Breaking News:

Opini

Saatnya Predator Seksual Dihukum Berat

Berita berturut-turut terkait pemerkosaan di Aceh baik terhadap perempuan maupun terhadap anak bahkan di bawah umur seakan

Editor: bakri
Saatnya Predator Seksual Dihukum Berat
IST
Syarifah Rahmatillah, SHI, MH, Kadiv. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pusat Studi Hukum Pidana dan Kriminologi UIN Ar Raniry

Oleh Syarifah Rahmatillah, SHI, MH, Kadiv. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pusat Studi Hukum Pidana dan Kriminologi UIN Ar Raniry

Berita berturut-turut terkait pemerkosaan di Aceh baik terhadap perempuan maupun terhadap anak bahkan di bawah umur seakan menjadi berita biasa di laman surat kabar. Termasuk juga pemberitaan tentang putusan hakim mahkamah syar’iyah pada tingkat kabupaten/kota, pada tingkat banding dan hasil kasasinya melalui Mahkamah Agung terkait nasib akhir pelakunya menjadi berita yang ditunggu masyarakat.

Maraknya pemberitaan tersebut mengingatkan penulis dengan sanksi kebiri yang pernah digadang-gadangkan bisa menakut-nakuti pelaku pemerkosaan terhadap anak di Indonesia agar memberi efek jera. Aturan ini ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 70 tahun 2020 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronik, rehabilitasi, dan pengumuman identitas pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak.

Namun, sampai sekarang peraturan pemerintah ini belum memperlihatkan wujudnya, ketidakjelasan siapa eksekutor menjadi salah satu penyebab hukuman ini belum bisa dilaksanakan.

Tindak pidana pemerkosaan merupakan tindak pidana yang berhubungan dengan sisi kesusilaan dan anti perikemanusiaan serta meninggalkan efek yang luar biasa bagi si korban, baik secara fisik bahkan yang lebih parah adalah trauma psikis yang membutuhkan waktu yang relatif panjang untuk penyembuhannya. Bahkan ada juga korban yang gagal sampai di titik akhir kesembuhan, kemudian memilih jalan lain seperti bunuh diri atau membunuh janin yang di kandungnya jika pemerkosaan menyebabkan kehamilan.

Hal ini karena ketidakmampuan korban menanggung beban mental dan stigma dari masyarakat akibat menjadi korban kejahatan seksual merkosaan.

Pada kasus pemerkosaan ini selain perempuan dewasa, anak perempuan dalam rentang usia tiga sampai dengan belasan tahun pun kerap menjadi korban. Anak laki-laki juga ada yang menjadi bagian korban dari tindak keji para penjahat seksual tersebut dalam bentuk sodomi. Hal yang menambah miris adalah fakta-fakta hukum yang menunjukkan bahwa pelaku kejahatan seksual ini terkadang bukan orang asing bagi korban, melainkan orang-orang yang berada pada lingkaran terdekat.

Semestinya mereka menjadi pelindung bagi korban seperti ayah kandung, saudara laki-laki kandung, paman kandung, kakek kandung, tetangga, guru mengaji, guru sekolah, teman bermain dan lain lain.

Jika merujuk pada Tujuan pokok dalam penjatuhan hukuman dalam syari’at Islam adalah pencegahan (ar-rad’u waz-zajru) dan pengajaran serta pendidikan (al-ishlah wat-tahdzib).

Tujuan pokok penjatuhan hukuman di atas dapat memberi gambaran bahwa dalam menjatuhkan hukuman dalam syari’at Islam tidak hanya semata-mata untuk menjerakan atau membalas atas perbuatan pelaku jarimah. Menurut Djazuli dalam tulisannya “Fiqh Jinayah; Upaya Menanggulangi Kejahatan dalam Islam” menyebutkan bahwa hukuman yang baik adalah: Harus mampu mencegah seseorang dari berbuat maksiat.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved