Breaking News:

Salam

Banyak Wasit Liga I Kurang Berwibawa

Ketua Komite Disiplin PSSI, Erwin Tobing, menyatakan pihaknya akan memberi hukuman kepada pemain sepakbola Liga Indonesia apabila melakukan protes

Editor: bakri
Serambi Indonesia
Wasit saat memberikan kartu merah untuk pemain Persiraja, Defri Riski dalam laga uji coba melawan PSMS Medan di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, Minggu (27/6/2021) sore. 

Ketua Komite Disiplin PSSI, Erwin Tobing, menyatakan pihaknya akan memberi hukuman kepada pemain sepakbola Liga Indonesia apabila melakukan protes dengan menyentuh bagian tubuh wasit. Kalau ada yang sampai mukul wasit, itu bisa dihukum tidak bermain hingga enam kali ditambah hukum lainnya.

“Hukuman sesuai dengan pelanggaran apa yang dilakukan. Kalau ada yang memukul, mengganggu, dan melawan perangkat pertandingan itu ada hukumannya. Itu hukuman tetap berdasarkan kode disiplin PSSI 2018.”

Namun, Erwin mengatakan, laporan setiap pelanggaran harus diberikan ke Komdis selengkap-lengkapnya terutama video. Sebab, Komdis melakukan pemeriksaan secara rinci, sehingga nantinya apabila ada hukuman yang diberikan kepada klub ataupun pemain jelas duduk perkaranya.

Sebaliknya, sejak kompetisi Liga 1 dan Liga 2 kembali bergulir tahun ini, kinerja wasit memang banyak mendapat sorotan negatif. PSSI bahkan sudah menggelar investigasi terhadap sejumlah perangkat pertandingan. Sebab, sepanjang gelaran sepak bola nasional tahun ini, sederet keputusan kontroversial telah dibuat oleh wasit.

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, sampai menugaskan Ketua Komite Wasit, Ahmad Riyadh, untuk menggelar investigasi. Iriawan bahkan sudah memberikan sanksi kepada perangkat pertandingan yang terbukti melakukan kesalahan. "Kami melakukan evaluasi untuk perangkat pertandingan. Yang ditemukan ada kesalahan, PSSI tentu memberikan sanksi sesuai dengan tingkatannya," kata Iriawan dalam keterangan yang dimuat PSSI.

Satu dari sejumlah kasus yang mendapat sorotan karena keputusan wasit yang kontroversial adalah ketika Bhayangkara vs Persiraja Banda Aceh pada 31 September 2021. Kasusnya, Bhayangkara mendapat penalti pada masa injury time karena bek Persiraja Zamzani dinyatakan melakukan pelanggaran handball. Eksekusi 12 pas diambil Ezechiel N'Douassel dan berbuah gol. Namun, proses penalti itu menjadi sorotan karena ada pemain dari masing-masing tim yang masuk ke kotak 16 sebelum Ezechiel mengeksekusi bola. Meskipun sudah gol, penalti itu seharusnya diulang jika merujuk pada aturan FIFA. Namun, wasit Mustafa Umarella tetap mensahkan gol tersebut.

Lalu, pada 21 Oktober 2021, Mustafa Umarella yang memimpin laga Persebaya Surabaya versus Persela Lamongan, kembali membuat dua keputusan yang kontroversial. Keputusan pertama yakni tak disahkannya gol striker Persebaya, Jose Wilkson pada menit ke-33. Umarella menganggap hasil sepakan Jose belum melewati garis gawang. Kedua, sang wasit mensahkan gol pemain Persela, Ivan Carlos yang sudah berdiri dalam posisi offside di menit ke-34.

Dan, kita mengapresiasi keputusan PSSI yang salah satunya adalah menjatuhi hukuman serius berupa larangan memimpin pertandingan kepada 8 wasit Liga 1 dan Liga 2, salah satunya Mustafa Umarella.

Lihatlah, belum separuh jalan Liga I dan Liga 2 bergulir, sudah ada delapn wasit yang mendapat hukuman. Itu artinya, memang ada ketidakberesan dalam kepemimpinan laga-laga kompetisi sepakbola di negeri ini. Dan, karenanya jangan semata-mata menyalahkan pemain jika mereka berani menunjuk-nunjuk muka wasit, memaki wasit, mendorong wasit, bahkan memukul wasit. Selain karena kepemimpinan wasit yang sering membuat keputusan kontroversial, banyak wasit di liga Indonesia yang kelihatannya kurang berwibawa. Faktor ketidakwibawaan para wasit ini menjadi pendorong bagi banyak pamain untuk melakukan hal-hal tak senonoh kepada wasit dan pemain lawan. Makanya, selain memberi hukuman kepada pemain yang melakukan pelanggaran terhadap wasit, PSSI secara serius juga harus memikirkan soal kinerja wasit. Jangan-jangan mereka juga ikut “dimainkan” oleh mafia sepakbola seperti yang pernah mengguncang negeri ini. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved