Breaking News:

OPINI

Kilas Balik Perjuangan Habib Abdurrahman Teupin Wan Melawan Penjajahan Belanda Selama 38 Tahun

Pegunungan Tangse merupakan saksi bisu ketika Kolonel H.J. Schmidt memburu seorang penglima perang yang banyak menyusahkan Belanda selama 38 tahun.

for serambinews.com
Cut Nurvajri TR, SE, Mahasiswi Pascasarjana Fakultas Ekonomi, Universitas Syiah Kuala. 

Oleh: Cut Nurvajri TR, SE

Mahasiswi Pascasarjana Fakultas Ekonomi
Universitas Syiah Kuala
Cutvajri@gmail.com

Indonesia adalah negara dengan keragaman budaya dan suku yang terbentang dari Sabang sampai Meurauke. Namun keberagaman tersebut harus dijaga dengan baik agar tidak terjadi perpecahan yang berujung kepada disintegrasi bangsa. Oleh sebab itu diperlukan konsep integrasi nasional sebagai alat pemersatu bangsa. Salah satu faktor pendorong terciptanya integrasi nasional adalah adanya persamaan perjuangan melawan penjajah kolonial untuk kemerdekaan Indonesia.

Dalam rangka memperingati hari pahlawan, penulis akan melakukan kilas balik perjuangan Habib Abdurrahman Teupin Wan sebagai seorang tokoh pahlawan yang berjuang membela tanah air dan mempertahankan kedaulatan bangsa dan negaranya dari penindasan dan penjajahan. Nilai-nilai perjuangan Habib dalam melawan penjajahan oleh Hindia Belanda adalah nilai-nilai dasar terciptanya integrasi nasional. Jika pada masa lalu rasa senasib seperjuangan digunakan untuk memujudkan kemerdekaan Indonesia, di era sekarang ini rasa senasib seperjuangan digunakan untuk memperkuat stabilitas nasional demi terwujudnya persatuan Indonesia dalam integrasi nasional.

Berdasarkan catatan Lembaga Asyraf Aceh (Lembaga Sejarah & Nasab Keluarga Sayid Aceh), Habib Abdurrahman Teupin Wan berasal dari Teupin Wan, Aceh Besar. Ini sebuah kawasan yang terletak di tepi (dalam bahasa Aceh disebut Teupin) sungai Krueng Aceh, mukim Lamreung, wilayah sagi mukim XXVI, yang didiami oleh keluarga dari keturunan mulia atau dihormati oleh masyarakat Aceh yakni keluarga habaib. Beliau adalah salah satu keturunan cucu Rasulullah SAW yang menjadi tokoh ulama pejuang Aceh yang berjuang sejak awal perang Hindia Belanda berkecamuk di Aceh pada tahun 1873 M.

Beliau dikenal sebagai ulama pejuang yang tidak kenal kompromi dengan kolonial Hindia Belanda dan salah satu pejuang yang paling dicari oleh Belanda pada masanya. Dalam sebuah surat dinas yang bersifat rahasia yang dikirimkan oleh Snouck Hourgonje ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda Carel Herman Aart van der Wijck (1893-1899) 5 September 1894, isi surat
tersebut memberitakan tentang Habib Abdurrahman Teupin Wan yang banyak menyusahkan Hindia Belanda dan mengobarkan semangat jihad di Aceh Besar. Snouck menasehati sang jenderal untuk segera mengambil langkah-langkah tegas untuk menghentikan usaha-usaha yang dilakukan oleh Habib tersebut.

Masyarakat Aceh menganggap ulama Teupin Wan tersebut sebagai sosok Tengku Chik Tiro yang kedua. Selepas syahidnya Syeikh Muhammad Saman bin Ubaidillah atau dikenal dengan laqab Tengku Chik Di Tiro pada tahun 1891 M, sosok Habib Abdurrahman Teupin Wan adalah tokoh yang mampu membangkit semangat rakyat Aceh untuk terus berjuang melawan kolonial yang ingin merampas kedaulatan Aceh. Tidak mengherankan apabila dalam buku Jenderal Swart (Pacivicator Van Atjeh) mengambarkan ketokohan Habib Abdurrahman Teupin Wan dengan tiga karakter, yakni Nestor der Geestelijke (Ulama), Verzetsleider (Leader/PemimpinPerlawanan), dan Heilig (Keramat).

Semangat Habib Abdurrahman Teupin Wan dalam mencintai tanah air dan menegakkan kedaulatan bangsanya adalah sebuah nilai dalam mewujudkan integrasi nasional. Mencintai tanah air adalah sebuah sikap, cara berpikir, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan terhadap bangsa. Dimana dengan mencintai tanah air, maka integrasi nasional dapat
terwujud dengan prinsip mendahului kepentingan bangsa daripada kepentingan pribadi.

Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Habib Abdurrahman Teupin Wan lebih mementingkan kepentingan bangsanya daripada kepentingan pribadi dengan terus berjuang melawan kolonial. Di sisi lain banyak para pemimpin Aceh telah tunduk kepada Hindia Belanda melalui perjanjian Lang Verklaring atau Korte Verklaring dan intensifnya pembentukan lini konsentrasi serta banyaknya pos-pos militer Hindia Belanda di Aceh Besar, maka Habib Abdurrahman Teupin Wan dan para pejuang lainnya terpaksa berhijrah dari kampung halamannya menuju ke Pidie. Beliau berhijrah ke Pidie bersama dengan Sultan Muhammad Daud Shah (1874-1903) tepatnya ke wilayah Keumala. Pada tahun 1903 M, sultan menyerah kepada Hindia Belanda dikarenakan anggota keluarganya ditahan oleh mereka.

Berhijrahnya Habib Abdurrahman Teupin Wan dari Aceh Besar ke Pidie adalah bagian dari strategi perang gerilya dan beliau juga mendapatkan dukungan yang besar dari masyarakat dan ulama-ulama di Pidie khususnya dari ulama Tiro. Kondisi Aceh
Besar sudah tidak memungkinkan sebagai medan geurilya, sehingga Habib dan pengikutnya berhijrah ke Pidie untuk terus berjuang dan mengobarkan semangat jihad.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved