Breaking News:

Opini

Muhammad SAW; Unfinished Story

Pernah suatu ketika Beliau bertanya apa kekayaan rumah terbesar? Ketika para sahabatnya diam, ia menjawab istri yang baik

Editor: bakri
Muhammad SAW; Unfinished Story
FOTO IST
Dr. Phil. Munawar A. Djalil, MA,  Pegiat Dakwah Tinggal di Cot Masjid, Banda Aceh

Oleh Dr. Phil. Munawar A. Djalil, MA,  Pegiat Dakwah Tinggal di Cot Masjid, Banda Aceh

Pernah suatu ketika Beliau bertanya apa kekayaan rumah terbesar? Ketika para sahabatnya diam, ia menjawab istri yang baik. Ia memang pria yang pernah memiliki kekayaan terbesar yaitu Khadijah. Kenyataan bahwa ucapan itu disampaikan lama kemudian, hanya untuk membuktikan bahwa ia jujur kepada istrinya, bahkan di saat Khadijah telah terbaring dalam kuburnya. Muhammad SAW  pria yang setia.

Selama lebih 25 tahun beristrikan Khadijah, ia tidak pernah menikah dengan wanita lain. Padahal pada zaman itu, beristri banyak sesuatu yang alami.

Di dalam rumah Muhammad SAW membawa suasana hidup. Ia suka berkelakar dan ramah kepada semua. Saya melayaninya sejak berusia 8 tahun kata Anas bin Malik yang ikut dalam keluarga ini mulai tahun 620 sampai 632 M. Ia belum pernah memarahi saya satu kalipun, walaupun saya melakukan kesalahan. Ia makan sambil bersila di lantai, tapi paling doyan makan bersama. Katanya sungguh malang orang yang makan sendirian.

Ia gemar makan daging, tetapi lebih kerap makan kurma dan minum susu. Kalau ada yang menyuguhnya semangkuk Ia sering berkata: Tuhan memberi rahmat kepada susu, mudah-mudahan masih ada lagi. Hidupnya sederhana, ada kalanya ia mengenakan wol tetapi lebih sering memakai tenunan lurik dari Yaman (sula), warna putih acap bertambal. Juga mengenakan surban dengan salah satu ujungnya menggantung di antara pundak. Tak pernah ia menggunakan bahan yang seluruhnya dari sutra.

Tidak gemar memakai warna merah, tetapi selalu memakai minyak rambut dan parfum. Muhammad SAW menempatkan wangi-wangian setaraf ibadah, kata hadis. Ia menyuruh calon mantunya Ali RA membelikan parfum setengah atau dua pertiga hasil penjualan baju kebal seharga 480 dirham sebagai pengantin untuk putrinya, Fatimah.

Paling mencolok adalah kebersihannya, sangat sering berwudhuk, pakaian bersahaja tetapi pasti bersih, hampir tak pernah lupa membawa siwak untuk membersihkan giginya. “Kalau saya tak ingat nanti memberatkan, saya akan perintahkan kewajiban membersihkan gigi” katanya kelak.

Selain bekas budak seperti Anasah, yang berayah Persia dan ibu Abysinia, ada Zaid, anggota keluarga yang sudah tinggal lebih dari 15 tahun. Ia putra Haritsah, anggota klan Kalb, 300 km di utara Madinah, dekat Dammat Al-Jandal (sekarang: Al-jawf). Kebanyakan anggota klan ini beragama Kristen.

Menurut cerita, lima belas tahun silam, ibu Zaid sedang membawanya pulang dari perjalanan, ketika mendadak mereka dipergok penyamun gurun. Zaid berubah menjadi budak yang diperjualbelikan. Di pekan raya Okadz, keponakan Khadijah Hakim bin Hizam membelinya dan Khadijah menghadiahkan kepada suaminya lalu membebaskannya.

Wajah Zaid sebenarnya tidak begitu tampan, sebelas tahun lebih muda dari Muhammad SAW. Ia memilih menetap bersama Muhammad SAW kendati ayahnya mengharapkan pulang. Harisah menghabiskan waktu di punggung unta putihnya melewatkan siang dan malam untuk mencari Zaid anak kesayangannya. Ketika akhirnya ia berembuk dengan Muhammad SAW, tidak ada masalah yang timbul.

Muhammad SAW merelakannya dibawa pulang, kalau Zaid memang mau, tanpa perlu uang tebusan. “Tetapi kalau ia mau tetap bersama saya di sini, ia tak akan kutampik,” kata Muhammad SAW. Zaid memilih  bersama Muhammad SAW.

Penghuni rumah lainnya adalah Ali putra Abdul Manaf alias Abu Thalib. Bujang berusia sebelas tahun ini berkulit agak kecoklatan, bertubuh tegab gempal dan mata yang awas. Kalau tersenyum giginya nampak. Ia telah lama tinggal bersama Muhammad SAW. Kala itu penduduk Mekkah mengalami paceklik karena kekeringan dan Abu Thalib yang hidupnya sederhana, mengalami kesulitan. Muhammad SAW mengajak kedua pamannya Abbas dan Hamzah ikut meringankan beban kelurga Abu Thalib dengan memelihara beberapa anaknya.

Abu Thalib pasrah membolehkan mereka membawa semua anaknya, kecuali si bungsu, ‘Aqil. Abbas membawa Thalib, Hamzah membawa Ja’far dan Muhammad SAW membawa Ali. Selain membalas kebaikan Abu Thalib , Muhammad SAW juga mencurahkan kasih sayang, barangkali pengganti putranya Qasim yang meninggal usia muda. Maka Ali mendapat gemblengan Muhammad SAW yang melihat perbuatannya dan keluhuran budinya sampai belasan tahun kemudian ketika ia menjadi menantu Nabi dan menurunkan keturunan satu-satunya dari garis Muhammad SAW.

Memang Muhammad SAW memperlakukan Ali kecil secara khusus, agaknya memang mendasar. Ia mungkin mendambakan seorang putra dan mencurahkan rasa cintanya yang tidak habis-habis itu kepada anak-anak. Khadijah mungkin dia sendiri memerlukannya, memahami ini. Ini pula alasan ia menghadiahkan Zaid kepada Muhammad SAW. Ali nampaknya begitu kagum kepada Muhammad SAW, sampai ia kelak menunjukkannya dengan siap menjadi pembela dan pembantu Muhammad SAW, tatkala para pembesar Bani Hasyim mengejeknya dalam sidang yang terkenal itu.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved