Breaking News:

Polisi Tangkap Pembunuh Ibu Guru, Fitriani Dihabisi Aparat Desa karena Sakit Hati

Polres Aceh Barat berhasil menangkap pelaku pembunuhan terhadap Fitriani (56), ibu guru asal Desa Suak Timah, Kecamatan Samatiga

Editor: bakri
SERAMBI/SA’DUL BAHRI
Polisi memperlihatkan barang bukti kasus pembunuhan Fitriani (56), warga Desa Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, dalam jumpa pers di Mapolres setempat, Selasa (16/11/2021). 

MEULABOH - Polres Aceh Barat berhasil menangkap pelaku pembunuhan terhadap Fitriani (56), ibu guru asal Desa Suak Timah, Kecamatan Samatiga, kabupaten setempat. Pelaku yang mengeksekusi korban menggunakan batu besar seberat 30 kilogram (Kg) itu adalah Juni Husriadi bin Husen Ali (45). Juni yang ternyata aparat Desa Suak Timah (tepatnya Kepala Dusun Ketapang), itu ditangkap di rumahnya pada Senin (15/11/2021) siang.

Kapolres Aceh Barat, AKBP Andrianto Argamuda, didampingi Kasat Reskrim, AKP Parmohonan, dan Kapolsek Samatiga, Iptu P Panggabean, dalam konferensi pers di Mapolres setempat, Selasa (16/11/2021), mengatakan, pembunuhan itu dilakukan Juni Husriadi lantaran sakit hati kepada korban.

Selain membunuh Fitriani, pelaku juga membawa kabur emas milik korban sebanyak 60 mayam. Menurut pengakuan pelaku, sebagian dari emas itu berupa kalung sudah dibuangnya ke danau di kawasan tersebut beserta satu handphone (Hp) milik korban. Sedangkan emas yang masih tersisa dan berhasil diamankan polisi berupa gelang seberat 99,78 gram.

“Pelaku dikenakan Pasal 240 jo Pasal 338 dan Pasal 365 ayat (2) 1e dan ayat (3) KUHPidana, dengan ancaman hukuman mati atau atau penjara seumur hidup atau setinggi-tingginya 20 tahun penjara,” jelas Kapolres.

Diceritakan, pada Selasa (2/11/2021) sekitar pukul 16.30 WIB, pelaku bertemu dengan korban Fitriani (46) dimana saat itu pelaku sedang bermain layang-layang. Berawal dari itu, kemudian pelaku dan korban terlibat cekcok mulur dan korban Fitriani menurut pengakuan pelaku mengatakan bahwa "yang menaikkan layang semua PKI."  Kemudian pelaku menjawab, “Kenapa Kak Fitri ngomong begitu.” Lalu korban mengatakan, “Memang ya, semua orang yang menaikkan layang PKI.” Atas perkataan korban, pelaku merasa sakit hati.

Pada Rabu (3/11/2021) sekitar pukul 11.00 WIB, pelaku mengambil parang di rumahnya, lalu menuju rumah korban. Sesampai di belakang rumah Fitriani, pelaku melihat korban seorang diri sedang menjemur pakaian. Saat itu, pelaku berniat menggorok korban namun tidak jadi.

Ketika hendak pulang, pelaku kembali menanyakan kepada korban, "Kenapa Kak Fitri mengatakan PKI kepada saya.” Kemudian, korban menjawab, "Memang yang menaikkan layang itu PKI." Kemudian, pelaku mengatakan, "Tunggu ya kak saatnya nanti." Setelah itu, pelaku meninggalkan tempat tersebut. Namun, setiap malam pelaku selalu terngiang dengan kata-kata korban yang mengatakan dirinya PKI.

Kemudian, pada Kamis (4/11/2021) sekitar pukul 18.30 WIB, pelaku pergi shalat Magrib ke salah satu masjid di Desa Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat. Pada saat itu, suami korban yaitu Agusni, berada di masjid yang sama dengan pelaku. Karena melihat suami korban tidak pulang selesai menunaikan shlat Magrib, pelaku langsung meninggalkan masjid tersebut dan menuju rumah korban.

Sebelum masuk ke dalam, pelaku sempat mondar-mandir di depan ruman korban sebanyak 20 kali. Ketika pelaku melihat anak korban, Muhammad Syawal Nazril, keluar dari rumahnya, pelaku langsung memarkirkan sepeda motornya pada kios depan rumah korban. Lalu, pelaku masuk ke rumah korban melalui pintu samping setelah sebelumnya ia mengetuk pintu.

Korban yang mendengar suara ketukan pintu, lalu membukanya. Saat pintu dibuka, pelaku langsung memukul Fitriani menggunakan tangan kanannya. Saat itu, pelaku mengatakan, "Kamu lah yang mengatakan saya PKI." Setelah korban terjatuh, pelaku mengambil Hp korban dan menyimpan di saku celananya.

Kemudian, pelaku menarik korban dengan cara memegang leher dari belakang dan menyeretnya ke belakang rumah. Saat diseret pelaku, korban sempat mengatakan "Kamu memang PKI.” Pada saat itu, pelaku langsung melemparkan tubuh korban ke tanah dan kemudian Kepala Dusun tersebut mengambil kalung emas dan gelang korban yang saat itu sudah dalam kondisi tidak sadar.

Lalu, pelaku mengambil satu batu berukuran besar dengan berat 30 kilogram yang berada di tempat tersebut dan membantingkan ke kepala korban. Akibatnya, kepala korban pecah dan isi kepalanya terurai di tanah. Kemudian, pelaku meninggalkan tempat tersebut dan mengambil sepeda motornya yang diparkir di kios depan rumah korban. Setelah meletakkan gelang emas milik korban di jok sepeda motornya, pelaku langsung pulang ke rumahnya.

Dalam perjalanan pulang, pelaku berhenti di danau kecil (Suak) dan membuang handphone serta kalung emas korban ke danau tersebut. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke rumahnya. Sesampai di rumah, pelaku langsung mengganti pakaian.

Kasus tersebut baru terungkap sekitar 11 hari setelah polisi mendapatkan barang bukti dan keterangan dari saksi. Saat ini, pelaku sudah diamankan di Mapolres Aceh Barat guna menjalani proses hukum lebih lebih lanjut.

Polisi mengamankan tersangka bersama barang bukti berupa satu batu besar yang digunakan pelaku untuk membunuh korban, serta satu baju lengan panjang warna hitam dan satu celana kain warna hitam yang digunakan pelaku pada saat melakukan pembunuhan itu. Selain itu, satu sandal warna merah merk Ando, satu gelang emas kawat selisih ukir seberat 99,78 gram, dan satu baju daster warna hitam bermotif pelangi milik korban. (c45)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved