi harta benda yang harus dikorbankan selama masa perjuangan. Pengorbanan itu semua adalah karena didasarkan atas pekikan kalimat “Allahu Akbar.” Hanya saja buku ini tidak turut mengilustrasikan peran tokoh-tokoh ulama di daerah seperti bagaimana peran tokoh ulama di Aceh dalam rangka mengusir penjajah dan berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Seperti dicatat oleh sejarah karena melihat bagaimana gigihnya ulama-ulama di Aceh berjuang mengusir penjajah dan begitu juga bersemangat menerima proklamasi kemerdekaan Indonesia, Presiden Soekarno datang ke Aceh menemui para ulama dan meminta kesediaan ulama melanjutkan perjuangan jika Belanda ingin menguasai Indonesia lagi.

Ulama Aceh menerima ajakan presiden, hanya saja para ulama meminta perjuangan mereka harus sebagai kelanjutan dari perjuangan para ulama terdahulu, seperti perjuangan Teungku Chik Di Tiro, perjuangan berdasarkan Islam, jihad fi sabilillah dan demi izzul Islam. Filosofi perjuangan dengan jihad fi sabilillah adalah jika mereka gugur dalam berjuang maka akan diberi imbalan oleh Allah, syurga jannatun naim, dan bila mereka meraih kemerdekaan berarti mereka menikmati kebebasan menentukan sendiri arah pembanguna bangsanya.

Jadi, kedua-dua alternatif yang akan terjadi para pejuang tetap pihak yang menang. Bersamaan mengatakan dasar perjuangan mereka kepada presiden, para ulama juga meminta persetujuan presiden, jika negara Indonesia nanti benar-benar sudah merdeka maka Aceh harus diberikan kesempatan menerapkan syariat Islam walaupun tetap dalam NKRI.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved