Breaking News:

Jurnalisme warga

Kawanan Singa di Sekitar Kita

Nonton wild west, kehidupan kawanan singa di padang rumput Afrika? Bagaimana seandainya kawanan singa bersua dengan kawanan singa lainnya?

Editor: bakri
Kawanan Singa di Sekitar Kita
For Serambinews.com
EDI MISWAR MUSTAFA, Koordinator Forum Aceh Menulis (FAMe) Pidie Jaya, melaporkan dari Meureudu

OLEH EDI MISWAR MUSTAFA, Koordinator Forum Aceh Menulis (FAMe) Pidie Jaya, melaporkan dari Meureudu

Nonton wild west, kehidupan kawanan singa di padang rumput Afrika? Bagaimana seandainya kawanan singa bersua dengan kawanan singa lainnya? Mereka akan bertarung dan yang kalah akan pergi mencari kawasan perburuan lain.

Kehidupan manusia purba ataupun ketika manusia belum mengenal tulisan barangkali juga seperti itu. Di waktu tertentu para lelaki akan bertarung sebagai prasyarat untuk menjadi kepala suku. Atau dalam fase yang lain untuk menjadi pemimpin komunalnya, yang terkuat akan mendapatkan kehormatan menikahi putri kepala suku. Sering metode mengadu yang terkuat guna mendapatkan yang paling kuat dilakukan untuk memperkuat trah dari kepala suku.

Di zaman modern, sekutu terdiri dari banyak negara yang mempunyai koloni-koloni di Asia, Afrika, Australia, dan Amerika Selatan. Sedangkan negara-negara yang dianggap berpaham fasis terdiri atas negara-negara yang muncul sebagai raksasa ekonomi baru yang juga ingin memiliki sumber-sumber bahan industri seperti yang dimiliki negara-negara sekutu. Persaingan yang tak dapat dihindari kemudian melahirkan dua perang dunia. Perang Dunia II juga melibatkan Jepang di kawasan Asia.

Setelah Perang Dunia II, Jerman dan Jepang tetap mampu bangkit sebagai pesaing ekonomi dengan negara-negara lain yang bahkan pernah mengalahkannya. Jika dikaitkan dengan kawanan singa yang kalah di gurun Afrika, Jerman dan Jepang telah berhasil menemukan lahan perburuan lain yang ternyata dihuni oleh ribuan hektare rerumputan dan herbivora.

Pola kawanan ini ada di mana-mana dan ada di tiap level. Trah Soekarno kembali muncul setelah sebelumnya sempat berkuasa sekian lama di Indonesia dengan segala sebutan penuh kultus: Pemimpin Besar Revolusi atau Presiden Seumur Hidup. Kemudian muncul periode berikutnya trah Soeharto, SBY, dan Jokowi.

BJ Habibie, Gus Dur, dan periode Megawati sebagai presiden tidak mampu menunjukkan diri seperti kawanan singa yang menguasai sekian lahan perburuan, meskipun kini di masa Jokowi, Megawati tetap layak disebut sebagai orang nomor nol. Sama seperti saat Habibie, Gus Dur, dan SBY berkuasa; Soeharto dalam posisi sebagai orang nomor nol. Adakah yang tidak sepakat kalau saya menyebut bahwa sebelum angka satu adalah angka nol? Jika SBY, Jokowi, misalnya sebagai orang nomor satu di republik ini, siapakah orang yang berposisi di angka nol?

Bagaimana dengan Filipina? Masihkah dua kawanan besar antara keluarga Aquino dan Marcos bertarung memperebutkan lahan perburuan? Di Amerika Serikat jelas bukan keluarga, tapi merah sebagai simbol republik dan biru sebagai simbol demokrat. Jika orang Amerika bosan dipimpin oleh kawanan biru, empat tahun berikutnya mereka akan memilih kawanan merah. Kawanan yang kabarnya mampu mengakomodasi keinginan pengusaha, khususnya kepentingan orang-orang yang berdarah Bani Israil, maka trah merah atau trah biru akan terus diberi jalan memimpin kawanannya menguasai lahan-lahan perburuan.

Negara-negara dengan bentuk pemerintahan monarki absolut seperti negara-negara Islam abad pertengahan, monarki konstitusional seperti Inggris, Swedia, Jepang, dan Malaysia dewasa ini dan presidensial konstitusional semacam Indonesia tentu saja berbeda. Namun, pola kawanan singa tetap hampir sama. Kenyataan ini apakah dapat kita sebut sebagai sesuatu yang alamiah dalam kehidupan suatu makhluk? Tentu saja tiap satwa memiliki cara tersendiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hewan yang tergolong karnivora, herbivora, dan omnivora maupun binatang tak kasatmata serta hewan-hewan yang ada di kedalaman laut.

Bagaimana pola kawanan singa di Aceh? Pascatsunami, sebagai orang-orang yang dianggap memperjuangkan harapan orang-orang Aceh saat konflik, masyarakat Aceh kemudian mempercayakan harkat dan martabat mereka di bawah penguasaan lahan perburuan di tangan para mantan kombatan. Sampai dengan kini Nova Iriansyah berkuasa yang menjadi sedikit berbeda karena tragedi politik saat Irwandi Yusuf digelandang KPK. Sementara di tiap kabupaten di Aceh, pascatsunami dominan dikuasai oleh warna merah, kini perlahan makin bercorak warna.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved