Breaking News:

Berjibaku dengan Maut, Mengantar Elpiji ke Pulau Paling Barat Indonesia

Pak Din--apaan akrab Zainuddin adalah Nakhkoda KM Raseuki Berkat. Kapal milik agen resmi Pertamina, PT Gas Aneuk Meugah

Editor: hasyim
SERAMBINEWS.COM/BUDI FATRIA
Gas elpiji 3 Kg dan 12 Kg untuk Pulau Sabang. 

Kisah Nakhoda Kapal

JARUM jam masih menunjukkan pukul 04:00 WIB, udara dingin menusuk hingga ke tulang, suara gemuruh ombak samudera terdengar sayup-sayup. Tangan keriput Zainuddin tampak cekatan mengutak-atik mesin kapal. Di saat warga lainnya masih terlelap di peraduannya, Zainuddin sudah di dermaga memanaskan mesin kapal.

Pak Din--apaan akrab Zainuddin adalah Nakhkoda KM Raseuki Berkat. Kapal milik agen resmi Pertamina, PT Gas Aneuk Meugah, yang saban hari bertugas mengantar tabung elpiji dari daratan Aceh ke pulau paling barat Indonesia, Sabang.

Setelah azan berkumandang dan shalat subuh usai, kapal yang penuh dengan tabung gas berbagai ukuran bergerak keluar dari muara Krueng (Sungai) Aceh di tengah gelapnya malam. Setiap berlayar, ia ditemani dua ABK dan rata-rata membawa 1.450 tabung gas, yang didominasi tabung 3 kg.

“Saya jam setengah empat sudah bangun, jalan kaki ke dermaga, lakukan persiapan, setelah subuh langsung berangkat, gabisa telat untuk menghindari ombak tinggi,” ujar pria 58 tahun ini.

Menurut Pak Din, mereka harus berangkat sebelum matahari terbit, untuk menghindari kapal kandas di mulut muara akibat air laut surut. Selain itu, juga untuk menghindari cuaca buruk di tengah perjalanan. Untuk mengantar elpiji ke Sabang, mereka menempuh perjalanan sejuah 24 mil, melewati perairan pertemuan Selat Melaka dan Samudera Hindia.

Berada di Pintu Selat Melaka, perairan sabang memang sering dilanda cuaca buruk, yang gelombangnya bisa mencapai 4 meter, bahkan tak jarang jika transportasi kedua pulau terputus. Saat laut tak bersahabat, ia harus jalan melingkar, menghindari maut, supaya tiba dengan selamat di Sabang. “Kalau dihempas ombak tinggi sudah sering, Alhamdulillah masih diberi keselamatan,” ujar kakek lima cucu ini.

Pak Din dulunya nelayan, yang berlayar berminggu-minggu mencari ikan hingga ke dekat perbatasan India dan Thailand. Saat bencana tsunami 2004 silam, ia ikut kehilangan istri dan tiga anaknya. Kemudian, ia jadi ABK kapal pengangkut tabung gas. Hingga kemudian dipercaya sebagai nakhoda kapal itu.

Para awak kapal PT Gas Aneuk Meugah (GAM) Sabang, selaku agen tunggal penyalur elpiji dari PT Pertamina untuk Pulau Weh (Sabang) tak selalu berjalan mulus dalam mengantar elpiji. Dua kali kapal mereka tenggelam di tengah laut, ribuan tabung gas berserakan, mengapung-apung di bawa arus.

Owner PT Gas Aneuk Meugah (GAM) Sabang, Munazar atau yang akrab disapa Toke Cicik mengatakan, pada 2017 lalu, ia dua kali mengalami musibah, kapalnya tenggelam dihembas ombak saat sedang dalam perjalanan mengantar elpiji ke pulau terbarat Indonesia itu. Peristiwa itu terjadi hanya berselang sembilan bulan.

Meski ditimpa musibah dan mengalami kerugian besar, Toke Cicik tak patah semangat, ia tetap bertanggung jawab sebagai agen tunggal untuk Sabang. Ia langsung menyewa kapal lain untuk melanjutkan tugasnya mendistribusikan gas untuk warga di pulau tersebut. Selama menjadi agen elpiji, ia sudah berganti-ganti lima kapal, baik karena usang atau tenggelam.

Ia mengisahkan, ia memulai usaha sebagai rekanan Pertamina menjadi distributor sejak awal 2000-an, dulu ia mengelola usaha orang lain, hingga kini memegang sendiri kendali usahanya. Katanya, dulu elpiji  diantar ke Sabang dengan menaikkan truk ke kapal laut. Namun sekitar 2007, keluar aturan mobil pengangkut elpiji tidak boleh naik kapal umum. Akhirnya ia membeli kapal sendiri untuk mendistrubusikan gas ke wilayahnya.

Kata Toke Cicik, dengan harus memiliki kapal sendiri, tentu ia modal yang dikeluarkannya lebih besar. Namun perlahan ia mampu melewatinya, bahkan kini ia akan menambah kapal lagi, sebagai armada cadangan jika sewaktu-waktu kapal utama rusak atau naik docking.

“Tantangan mengantar elpiji ke Sabang itu banyak, ada faktor alam, ada faktor manusia, tapi ada tak mungkin kita ceritakan. Tapi ya harus kita hadapi saja,” ujar Munazar.

Dalam sebulan, PT Gas Aneuk Meugah milik Toke Cicik berlayar 13 hingga 15 trip. Sekali berlayar membawa 1.300 tabung 3 kg, 100 tabung 5,5 kg, dan 50 tabung 12 kg. Jika cuaca bersahabat, mereka berlayar dua hari sekali. Biasanya aktivitas dimulai sore hari, petugas melakukan bongkar muat tabung dari gudang ke mobil, lalu ke kapal. Setelah subuh berlayar dan tiba pagi di Sabang, saat kembali lagi ke daratan Aceh jelang sore, mereka membawa tabung kosong.(mun)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved